Asing Borong Saat IHSG Rebound, Reksa Dana Campuran Sucor Ikut Terdorong

Hanum Kusuma Dewi • 24 Aug 2026

an image
Ilustrasi manajer investasi mengelola reksa dana campuran Sucorinvest Anak Pintar. Photo by Yan Krukau: Pexels

IHSG mencetak kenaikan bulanan terbaik sejak September 2010, Reksa Dana Sucorinvest Anak Pintar sudah overweight ke saham-saham bank dan punya alokasi obligasi korporasi.

Bareksa - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang Juli mencatatkan kenaikan bulanan terbaik sejak September 2010, di kisaran 10%. Yang menarik dari rally ini bukan cuma soal angka indeks, tapi soal siapa yang mendorongnya: sepanjang Juli, investor asing tercatat melakukan pembelian bersih sekitar Rp1,3 triliun di saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan sekitar Rp400 miliar di PT Timah Tbk (TINS). Kedua saham tersebut bukan kebetulan berada di antara saham paling likuid dan berkapitalisasi besar di bursa.

Pola ini biasa terjadi setiap kali pasar mulai bangkit dari koreksi tajam. Dana asing yang keluar duluan saat sentimen memburuk, biasanya juga yang masuk duluan saat sentimen membaik. Bagi investor global, pilihan pertama cenderung masuk ke saham-saham besar dan likuid, bukan saham lapis kedua atau ketiga.

Kenapa Saham Bank Besar dan Komoditas Jadi Favorit Duluan

Ada alasan teknis di balik pola ini. Pertama, soal likuiditas: dana asing dalam jumlah besar butuh saham yang bisa dibeli dan dijual cepat tanpa mengguncang harga terlalu jauh, dan hanya segelintir saham di IHSG yang punya kapitalisasi dan volume perdagangan sebesar BMRI, BBRI, atau BBCA. Kedua, soal valuasi: setelah koreksi tajam di awal tahun, harga saham-saham ini sempat tertekan jauh dari nilai wajarnya, sehingga rebound membuatnya kembali menarik dibanding saat harga sedang di puncak. Ketiga, sensitivitas terhadap arah suku bunga: saham bank diuntungkan ganda saat ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter menguat — biaya dana yang lebih rendah di satu sisi, dan prospek permintaan kredit yang membaik di sisi lain seiring aktivitas ekonomi yang berangsur pulih.

Bayangkan dana asing seperti pembeli yang baru kembali ke sebuah kawasan pertokoan setelah sempat sepi karena krisis. Toko besar dan sudah punya nama biasanya jadi tujuan pertama karena dianggap paling aman, baru setelah kepercayaan makin kuat, pembeli mulai berani mampir ke toko-toko yang lebih kecil.

Cara Bijak Menyikapi Rebound, Bukan Sekadar Ikut Arus

Bagi investor ritel, rebound seperti ini menggoda untuk langsung all-in di saham yang sedang naik. Ada dua jebakan umum. Pertama, membeli setelah kenaikan sudah berjalan jauh alias FOMO, sehingga margin keamanan yang seharusnya didapat dari rebound sudah menipis. Kedua, menaruh semua dana di satu atau dua saham favorit asing, padahal arah rebound bisa berbalik cepat kalau sentimen makro berubah — misalnya bila data inflasi atau arah suku bunga meleset dari ekspektasi pasar.

Salah satu cara mendapat eksposur ke momentum ini tanpa menanggung risiko konsentrasi adalah lewat instrumen yang sudah terdiversifikasi dan punya bantalan risiko bawaan, bukan sekadar saham individual. Kebutuhan untuk ikut menangkap penguatan pasar tanpa kehilangan bantalan saat arah berbalik, itulah yang membuat reksa dana campuran relevan dibahas saat ini.

