
Bareksa - Investor saham sedang melewati tahun yang berat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 5.185,11 pada 16 Oktober 2026, atau turun sekitar 40% sejak awal tahun (year to date). Tekanan terbaru datang setelah MSCI membuka konsultasi publik atas usulan perubahan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Keputusan finalnya baru diumumkan paling lambat akhir Juni 2027, tetapi pasar sudah bereaksi lebih dulu.
Dalam kondisi seperti ini, wajar jika banyak investor bertanya: adakah pilihan dengan pergerakan yang lebih tenang, tanpa harus meninggalkan pasar modal sama sekali? Salah satu jawabannya adalah reksa dana pendapatan tetap yang isinya obligasi korporasi.
Harga saham bergerak mengikuti sentimen pasar hampir setiap hari. Berbeda dengan obligasi dan sukuk, penerbitnya berkewajiban untuk membayar kupon, yaitu imbal hasil berkala, dan mengembalikan pokok saat jatuh tempo. Oleh karena itu bagi nasabah ataupun reksa dana yang memegang surat utang tersebut, kupon menjadi sumber return yang terus berjalan.
Bukan berarti obligasi bebas risiko. Dari sisi harga, harga obligasi bisa turun juga dipengaruhi supply dan demand dari obligasi. Namun, harga obligasi cenderung lebih sensitif terhadap kebijakan suku bunga, dan risiko kredit jika penerbit gagal memenuhi kewajibannya. Namun karena sumber return utamanya adalah kupon, pergerakan NAB reksa dana pendapatan tetap umumnya lebih kalem dibanding indeks saham. Itu sebabnya jenis reksa dana ini sering dipertimbangkan sebagai penyeimbang saat pasar saham tidak menentu.
Dampak dari sentimen proposal MSCI terhadap pasar obligasi cenderung lebih terbatas dibandingkan pasar saham. Pergerakan harga obligasi dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk supply dan demand, ekspektasi suku bunga serta risiko kredit (gagal bayar) dari penerbit. Oleh karena itu, pelemahan dari sisi obligasi, sebagai yield SBN tenor 10 tahun hanya naik 15 bps menjadi 7,36%. Sentimen ini tentu dapat mempengaruhi pergerakan harga obligasi, namun secara tidak langsung, terutama melalui potensi pelemahan nilai tukar rupiah yang akan mempengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga oleh Bank Sentral.
Selain itu, berbeda dengan saham, penerbit obligasi dan sukuk berkewajiban untuk membayar kupon, yaitu imbal hasil berkala, dan mengembalikan pokok saat jatuh tempo. Oleh karena itu bagi nasabah ataupun reksa dana yang memegang surat utang tersebut, kupon menjadi sumber return yang terus berjalan, terutama pada obligasi/ sukuk korporasi yang cenderung menawarkan kupon yang atraktif. Oleh karena itu, pergerakan NAB reksa dana pendapatan tetap umumnya lebih kalem dibanding indeks saham. Itu sebabnya jenis reksa dana ini sering dipertimbangkan sebagai penyeimbang saat pasar saham tidak menentu.
Sebagai gambaran, pada September 2026 yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik 11,9 bps ke 7,144%, dan The Fed menaikkan suku bunga 25 bps ke kisaran 3,75–4,00%. Meski begitu, reksa dana pendapatan tetap Trimegah Dana Obligasi Nusantara tetap mencatat kinerja positif 0,47% pada bulan tersebut, menurut fund fact sheet per 30 September 2026.
Nilai investasi reksa dana tercermin dari Nilai Aktiva Bersih (NAB) per unit. Bagi investor yang sensitif terhadap fluktuasi, ada dua hal yang perlu dilihat: seberapa lebar rentang pergerakannya, dan ke mana arah besarnya.
Untuk Trimegah Dana Obligasi Nusantara, data Bareksa menunjukkan NAB per unit dalam 12 bulan terakhir bergerak di rentang 1.191 hingga 1.260. Per 19 Oktober 2026, NAB berada di 1.256,72, hampir menyentuh titik tertingginya dalam periode itu. Penurunan memang pernah terjadi, tetapi relatif kecil dan tidak berlangsung lama, sementara arah besarnya tetap naik seperti anak tangga.
