Prospek Saham 2024 & Risiko yang Mesti Dicermati Investor Versi MAMI

Martina Priyanti • 20 Dec 2023

an image
Ilustrasi investasi di pasar keuangan seperti reksadana saham obligasi negara dan emas dengan latar kondisi ekonomi global yang digambarkan dengan bola dunia dan grafik investasi. (shutterstock)

MAMI menilai sektor communication services, financials, dan green energy mempunyai potensi ke depan

Bareksa.com - Tahun 2023 yang penuh kejutan di pasar keuangan akan segera berakhir. Nah, berikut ulasan mengenai pasar finansial 2023 dan juga potensi pasar saham hingga faktor risiko yang mestinya diwaspadai investor pada tahun depan.

Dalam ulasan pasar saham - Seeking Alpha Edisi Desember 2023, Caroline Rusli, Senior Portfolio Manager Equity MAMI menjelaskan pasar keuangan tahun ini seperti roller coaster, perbedaan yang mencolok antara ekspektasi dan realitas terutama di negara maju menjadi penyebab utama volatilitas pasar keuangan global, yang juga berdampak pada pasar keuangan domestik.

Menurutnya beberapa ekspektasi awal tahun makro ekonomi di negara maju – seperti resesi ekonomi Amerika, puncak Fed Funds Rate di 5% dan moderasi penguatan nilai tukar dolar Amerika, tidak terjadi di tahun 2023.

Lebih lanjut, masih kuatnya perekonomian Amerika membuat kebijakan The Fed atau bank sentral Amerika dipertahankan lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. Kondisi ini menyebabkan imbal hasil UST/ US Treasury 10 tahun bergerak liar, sempat naik di atas 5% yang merupakan level tertinggi sejak tahun 2007.

"Karena perannya yang penting dalam sistem keuangan global, lonjakan pada imbal hasil UST ini memiliki dampak besar terhadap likuiditas global, selera investasi, nilai tukar, dan kebijakan moneter bank sentral negara lain," kata Caroline.

Namun, ia melajutkan perkembangan terkini menjelang akhir tahun menunjukkan kondisi yang lebih kondusif di mana angka inflasi mereda dan perekonomian Amerika yang mulai melambat mendukung pandangan bahwa The Fed dapat menjadi lebih akomodatif.

Investasi Saham di Sini

Prospek Ekonomi 2024

Lalu bagaimana prospek perekonomian negara maju pada tahun 2024, apakah kesenjangan antara ekspektasi dan realitas ini bisa terjadi lagi?

Caroline mengatakan bahwa MAMI menilai bahwa risiko terkait kesenjangan antara ekspektasi dan realitas pada tahun 2024 akan lebih besar datang dari besarnya potensi penurunan Fed Funds Rate. Dot plot atau proyeksi suku bunga tahun 2024 yang dikeluarkan The Fed pada rapat FOMC bulan ini meski menunjukkan penurunan lebih dalam sebesar 75 basis poin dibandingkan proyeksi sebelumnya 50 basis poin.

Hanya saja, ia mengatakan potensi pemangkasan suku bunga tersebut tidak seagresif perkiraan pasar yang memperkirakan pemangkasan hingga 125 basis poin mulai bulan Maret 2024.
Lebih lanjuta Caroline menjelaskan bahwa narasi terkait prospek makro ekonomi negara maju di tahun 2024 yang berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi Amerika yang melambat dan inflasi yang lebih jinak mempunyai potensi besar untuk terjadi karena dipengaruhi oleh tingkat suku bunga yang sudah restriktif, tabungan era pandemi yang sudah tergerus dan normalisasi belanja di sektor jasa.

Investasi Saham di Sini
Prospek Perekonomian Indonesia 2024

Sementara itu mengenai prospek perekonomian Indonesia, ia menjelaskan bahwa domestik masih baik, di tengah potensi perlambatan ekonomi global, pertumbuhan Produk Domesti Bruto (PDB) Indonesia pada 2024 diperkirakan tetap stabil didukung oleh potensi meningkatnya belanja kampanye menjelang pilpres di bulan Februari dan Pilkada serentak di bulan November.

"Pesta demokrasi diharapkan dapat membantu memulihkan daya beli masyarakat, khususnya masyarakat bawah, melalui pencairan subsidi sosial yang lebih masif," kata Caroline.