Sucorinvest Anak Pintar: Portofolio yang Sudah Ada di Jalur Rebound

Salah satu contohnya adalah Sucorinvest Anak Pintar (RDSAP), reksa dana campuran dari PT Sucorinvest Asset Management (Sucor AM). Dari sisi portofolio, RDSAP memiliki alokasi pada instrumen saham kisaran 73,71% dan overweight di sejumlah nama yang justru sedang jadi favorit asing saat ini, yaitu: Bank Mandiri (9,05%) dan Bank Rakyat Indonesia (7,31%) di sisi perbankan, ditambah Timah (8,31%) di sisi komoditas, berdasarkan data alokasi efek yang tertera di Fund Fact Sheet Reksa Dana per akhir Juli 2026. Positioning ini membuat RDSAP relevan untuk profil risiko moderat hingga moderat-agresif yang ingin ikut arus rebound tanpa menanggung risiko sepenuhnya di saham individual — dapat menjadi salah satu alternatif untuk dipertimbangkan sesuai tujuan investasi dan profil risiko masing-masing investor.

Obligasi Korporasi sebagai Bumper, Bukan SBN

Yang membedakan reksa dana campuran dari investasi saham langsung adalah porsi kelas asetnya yang fleksibel dengan besaran 1-79% di masing-masing kelas saham, obligasi dan pasar uang. Untuk menjaga risiko lebih rendah dari saham, RDSAP menaruh sekitar 22,50% portofolio per akhir Juli 2026 di obligasi korporasi, termasuk obligasi dari emiten seperti Indah Kiat Pulp & Paper dan Provident Investasi Bersama. Obligasi korporasi ini tidak seperti Surat Berharga Negara (SBN) yang harganya di pasar sekunder cenderung lebih volatil terhadap perubahan ekspektasi suku bunga BI dan yield global, sehingga nilainya bisa berfluktuasi cukup tajam dalam jangka pendek. 

*Angka dibulatkan, sumber: Fund Fact Sheet Reksa Dana Juli 2026

Obligasi korporasi yang dipilih dengan cermat, terutama yang punya kupon tetap dan jatuh tempo yang jelas, cenderung memiliki risiko yang lebih terukur dari sisi pergerakan harga, dan tetap membawa risiko kredit spesifik pada masing-masing penerbit yang perlu diperhitungkan. Kombinasi inilah yang berfungsi sebagai “bumper”: saat rebound saham berlanjut, serta era suku bunga kembali turun maka kinerja portofolio ikut terangkat; saat sentimen berbalik, porsi obligasi berfungsi sebagai diversifikasi dengan volatilitas relatif lebih rendah dibandingkan IHSG.

Obligasi Korporasi vs SBN: Karakteristik Umum

Sumber: Bareksa

Aspek
Obligasi Korporasi
SBN (Surat Berharga Negara)

Risiko utama

Risiko kredit penerbit

Risiko negara, umumnya dianggap sangat rendah

Sensitivitas ke suku bunga/yield global

Relatif lebih rendah terutama jika dipegang sampai jatuh tempo, namun harga tetap bisa berfluktuasi seiring dengan kebijakan BI rate dan yield global

Cenderung lebih tinggi; harga bisa berfluktuasi seiring ekspektasi BI rate dan yield global

Kupon/yield

Umumnya lebih tinggi, sebagai kompensasi risiko kredit

Umumnya lebih rendah, mencerminkan risiko yang lebih kecil

Likuiditas pasar sekunder

Bervariasi, tergantung penerbit dan tenor

Umumnya lebih likuid dan lebih mudah diperjualbelikan

Kinerja dan Skala Dana

Soal kinerja, RDSAP mencatatkan return +21,92% dalam setahun terakhir per 12 Agustus 2026, menurut data Bareksa. Angka tersebut menunjukkan pemulihan yang cukup tajam mengingat performa year-to-date reksa dana ini sempat berada di teritori negatif akibat koreksi dalam di awal tahun. Pola ini konsisten dengan cerita rebound yang sedang dibahas: dana yang sempat tertekan tajam kini ikut terangkat seiring pemulihan pasar, meski catatan year-to-date yang masih negatif tetap perlu jadi pertimbangan, bukan bagian yang disembunyikan.

