
Bareksa – Lima Exchange Traded Fund (ETF) Emas yang baru hadir di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengawali perdagangan dengan kinerja Nilai Aktiva Bersih atau NAV yang positif.
Berdasarkan data Bareksa per 10 Agustus 2026, return NAV kelima produk berada di kisaran 1,86% hingga 1,94%.
BRI MI Gold ETF Syariah (XDES) mencatat return NAV tertinggi 1,94%, disusul Trimegah Syariah ETF Emas (XTRA) 1,92%, Mandiri ETF Emas (XMES) 1,90%, Syailendra ETF Sharia Gold (XSGO) 1,87%, dan Premier ETF Gold Sharia Indonesia (XGLD) 1,86%.
Namun, selisih antara posisi tertinggi dan terendah baru 0,08 poin persentase. Usia perdagangan yang masih sangat singkat membuat angka tersebut belum cukup untuk menyimpulkan satu ETF lebih unggul secara konsisten.
Kinerja Awal 5 ETF Emas
Produk | NAV per 10/8/2026 | Return NAV |
BRI MI Gold ETF Syariah (XDES) | 982 | 1,94% |
Trimegah Syariah ETF Emas (XTRA) | 253 | 1,92% |
Mandiri ETF Emas (XMES) | 772 | 1,90% |
Syailendra ETF Sharia Gold (XSGO) | 1.040 | 1,87% |
Premier ETF Gold Sharia Indonesia (XGLD) | 256 | 1,86% |
Sumber: Bareksa, data 10 Agustus 2026.
Sumber: Bareksa
Momentum peluncuran lima ETF Emas pada 10 Agustus 2026 berlangsung ketika harga emas global kembali menunjukkan penguatan.
Harga emas spot naik 2,44% pada 7 Agustus 2026, kembali menguat 1,60% ke US$4.402,46 per troy ounce pada 10 Agustus, lalu sempat menyentuh US$4.435,33/oz secara intraday pada 11 Agustus.
Berdasarkan data historis yang dihimpun Bareksa, level US$4.435,33/oz merupakan yang tertinggi sejak 5 Juni 2026. Meski demikian, emas kemudian terkoreksi ke kisaran US$4.363/oz pada perdagangan siang 11 Agustus, menunjukkan volatilitas tetap tinggi.
Jadi, kinerja positif awal ETF Emas memang memperoleh dukungan dari penguatan aset dasarnya, tetapi arah berikutnya tetap bergantung pada pergerakan emas global, kurs, dan kondisi pasar.
Salah satu alasannya adalah struktur portofolio yang diatur OJK. POJK Nomor 2 Tahun 2026 mewajibkan ETF Emas menempatkan minimum 95% dari NAB pada aset emas. Sisanya maksimal 5% dapat ditempatkan pada instrumen pasar uang, deposito, kas, dan setara kas.
Karena sebagian besar aset kelima ETF sama-sama harus memiliki eksposur tinggi terhadap emas, pergerakan NAV secara alami berpotensi berdekatan.
Namun, dalam jangka lebih panjang, return masing-masing ETF tetap dapat berbeda karena faktor biaya, likuiditas, bid-offer spread, efektivitas dealer partisipan, dan tracking error.
Ini bagian yang paling penting untuk investor baru. Pada ETF Emas ada tiga harga yang berbeda fungsi:
Jenis Harga | Artinya |
Harga emas | Nilai aset dasar yang menjadi penggerak utama ETF |
NAV/NAB per unit | Nilai aset bersih ETF per unit penyertaan |
Harga ETF di BEI | Harga transaksi aktual di pasar |
Sumber: POJK 2 Tahun 2026, prospektus ETF Emas, diolah Bareksa
Ketiganya berhubungan, tetapi tidak harus sama pada saat yang sama. POJK mengatur nilai pasar wajar emas dapat mengacu pada harga aktif penyedia emas, harga acuan LBMA dengan penyesuaian kurs dan kemurnian, atau harga lembaga penilai yang ditentukan OJK.
Sementara harga ETF di pasar sekunder terbentuk melalui permintaan dan penawaran investor. Artinya, ETF seharga Rp250 per unit tidak otomatis lebih murah dibanding ETF Rp1.000 per unit. Nominal satu unit tidak menunjukkan murah-mahalnya ETF. Investor perlu melihat apakah harga pasar diperdagangkan dekat dengan NAV, seberapa tipis spread, dan seberapa likuid transaksinya.
Setelah data perdagangan mulai lebih panjang, investor sebaiknya tidak hanya mengurutkan ETF berdasarkan return. Indikator yang lebih relevan antara lain:
Indikator | Kenapa Penting? |
Tracking terhadap emas | Mengukur kemampuan ETF mengikuti aset dasarnya |
Harga pasar vs NAV | Menunjukkan premium atau diskon |
Bid-offer spread | Menjadi biaya implisit transaksi |
Volume perdagangan | Memberi gambaran likuiditas |
AUM | Menggambarkan skala produk |
Biaya | Mempengaruhi hasil jangka panjang |
Dealer partisipan | Menjaga creation/redemption dan likuiditas |
Sumber: POJK 2 Tahun 2026, prospektus ETF Emas, BEI, diolah Bareksa
Belum tentu. Return NAV 1,94% pada XDES memang tertinggi pada data awal, tetapi selisihnya sangat tipis dan horizon pengamatannya terlalu pendek.
Dalam beberapa bulan ke depan, kualitas ETF justru akan lebih terlihat dari kemampuannya menjaga tracking terhadap emas, likuiditas, spread, serta efisiensi biaya.
Lima ETF Emas mengawali kehadirannya dengan return NAV positif di kisaran 1,86-1,94%, dengan XDES sementara mencatat return tertinggi. Namun, investor sebaiknya tidak berhenti pada ranking return. ETF Emas bukan cuma soal harga emas. Investor harus membaca tiga harga sekaligus — harga emas, NAV, dan harga ETF di Bursa. Selisih antar ketiganya, ditambah spread, likuiditas, dan biaya, pada akhirnya akan menentukan pengalaman dan hasil investasi yang diterima investor.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
(Romainah/Reynaldi Gumay/AM)
***
DISCLAIMER
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
XDES sebesar 1,94% per 10 Agustus 2026.
Tidak selalu. NAV mencerminkan nilai aset bersih, sementara harga ETF di BEI dibentuk melalui permintaan dan penawaran.
Belum tentu. Harga nominal per unit tidak menunjukkan valuasi murah atau mahal.
Karena regulasi mewajibkan minimum 95% NAB ETF Emas ditempatkan pada aset emas.
Tracking terhadap emas, spread, volume transaksi, NAV, biaya, dan likuiditas.