Top Reksadana Juli 2026 Versi Bareksa Barometer untuk Beragam Profil Risiko

Abdul Malik • 07 Jul 2026

an image
Ilustrasi investor memilih produk reksadana unggulan Bareksa Barometer dengan Barometer Point tinggi dan cuan menarik. (Shutterstock)

BI Rate naik menjadi 5,75%, yield SBN 10 tahun di 7,18%, sementara PER IHSG hanya 9,65x. Simak top reksadana versi Bareksa Barometer Juli 2026 sesuai kondisi pasar terbaru.

Bareksa – Kondisi pasar keuangan Indonesia memasuki Juli 2026 menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi investor. Bank Indonesia (BI) telah menaikkan BI Rate menjadi 5,75%, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun bertahan di sekitar 7,18%, sementara rupiah masih bergerak di kisaran Rp18.000 per dolar AS.

Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memang masih terkoreksi sekitar 31% secara year-to-date (YTD) per 6/7. Namun justru karena penurunan tersebut, valuasi pasar saham Indonesia kini menjadi semakin menarik. Price to Earnings Ratio (PER) pasar saham Indonesia diperkirakan hanya sekitar 9,65 kali, jauh di bawah rata-rata historis lima tahun 12,57 kali, sehingga masuk kategori cheap.

Kondisi tersebut membuat strategi investasi pada Juli 2026 berbeda dibanding awal tahun. Instrumen defensif seperti reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap layak dicermati sebagai fondasi portofolio karena menawarkan stabilitas di tengah tingginya suku bunga. 

Sementara itu, investor dengan horizon investasi jangka panjang dapat mulai mempertimbangkan akumulasi bertahap pada reksadana saham, memanfaatkan valuasi yang sudah jauh lebih murah.

Berikut daftar Top Reksadana Versi Bareksa Barometer Referensi Juli 2026.

Kondisi Pasar yang Perlu Dicermati Investor

Indikator

Kondisi Terkini 

BI Rate

5,75%

Yield SUN 10 Tahun

7,15%

IHSG

5.916,07

Kinerja IHSG YTD

-31,6%

PER Pasar Saham Indonesia

9,65x (Cheap)

USD/IDR

Rp18.053 per dolar AS

Sumber: BI, Investing, World PE Ratio, diolah, data per 6/7/2026

Beberapa faktor tersebut membentuk lanskap investasi saat ini.

Pertama, kenaikan BI Rate membuat instrumen berbasis suku bunga menjadi semakin menarik. Reksadana pasar uang berpotensi menikmati kenaikan imbal hasil seiring meningkatnya bunga deposito dan instrumen pasar uang.

Kedua, yield obligasi pemerintah yang masih berada di level tinggi membuka peluang bagi reksa dana pendapatan tetap. Selain memperoleh pendapatan kupon yang menarik, investor juga berpotensi menikmati apresiasi harga obligasi apabila yield bergerak turun.

Ketiga, meskipun IHSG masih tertekan, valuasi pasar kini jauh lebih murah dibanding rata-rata historis. Bagi investor jangka panjang, kondisi seperti ini sering menjadi momentum untuk melakukan akumulasi secara bertahap melalui strategi dollar cost averaging (DCA).

Selain itu, hasil jajak pendapat Reuters menunjukkan mayoritas ekonom memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga pada Juli sebelum berpotensi kembali menaikkannya pada September apabila inflasi AS masih tinggi. Kondisi tersebut membuat investor tetap perlu menjaga keseimbangan antara aset defensif dan aset berisiko.

1. Top Reksadana Pasar Uang 

Dalam kondisi suku bunga tinggi dan volatilitas pasar yang masih besar, reksadana pasar uang bisa menjadi pilihan utama untuk membangun fondasi portofolio. Produk ini cocok sebagai tempat parkir dana sambil menunggu peluang investasi berikutnya.

Reksadana

AUM Mei 2026

Barometer

Imbal Hasil 1 Tahun

Insight Money

Rp443 miliar

4/5

5,31%

Majoris Pasar Uang Syariah Indonesia

Rp2,32 triliun

4/5

4,61%

Insight Money Syariah

Rp638 miliar

4/5

5,37%

STAR Money Market Kelas Utama

Rp183 miliar

4/5

4,62%

Sucorinvest Sharia Money Market Fund

Rp9,05 triliun

4/5

4,37%

Sumber: Tim Analis Bareksa, kinerja per 6/7/2026

Highlight: Seluruh produk memperoleh skor Barometer 4. Sucorinvest Sharia Money Market Fund memiliki dana kelolaan terbesar, mencapai sekitar Rp9,05 triliun.

2. Top Reksadana Pendapatan Tetap

Reksadana pendapatan tetap menjadi kategori yang menarik ketika yield obligasi masih tinggi. Selain memperoleh kupon obligasi, investor juga berpotensi menikmati kenaikan harga obligasi apabila suku bunga mulai turun pada masa mendatang.

Reksadana

AUM Mei 2026

Barometer

Imbal Hasil 1 Tahun

Trimegah Dana Obligasi Nusantara

Rp191 miliar

5/5

6,62%

Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A

Rp2,58 triliun

5/5

6,42%

Trimegah Dana Tetap Syariah Kelas A

Rp5,84 triliun

5/5

4,6%

Sucorinvest Sharia Sukuk Fund Kelas A

Rp3,73 triliun

4,5/5

5,35%

STAR Stable Income Fund Kelas Utama

Rp13,55 triliun

4/5

6,27%

Sumber: Tim Analis Bareksa, kinerja per 6/7/2026

Highlight: Tiga produk meraih skor Barometer sempurna 5, sementara STAR Stable Income Fund menjadi produk dengan dana kelolaan terbesar.

