
Bareksa – Pergerakan pasar obligasi beberapa bulan terakhir sempat membuat sebagian investor khawatir. Kenaikan yield obligasi mendorong harga obligasi turun, sehingga Nilai Aktiva Bersih (NAB) sejumlah reksa dana pendapatan tetap ikut mengalami koreksi.
Sekilas, kondisi tersebut mungkin terlihat sebagai sinyal bahwa investasi di obligasi sedang kurang menarik. Padahal, fluktuasi harga hanyalah salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja reksa dana pendapatan tetap. Ada sumber imbal hasil lain yang kerap luput dari perhatian investor, yakni pendapatan kupon obligasi atau sukuk yang dibayarkan secara berkala.
Di tengah pasar yang masih bergerak dinamis, strategi memperoleh pendapatan dari kupon justru dapat menjadi salah satu penopang kinerja reksa dana dalam jangka menengah hingga panjang.
Untuk memahami hal tersebut, investor perlu mengetahui hubungan antara yield dan harga obligasi.
Secara umum, ketika yield obligasi naik, harga obligasi yang sudah beredar di pasar cenderung turun. Sebaliknya, ketika yield turun, harga obligasi biasanya meningkat. Karena portofolio reksa dana dinilai berdasarkan harga pasar (mark-to-market), perubahan harga obligasi tersebut akan tercermin pada pergerakan NAB reksa dana.
Artinya, penurunan NAB belum tentu menunjukkan kualitas aset yang dimiliki reksa dana memburuk. Dalam banyak kasus, koreksi tersebut lebih merupakan dampak dari perubahan valuasi pasar akibat dinamika suku bunga dan yield obligasi.
Banyak investor mengira keuntungan investasi obligasi hanya berasal dari kenaikan harga. Padahal, obligasi memiliki dua sumber potensi imbal hasil.
Pertama adalah capital gain, yaitu keuntungan ketika harga obligasi meningkat. Kedua adalah pendapatan kupon, yakni pembayaran berkala yang dilakukan oleh penerbit obligasi kepada pemegang obligasi sesuai ketentuan yang berlaku.
Ketika pasar obligasi sedang volatil dan harga bergerak fluktuatif, pendapatan kupon dapat menjadi salah satu sumber return yang relatif lebih stabil. Selama penerbit obligasi tetap memenuhi kewajibannya, pembayaran kupon akan terus mengalir sesuai jadwal sehingga dapat menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kinerja portofolio.
Strategi inilah yang dikenal sebagai carry strategy, yaitu pendapatan investasi yang mengandalkan potensi imbal hasil dari arus kas kupon, bukan semata-mata mengandalkan kenaikan harga obligasi.
Strategi tersebut tercermin pada pengelolaan Bahana Pendapatan Tetap Syariah Generasi Gemilang Kelas G, salah satu reksa dana syariah yang kini tersedia di Bareksa.
Berdasarkan portofolio efek terbesarnya, sekitar 95% aset ditempatkan pada sukuk korporasi, sementara sisanya berada pada Sukuk Negara seri PBS034 sebagai penyeimbang portofolio.
Sumber: Fund Fact Sheet Reksa Dana per Mei 2026
Mayoritas sukuk korporasi tersebut menawarkan kupon pada kisaran 7,5% hingga 9% per tahun. Dengan karakteristik tersebut, portofolio memiliki potensi memperoleh pendapatan dari pembayaran kupon secara berkala, sehingga return reksa dana tidak hanya berasal dari pergerakan harga obligasi di pasar.
Hingga Mei 2026, Bahana Pendapatan Tetap Syariah Generasi Gemilang Kelas G membukukan total return sebesar 4,33% dalam setahun berdasarkan Fund Fact Sheet, meski pasar obligasi sempat mengalami tekanan akibat kenaikan yield dalam beberapa bulan terakhir.