Sumber: Bareksa

Dari sisi skala, dana kelolaan RDSAP tercatat Rp391,76 miliar per Juli 2026, dengan bank kustodian PT Bank HSBC Indonesia. Sementara itu, minimum investasi awal Rp100.000 melalui Bareksa, sehingga relatif terjangkau untuk investor yang baru mulai membangun portofolio campuran. Fund ini sudah berjalan sejak Februari 2017, sehingga sudah melewati beberapa siklus naik-turun pasar.

Momentum Bisa Dimanfaatkan, Tapi Sesuaikan dengan Profil Risiko

Rebound IHSG dan arus balik asing ke saham-saham besar adalah sinyal yang nyata, tapi bukan jaminan arah pasar ke depan. Pelajaran utamanya sederhana: momentum bisa dimanfaatkan, tapi caranya perlu disesuaikan dengan profil risiko masing-masing, salah satunya lewat instrumen yang punya diversifikasi, bukan sekadar mengejar saham yang paling ramai dibicarakan. Reksa dana campuran seperti Sucorinvest Anak Pintar adalah salah satu cara untuk melakukannya, sesuai tujuan investasi dan profil risiko investor.

Beli Sucorinvest Anak Pintar

(ADV | hm)

* * * 

Disclaimer

Konten bersponsor. Kinerja masa lalu tidak menjamin/ mencerminkan indikasi kinerja di masa yang akan datang. Investasi Reksa Dana mengandung risiko. Calon investor/investor wajib membaca dan memahami prospektus dan informasi ringkas Produk Investasi (Fund Fact Sheet) sebelum berinvestasi Reksa Dana. Dalam melakukan transaksi jual dan beli Reksa Dana, calon investor/investor diharapkan memperhatikan profil risiko, kondisi keuangan serta tujuan investasi dari masing-masing calon investor/investor.

Pertanyaan Umum

Apa itu reksa dana campuran?

Reksa dana campuran adalah reksa dana yang portofolionya dialokasikan ke lebih dari satu jenis aset, biasanya kombinasi saham dan obligasi, sesuai batasan yang diatur dalam kebijakan investasi masing-masing produk. Kombinasi ini bertujuan memberi potensi pertumbuhan dari saham sekaligus bantalan dari obligasi, sehingga volatilitasnya umumnya lebih rendah dibanding reksa dana saham murni, meski tetap lebih fluktuatif dibanding reksa dana pendapatan tetap atau pasar uang.

Kenapa investor asing biasanya membeli saham bank besar duluan saat pasar mulai rebound?

Karena saham bank besar umumnya memiliki likuiditas dan kapitalisasi pasar yang besar, sehingga mudah dibeli dalam jumlah besar tanpa mengguncang harga secara drastis. Saham-saham ini juga sensitif terhadap ekspektasi suku bunga, sehingga sering menjadi pilihan pertama saat sentimen makro membaik, sebelum dana mulai merambah ke saham-saham yang lebih kecil.

Apakah return +21,92% RDSAP dalam setahun terakhir menjamin kinerja yang sama di masa depan?

Tidak. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan atau menjamin kinerja di masa mendatang. Angka tersebut juga perlu dilihat bersama catatan year-to-date yang sebelumnya masih negatif, yang menunjukkan bahwa fund ini sempat melewati periode koreksi cukup dalam sebelum pulih. Calon investor tetap perlu membaca prospektus dan fund fact sheet, serta menyesuaikan keputusan dengan profil risiko masing-masing.

Profil Penulis

Hanum Kusuma Dewi

Hanum Kusuma Dewi adalah seorang penulis dengan spesialisasi pada topik bisnis, keuangan, dan investasi termasuk reksa dana, saham, SBN hingga emas. Dengan latar belakang pendidikan di bidang komunikasi dan pengalaman 8+ tahun di pasar modal, Hanum juga melakukan riset untuk membuat konten yang mena