
Bareksa - Yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) tenor 10 tahun kembali bergerak mendekati level 5% pada pertengahan September 2026. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya risiko inflasi dan ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi, seiring gejolak perang yang masih membayangi pasar global. Kondisi ini berpotensi menekan harga obligasi dan meningkatkan volatilitas di pasar Reksa Dana Pendapatan Tetap, termasuk di Indonesia.
Namun, di sisi domestik, kondisinya relatif lebih terjaga. Sepanjang Agustus 2026, yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun justru turun 31,1 basis poin ke level 7,025%. Bank Indonesia (BI) juga mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur Agustus 2026, RDG perdana di bawah kepemimpinan Destry Damayanti sebagai Pejabat Gubernur Sementara BI, sejalan dengan ekspektasi pasar. Rupiah pun menguat 1,58% MoM ke posisi Rp17.720 per dolar AS pada akhir Agustus 2026. Bagaimana strategi untuk investor Reksa Dana di Indonesia?
Menyikapi kondisi ini, tim analis Bareksa merekomendasikan investor Reksa Dana Pendapatan Tetap untuk memprioritaskan produk yang portofolionya didominasi obligasi korporasi bertenor pendek, di bawah 3 tahun. Strategi ini bertujuan mengurangi sensitivitas portofolio terhadap kenaikan yield, sekaligus tetap memberikan potensi return dari kupon obligasi yang dipegang.
Sebagai pelengkap, diversifikasi ke Reksa Dana Pasar Uang juga disarankan sebagai penyeimbang portofolio, mengingat karakter produk ini yang lebih likuid dan minim sensitivitas terhadap pergerakan yield. Di sisi lain, tim analis Bareksa menyarankan investor untuk tidak terlalu agresif menambah alokasi pada obligasi berdurasi panjang, setidaknya sampai yield global menunjukkan tanda-tanda stabil.
Grafik Yield Obligasi RI Tenor 10 Tahun
Salah satu produk yang sesuai dengan strategi tersebut adalah Trimegah Dana Obligasi Nusantara (TDON), Reksa Dana Pendapatan Tetap yang dikelola oleh PT Trimegah Asset Management. TDON dipilih tim analis Bareksa karena portofolionya mayoritas berisi obligasi korporasi dengan rating berkualitas.
Berdasarkan Fund Fact Sheet per 31 Agustus 2026, alokasi aset TDON terdiri dari 96,73% obligasi dan 3,27% instrumen lainnya, dengan kebijakan investasi 80-100% pada obligasi dan 0-20% pada pasar uang dan/atau ekuitas. Seluruh portofolio, atau 100%, ditempatkan pada instrumen dalam negeri. Sepuluh alokasi aset terbesar TDON antara lain obligasi dan sukuk dari emiten seperti Bumi Resources, Dian Swastatika Sentosa, Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry, Petrindo Jaya Kreasi, OKI Pulp & Paper Mills, hingga Merdeka Battery Materials, dengan porsi masing-masing berkisar 2,90%-7,22% dari total portofolio.
Nilai Aktiva Bersih (NAB) per unit TDON tercatat Rp1.248,68 per 31 Agustus 2026, naik dari Rp1.228,78 pada bulan sebelumnya, dengan total dana kelolaan mencapai Rp188,60 miliar.
Data Bareksa per 11 September 2026 mencatat kinerja TDON setahun terakhir mencapai 6,47%. Sementara dalam sebulan terakhir sudah 1,17%, yang menunjukkan rebound dari tekanan di pasar obligasi sebelumnya.
Dari sisi penilaian, TDON turut memperoleh skor Barometer Bareksa 5 dari skala 5, skor tertinggi yang mencerminkan penilaian menyeluruh atas kinerja historis produk. Perlu dicatat, kinerja masa lalu tidak menjamin atau mencerminkan kinerja di masa mendatang.
Investor dapat mulai berinvestasi di TDON melalui platform Bareksa dengan minimum investasi awal Rp100.000. Proses pembelian, penjualan kembali, maupun pengalihan unit penyertaan dapat dilakukan secara online, dengan NAB yang diperbarui setiap hari kerja.
Di tengah tekanan yield obligasi AS yang kembali mendekati 5%, strategi memilih Reksa Dana Pendapatan Tetap dengan portofolio obligasi korporasi bertenor pendek dan rating berkualitas menjadi salah satu cara mengelola risiko volatilitas. TDON, dengan alokasi mayoritas pada obligasi korporasi domestik dan skor Barometer Bareksa 5/5, menjadi salah satu pilihan yang bisa dipertimbangkan investor untuk melengkapi strategi tersebut.
Beli Trimegah Dana Obligasi Nusantara
(ADV)
* * *
DISCLAIMER
Konten bersponsor. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.
TDON (Trimegah Dana Obligasi Nusantara) adalah Reksa Dana Pendapatan Tetap yang dikelola oleh PT Trimegah Asset Management, dengan mayoritas portofolio berupa obligasi dan sukuk korporasi dalam negeri berkualitas.
Kenaikan yield acuan global cenderung diikuti kenaikan yield di pasar domestik, yang menyebabkan harga obligasi turun dan berpotensi menekan NAB reksa dana berbasis obligasi, terutama yang portofolionya bertenor panjang.
Tim analis Bareksa merekomendasikan memprioritaskan obligasi korporasi bertenor pendek (di bawah 3 tahun) untuk mengurangi sensitivitas terhadap kenaikan yield, dan mendiversifikasi dengan Reksa Dana Pasar Uang sebagai penyeimbang.
Per 11 September 2026, TDON mencatat return 1,17% dalam 1 bulan dan 6,47% dalam 1 tahun, dengan skor Barometer Bareksa 5 dari skala 5.
Investor dapat membeli TDON melalui platform Bareksa dengan minimum investasi awal Rp100.000, dan transaksi dapat dilakukan secara online.