
Bareksa - Tim Analis Bareksa merilis tiga saham pilihan hari ini, 27 Februari 2026: PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO). Secara teknikal Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi bisa ditutup lebih tinggi hari ini.
Harga terakhir: Rp3.950 (-0,5%)
Entry: Rp3.920–3.950
Target: Rp4.050
Stop loss: Rp3.850
Strategi jangka pendek memanfaatkan potensi technical rebound.
Harga terakhir: Rp9.250 (0,27%)
Beli jika tembus: Rp9.350
Target: Rp9.800
Stop loss: Rp8.880
Menunggu konfirmasi penguatan sebelum masuk.
Harga terakhir: Rp2.320 (-2,11%)
Beli jika tembus: Rp2.430
Target: Rp2.570
Stop loss: Rp2.270
Cocok untuk strategi trading berbasis momentum.
Tabel Rekomendasi Saham Hari Ini
Stock Pick (Rp) | BBRI | AADI | ADRO |
|---|---|---|---|
Last Price | 3.950 | 9.250 | 2.320 |
Recommendation | Trading Buy | Buy on Breakout | Buy on Breakout |
Entry Range | 3.920-3.950 | 9.350 | 2.430 |
Take Profit (TP) | 4.050 | 9.800 | 2.570 |
Stop Loss | 3.850 | 8.880 | 2.270 |
Sumber: Tim Analis Bareksa, last price per 26/2/2026
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 1,04% ke level 8.235 pada Kamis (26/2/2025). Meski indeks melemah, menurut riset Ciptadana Sekuritas Asia (27/2/2025) investor asing masih mencatat beli bersih (net buy) sekitar Rp340 miliar.
Sektor yang paling menekan pasar adalah Transportasi & Logistik (-4,54%), Konsumer Siklikal (-2,59%), dan Infrastruktur (-2,41%). Beberapa saham yang paling membebani indeks antara lain IMPC yang turun 9,01% ke 2.020, MDKA turun 4,71% ke 3.640, dan BRPT turun 3,47% ke 1.950. Nilai tukar rupiah justru menguat 30 poin ke Rp16.755 per dolar AS.
Secara teknikal, pergerakan IHSG diperkirakan berada di kisaran 8.140 sebagai batas bawah (support) dan 8.373 sebagai batas atas (resistance), dengan peluang ditutup di level yang lebih tinggi pada hari ini (27/2/2025).
S&P Global Ratings memperingatkan bahwa lonjakan biaya pembayaran utang dapat meningkatkan risiko penurunan terhadap profil kredit kedaulatan Indonesia. Analis S&P, Rain Yin, menyatakan pembayaran bunga pemerintah sangat mungkin telah melampaui ambang batas kritis 15% dari total penerimaan negara tahun lalu.
Level ini selama ini dianggap sebagai tolok ukur kehati-hatian yang konsisten dijaga Indonesia. Jika rasio tersebut bertahan di atas 15% secara berkelanjutan, S&P dapat mengadopsi outlook yang lebih negatif terhadap peringkat kredit Indonesia.
Menurut analis Ciptadana, pemerintah perlu mempercepat reformasi pajak menyeluruh untuk meningkatkan rasio pajak. Selain itu, ketergantungan pada penerimaan berbasis komoditas perlu dikurangi karena fluktuasi harga global membuat pendapatan negara rentan terhadap siklus eksternal.
Pasar masih dibayangi sentimen peringatan fiskal dari S&P, namun peluang trading tetap terbuka. BBRI cocok untuk trading jangka pendek, sementara AADI dan ADRO menarik jika terjadi breakout. Disiplin pada target dan stop loss menjadi kunci.
1. Apa arti buy on breakout?
Beli saat harga menembus level resistance sebagai tanda tren naik berlanjut.
2. Kenapa asing beli tapi IHSG turun?
Karena tekanan dari beberapa saham besar masih lebih dominan.
3. Apakah sentimen S&P langsung berdampak besar?
Tidak selalu, tapi bisa memicu volatilitas jangka pendek di pasar saham dan obligasi.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
(Sigma Kinasih CTA, CFP/Christian Halim/AM)
* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist di PT Bareksa Marketplace Indonesia dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis makro, riset investasi, dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
Disclaimer
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.