
Bareksa - Manulife Investment Management (Manulife IM) memperkirakan pertumbuhan pasar global pada semester II 2026 akan semakin tidak merata.
Ketidakpastian geopolitik, inflasi yang masih tinggi, serta sikap bank sentral yang cenderung tetap hawkish membuat investor perlu lebih selektif dalam memilih aset.
Di tengah kondisi tersebut, Manulife melihat peluang menarik pada saham dan obligasi Asia yang didukung tema struktural seperti artificial intelligence (AI), semikonduktor, dan ketahanan energi domestik.
Memasuki semester II 2026, Manulife IM menilai kondisi ekonomi global masih dipengaruhi oleh konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, serta tingginya harga energi dan komoditas.
Menurut Yuting Shao, Senior Global Macro Strategist Manulife IM, ekspektasi bahwa bank sentral akan melakukan pelonggaran moneter secara serentak mulai berubah.
Sebaliknya, tekanan harga energi membuat banyak bank sentral mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer) guna mengendalikan inflasi.
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan berlangsung tidak merata. Negara-negara yang memiliki ketahanan energi domestik serta memperoleh manfaat dari perkembangan teknologi dinilai lebih mampu bertahan dibanding negara lain.
Dalam kondisi pasar yang semakin kompleks, Manulife IM menilai strategi investasi pasif menjadi kurang optimal.
Luke Browne, Global Head of Multi-Asset Solutions, mengatakan investor perlu menerapkan alokasi aset yang lebih selektif dan terdiversifikasi.
Menurutnya, kepemimpinan pasar saham ke depan diperkirakan tidak lagi hanya didominasi saham teknologi berkapitalisasi besar, tetapi juga meluas ke berbagai aset berkualitas dengan valuasi yang lebih menarik.
Manulife juga melihat peluang pada:
komoditas yang mendukung pembangunan infrastruktur AI,
instrumen kredit dengan imbal hasil menarik,
obligasi berdurasi pendek untuk mengurangi risiko kenaikan suku bunga.
Manulife tetap mempertahankan pandangan positif terhadap saham Asia pada semester II 2026.
Menurut June Chua, Head of Asia Equities, prospek laba perusahaan di kawasan Asia diperkirakan membaik seiring:
pemulihan ekonomi yang lebih luas,
kondisi keuangan yang lebih longgar,
pertumbuhan industri berbasis AI.
Di Tiongkok, peluang investasi dinilai menarik pada sektor:
artificial intelligence (AI),
semikonduktor,
manufaktur berteknologi tinggi,
peralatan kelistrikan.
Sementara itu, Taiwan dan Korea Selatan diperkirakan terus memperoleh manfaat dari pertumbuhan ekosistem AI global.
Untuk kawasan ASEAN, Manulife menilai penguatan permintaan domestik serta koordinasi kebijakan pemerintah dapat mendukung pemulihan ekonomi, meski tantangan jangka pendek masih ada.
Selain saham, Manulife juga melihat peluang pada pasar obligasi Asia. Murray Collis, Head of Asia Fixed Income, menilai obligasi Asia menawarkan kombinasi:
imbal hasil relatif lebih tinggi,
durasi lebih pendek,
potensi diversifikasi portofolio.
Manulife secara khusus menilai menarik:
obligasi dolar AS di Asia,
obligasi mata uang lokal di negara tertentu,
obligasi high yield Asia yang didukung fundamental membaik,
obligasi investment grade yang tetap memperoleh dukungan pertumbuhan ekonomi kawasan.
Negara seperti Jepang dan India juga dinilai menawarkan peluang berbeda sesuai arah kebijakan masing-masing.
Meski kondisi ekonomi global dipenuhi ketidakpastian, Manulife menilai tema investasi berbasis AI tetap menjadi salah satu penggerak utama pasar.
Investasi pada infrastruktur AI diperkirakan tidak hanya menguntungkan perusahaan teknologi, tetapi juga sektor pendukung seperti:
semikonduktor,
pusat data (data center),
manufaktur berteknologi tinggi,
komoditas yang mendukung pembangunan infrastruktur AI.
Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Manulife tetap mempertahankan pandangan konstruktif terhadap aset Asia.
Berdasarkan pandangan Manulife IM, investor dapat mencermati beberapa strategi berikut:
menjaga diversifikasi lintas kelas aset dan kawasan;
lebih selektif memilih saham dibanding hanya mengikuti indeks pasar;
mempertimbangkan obligasi berdurasi pendek untuk mengelola risiko suku bunga;
mencermati peluang jangka panjang pada tema AI, semikonduktor, dan transformasi teknologi;
memperhatikan perkembangan geopolitik serta kebijakan bank sentral yang masih menjadi sumber volatilitas pasar.
Strategi tersebut dapat membantu investor menghadapi kondisi pertumbuhan ekonomi global yang semakin tidak merata.
Manulife Investment Management memperkirakan semester II 2026 akan menjadi periode ketika perbedaan kinerja antarnegara, sektor, dan kelas aset semakin besar. Dalam kondisi tersebut, pendekatan investasi aktif, diversifikasi, dan selektivitas menjadi faktor penting. Manulife tetap melihat Asia sebagai kawasan yang menawarkan peluang pertumbuhan jangka panjang, terutama melalui perkembangan AI, semikonduktor, serta pasar obligasi yang dinilai masih menarik.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi reksa dana terpercaya yang telah berizin OJK sejak 2016. Dengan 160+ produk reksadana dari 35 manajer investasi, kamu bisa memilih sesuai tujuan dan profil risiko. Dilengkapi fitur pembanding performa, riset pasar, dan rekomendasi ahli, Bareksa membantu kamu mulai investasi reksadana dengan mudah, aman, dan terarah dalam satu aplikasi.
***
DISCLAIMER
Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.
Karena kondisi geopolitik, inflasi, dan kebijakan bank sentral berbeda-beda di setiap negara sehingga memengaruhi laju pertumbuhan ekonomi.
Asia dinilai memperoleh manfaat dari pertumbuhan AI, semikonduktor, reformasi struktural, serta permintaan domestik yang relatif kuat.
Manulife menilai obligasi Asia masih menarik karena menawarkan imbal hasil yang kompetitif, durasi lebih pendek, dan manfaat diversifikasi portofolio.
Manulife menilai obligasi Asia masih menarik karena menawarkan imbal hasil yang kompetitif, durasi lebih pendek, dan manfaat diversifikasi portofolio.
Manulife menyarankan investor menerapkan diversifikasi, pengelolaan investasi aktif, serta lebih selektif dalam memilih aset di tengah kondisi pasar yang semakin tidak merata.