Selain mengandalkan pendapatan kupon, kualitas portofolio juga menjadi faktor penting dalam pengelolaan reksa dana pendapatan tetap.
Portofolio Bahana Pendapatan Tetap Syariah Generasi Gemilang Kelas G tersebar pada berbagai sektor industri, mulai dari infrastruktur, transportasi, energi, pulp dan kertas, pertambangan, hingga infrastruktur digital. Diversifikasi ini membantu mengurangi ketergantungan terhadap kinerja satu sektor tertentu.
Beberapa penerbit sukuk dalam portofolio antara lain PT Kereta Api Indonesia (Persero), PT Hutama Karya (Persero), PT Medco Energi Internasional Tbk, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk, serta PT Petrosea Tbk.
Mayoritas efek tersebut juga memiliki peringkat kredit pada kisaran A hingga AAA, yang mencerminkan kualitas kredit yang baik. Kombinasi antara kualitas penerbit, diversifikasi sektor, dan kupon yang relatif menarik menjadi pondasi penting dalam menjaga ketahanan portofolio di tengah dinamika pasar.
Meskipun pasar obligasi masih dipengaruhi dinamika suku bunga dan pergerakan yield, kondisi tersebut tidak selalu menjadi hambatan bagi reksa dana pendapatan tetap.
Justru di tengah lingkungan suku bunga yang masih relatif tinggi, strategi berinvestasi pada sukuk korporasi berkualitas dengan kupon yang kompetitif dapat menjadi salah satu faktor yang mendukung stabilitas kinerja reksa dana dalam jangka menengah hingga panjang.
Bagi investor yang ingin menambah pilihan investasi syariah, Bahana Pendapatan Tetap Syariah Generasi Gemilang Kelas G kini telah tersedia di Bareksa.
Selain itu, Bareksa juga menghadirkan Bahana Liquid USD, reksa dana pasar uang berdenominasi dolar AS, sebagai salah satu pilihan untuk melengkapi diversifikasi portofolio sesuai kebutuhan dan profil risiko masing-masing investor.
Sebelum berinvestasi, pastikan investor memahami tujuan investasi, profil risiko, serta membaca prospektus dan fund fact sheet setiap produk agar keputusan investasi dapat disesuaikan dengan kebutuhan finansial masing-masing.
Pelajari Reksa Dana Bahana TCW IM
(ADV)
* * *
DISCLAIMER
Konten bersponsor. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksa dana.
Yield obligasi dan harga obligasi memiliki hubungan yang berlawanan. Ketika yield naik, harga obligasi di pasar cenderung turun. Karena portofolio reksa dana pendapatan tetap dinilai berdasarkan harga pasar (mark-to-market), penurunan harga obligasi tersebut dapat menyebabkan Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana ikut terkoreksi. Namun, kondisi ini tidak selalu berarti kualitas obligasi yang dimiliki memburuk.
Capital gain adalah keuntungan yang diperoleh ketika harga obligasi naik dan dijual pada harga yang lebih tinggi dibanding harga belinya. Sementara itu, kupon adalah pembayaran pendapatan secara berkala dari penerbit obligasi kepada investor sesuai ketentuan yang berlaku. Dalam reksa dana pendapatan tetap, potensi imbal hasil dapat berasal dari kedua sumber tersebut, sehingga kinerja tidak hanya bergantung pada kenaikan harga obligasi.
Reksa dana pendapatan tetap tetap dapat menjadi pilihan investasi, meski suku bunga masih relatif tinggi. Pada kondisi tersebut, manajer investasi dapat memanfaatkan obligasi atau sukuk dengan kupon yang lebih menarik sebagai sumber pendapatan (carry). Selain itu, jika suku bunga atau yield obligasi turun di kemudian hari, harga obligasi berpotensi naik sehingga dapat memberikan tambahan potensi capital gain. Karena itu, investor sebaiknya mempertimbangkan tujuan investasi, jangka waktu, dan profil risiko sebelum berinvestasi.