Grafik Pergerakan NAB Reksa Dana TDON 1 Tahun
Pola ini bukan jaminan. NAB tetap bisa turun, misalnya saat yield obligasi naik atau terjadi masalah pada penerbit. Fund fact sheet mengategorikan reksa dana ini berisiko sedang, dengan risiko antara lain wanprestasi (kredit), likuiditas, serta perubahan kondisi ekonomi dan politik. Karena itu, pahami profil risiko kamu sebelum membeli.
Trimegah Dana Obligasi Nusantara adalah reksa dana pendapatan tetap yang dikelola PT Trimegah Asset Management, manajer investasi berizin dan diawasi OJK. Kebijakan investasinya menempatkan 80%–100% dana pada obligasi dan sukuk, serta 0%–20% pada pasar uang dan/atau ekuitas. Per 30 September 2026, 96,21% portofolio berada di obligasi dan seluruh penerbitnya berada di dalam negeri.
Menurut data Bareksa per 19 Oktober 2026, reksa dana ini mencatat return 3 bulan sebesar 2,67%, tertinggi di kategori reksa dana pendapatan tetap di Bareksa. Angka itu hampir separuh dari return 1 tahunnya yang sebesar 5,50%, sehingga momentum kinerjanya belakangan ini tergolong kuat.
Berikut lima efek terbesar dalam portofolio per 30 September 2026:
Obligasi Berkelanjutan I Bumi Tahap III Tahun 2025
Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry Tahap II Tahun 2025 Seri B
Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I Dian Swastatika Sentosa Tahap IV Tahun 2025 Seri B
Sukuk Wakalah Berkelanjutan I Petrindo Jaya Kreasi Tahap I Tahun 2025 Seri B
Obligasi Berkelanjutan II Oki Pulp & Paper Mills Tahap IV Tahun 2026 Seri A
Enam dari sepuluh efek terbesar berasal dari penerbit sektor pulp and paper, di antaranya Lontar Papyrus, Pindo Deli, dan Indah Kiat. Sektor ini memang penerbit sukuk korporasi terbesar di Indonesia, sehingga komposisi tersebut mencerminkan struktur pasarnya. Konsentrasi pada sektor tertentu tetap perlu dipahami sebagai bagian dari risiko.
Reksa dana ini dapat dibeli melalui Bareksa dengan minimum pembelian awal Rp100.000. Masuk ke aplikasi Bareksa, cari “Trimegah Dana Obligasi Nusantara” di menu reksa dana, yang mudah dicari karena produk ini masuk ke daftar nilai Barometer terbaik. Kemudian, tentukan nominal pembelian, lalu selesaikan pembayaran. Jangan lupa baca prospektus dan fund fact sheet sebelum membeli.
Saat pasar saham tertekan, investor tidak harus memilih antara berspekulasi dan menunggu. Reksa dana pendapatan tetap berbasis obligasi korporasi bisa melengkapi portofolio, dengan sumber return dari kupon dan risiko yang tetap perlu dipahami. Trimegah Dana Obligasi Nusantara mencatat return 3 bulan 2,67% dan 1 tahun 5,50% per 19 Oktober 2026. Pelajari produknya, sesuaikan dengan profil risiko Anda, dan mulai berinvestasi lewat Bareksa.
Beli Trimegah Dana Obligasi Nusantara
(ADV)
* * *
DISCLAIMER
Konten bersponsor. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.
Reksa dana pendapatan tetap yang dikelola PT Trimegah Asset Management dan berinvestasi 80%–100% pada obligasi dan sukuk, dengan kategori risiko sedang.
Sumber return utamanya adalah kupon dari obligasi dan sukuk, bukan pergerakan harga saham. NAB tetap bisa turun, misalnya saat yield naik atau penerbit gagal bayar.
Menurut fund fact sheet, antara lain risiko berkurangnya NAB per unit, wanprestasi (kredit), likuiditas, perubahan peraturan, serta perubahan kondisi ekonomi dan politik.
Minimum pembelian awal Rp100.000, dapat dibeli lewat Bareksa. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa depan.