Dari sisi inflasi, ia menjelaskan bahwa berlalunya dampak kenaikan harga BBM bersubsidi dan sinergi pengendalian inflasi yang baik antara Bank Indonesia/BI dan pemerintah baik pusat maupun daerah akan membuat inflasi tetap terkendali dan rendah. Potensi peralihan kebijakan moneter global yang lebih akomodatif di tahun depan membuka peluang bagi Bank Indonesia untuk menjadi lebih akomodatif.

Investasi Saham di Sini
Daya Tarik Saham 2024

Lalu, bagaimana daya tarik saham menjelang peralihan kebijakan moneter ke arah yang lebih akomodatif di tahun 2024?

Caroline mengatakan bahwa latar belakang makro yang lebih positif bagi dunia investasi menjelang peralihan kebijakan moneter global ke arah yang lebih akomodatif pada tahun 2024, memberikan katalis positif yang dapat membuka peluang valuasi saham dihargai lebih tinggi.

"Potensi pemangkasan suku bunga, stabilitas Rupiah dan meningkatnya aktivitas perekonomian ditopang oleh distribusi belanja kampanye diharapkan menjadi katalis yang dapat mendorong pasar saham Indonesia menguat lebih lanjut," kata Caroline.

Ia menyampaikan bahwa optimisme terhadap peningkatan aktivitas perekonomian pada tahun pemilu dan kondisi moneter yang lebih akomodatif diharapkan dapat memperbaiki konektivitas antara makro domestik yang baik dan aliran likuiditas ke pasar saham Indonesia. "Pertumbuhan pendapatan perusahaan diperkirakan masih tumbuh dengan kecepatan yang relatif sehat pada tahun 2024," imbuhnya.

Investasi Saham di Sini
Risiko yang Mesti Diwaspadai

Sementara itu mengenai faktor risiko yang perlu dicermati, Caroline menyampaikan ada sejumlah hal. Pertama, jika penurunan Fed Funds Rate lebih disebabkan oleh kemungkinan terjadinya resesi ekonomi, maka bisa terjadi flight to safety pada dolar Amerika sehingga Rupiah juga tidak langsung mendapatkan keuntungan dari penurunan suku bunga yang dilakukan oleh The Fed.

Kedua, keterbatasan fiskal AS dalam menopang perekonomian juga dapat menjadi faktor risiko bagi pasar finansial global, di mana sekitar 20% dari pertumbuhan PDB riil AS ditopang oleh belanja pemerintah yang berisiko mencapai limit maksimum pada bulan Jan/Feb 2024.

"Dan perlu diingat bahwa untuk mengimbangi dampak kenaikan suku bunga yang tinggi – hingga mencapai 525 basis poin – pemerintah menggelontorkan belanja pemerintah yang dibiayai oleh utang sehingga defisit fiskal terus bertumbuh tinggi," kata Caroline.

Ketiga, daya beli masyarakat segmen bawah dan menengah ke bawah dengan biaya hidup terus melonjak dengan tingkat yang lebih besar. "Bantuan sosial berupa beras dan uang tunai jelang pilpres diharapkan dapat membantu menopang perekonomian dalam jangka pendek," kata Caroline.

Keempat, meningkatnya tensi risiko geopolitik.

Investasi Saham di Sini

Sektor Potensial Positif

Lalu, sektor apa saja yang diunggulkan untuk memberikan alpha terhadap kinerja portofolio di masa depan? Caroline menjelaskan secara sektoral kami memiliki pandangan yang positif terhadap beberapa tema seperti:

■ Communication services

Sektor defensif diuntungkan dengan situasi persaingan yang kondusif, karena operator dapat menaikkan harga dan mendapatkan keuntungan dari dana kampanye pemilu serta potensi konsolidasi antar pemain, sehingga diperkirakan persaingan perang tarif akan terus mereda.

■ Financials

Pandangan yang lebih positif terutama pada perbankan besar yang tetap bisa mendapatkan funding dengan biaya bunga yang rendah di tengah mengetatnya likuiditas.

■ Green energy

Menangkap pertumbuhan struktural di bidang energi terbarukan. Transisi menuju era dekarbonisasi menguntungkan bagi Indonesia yang kaya akan komoditas yang digunakan dalam teknologi energi baru terbarukan.

(Martina Priyanti)

***

Ingin berinvestasi aman di saham dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER​​​​​

Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.