3. Top Reksadana Campuran

Reksadana campuran menawarkan fleksibilitas karena mengombinasikan investasi pada saham dan obligasi. Produk ini cocok bagi investor dengan profil risiko moderat yang menginginkan diversifikasi otomatis.

Reksadana

AUM Mei 2026

Barometer

Imbal Hasil 1 Tahun

Sucorinvest Sharia Balanced Fund

Rp1,34 triliun

5/5

7,57%

TRAM Alpha

Rp116 miliar

4,5/5

4,24%

Sucorinvest Premium Fund Kelas A

Rp1,19 triliun

4,5/5

5,9%

Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A

Rp14,42 miliar

4,5/5

1,98% all

Sucorinvest Anak Pintar

Rp377 miliar

3,5/5

18,09%

Sumber: Tim Analis Bareksa, kinerja per 6/7/2026

4. Top Reksadana Saham

Meskipun kondisi pasar saham masih berfluktuasi, valuasi yang murah membuat kategori ini mulai menarik bagi investor jangka panjang. Strategi yang lebih bijak bukan mengejar momentum, melainkan melakukan investasi bertahap atau DCA.

Reksadana

AUM Mei 2026

Barometer

Imbal Hasil 1 Tahun

Sucorinvest Maxi Fund

Rp1,10 triliun

5/5

47,48%

Batavia Dana Saham Optimal

Rp189 miliar

4,5/5

-9,93%

Schroder Dana Prestasi

Rp820 miliar

4,5/5

-0,79%

Manulife Saham Andalan

Rp1,04 triliun

4,5/5

6,73%

Batavia Dana Saham

Rp1,09 triliun

4,5/5

-13,4%

Sumber: Tim Analis Bareksa, kinerja per 6/7/2026

Highlight: Sucorinvest Maxi Fund menjadi satu-satunya produk dengan skor Barometer 5 pada kategori saham.

5. Top Reksadana Indeks

Bagi investor yang percaya pada pemulihan pasar saham Indonesia dalam jangka menengah hingga panjang, reksadana indeks dapat menjadi alternatif dengan biaya pengelolaan yang relatif efisien.

Reksadana

Indeks Acuan

AUM Mei 2026

Barometer

Imbal Hasil 1 Tahun

BNP Paribas IDX Growth30

IDX Growth30

Rp218 miliar

3,5/5

-8,73%

BNP Paribas Sri Kehati RK1

SRI-KEHATI

Rp2,31 triliun

3,5/5

-12%

AVRIST IDX30

IDX30

Rp67 miliar

3/5

-12.24%

Syailendra MSCI Indonesia Value Index Fund

MSCI Indonesia Value

Rp433 miliar

3/5

-14,58%

Allianz SRI KEHATI Index Fund

SRI-KEHATI

Rp115 miliar

3/5

-15,34%

Sumber: Tim Analis Bareksa, kinerja per 6/7/2026

6. Top Reksadana USD

Penguatan kurs dolar AS membuat diversifikasi ke aset berdenominasi dolar AS masih relevan, terutama bagi investor yang memiliki kebutuhan dana dalam mata uang asing atau ingin mengurangi risiko nilai tukar.

Reksadana

AUM Mei 2026

Barometer

Imbal Hasil

Eastspring Syariah Equity Islamic Asia Pacific USD

US$101 juta

4/5

90,31%

BRI Seruni Likuid Dolar

US$3,06 miliar

4/5

3,38%

STAR Fixed Income NEO AI Dollar

US$10,75 juta

3,5/5

4,72% (3 bulan)

STAR Fixed Income Dollar

US$260,79 juta

3,5/5

4,17%

Mandiri Global Sharia Equity Dollar

US$618 juta

3,5/5

21,16%

Sumber: Tim Analis Bareksa, kinerja per 6/7/2026

Strategi Investasi Juli 2026

Melihat kondisi pasar saat ini, investor dapat mempertimbangkan pendekatan bertahap sesuai profil risiko.

Investor konservatif dapat memprioritaskan reksadana pasar uang dan pendapatan tetap untuk menjaga stabilitas portofolio.

Investor moderat dapat mulai mempertimbangkan menambah porsi reksadana campuran agar memperoleh keseimbangan antara potensi pertumbuhan dan stabilitas.

Sementara itu, investor agresif dapat mulai mempertimbangkan untuk melakukan akumulasi bertahap pada reksadana saham karena valuasi pasar Indonesia kini berada pada level yang relatif murah dibanding rata-rata historis.

Strategi tersebut tidak dimaksudkan sebagai rekomendasi investasi, melainkan sebagai ilustrasi alokasi portofolio yang dapat disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan investasi masing-masing.

Kesimpulan

Juli 2026 menjadi periode ketika investor perlu lebih selektif dalam menyusun portofolio. Kenaikan BI Rate menjadi 5,75% dan yield obligasi pemerintah yang masih berada di atas 7% membuat reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap layak dipertimbangkan untuk menjaga stabilitas portofolio.

Di sisi lain, valuasi IHSG yang kini hanya sekitar 9,65 kali PER menunjukkan pasar saham Indonesia sudah jauh lebih murah dibanding rata-rata historis. Bagi investor jangka panjang, kondisi tersebut dapat dimanfaatkan untuk melakukan investasi bertahap melalui reksadana saham berkualitas sambil tetap menjaga diversifikasi portofolio.

Investasi di Aplikasi Reksadana Terbaik - Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi reksa dana terpercaya yang telah berizin OJK sejak 2016. Dengan 160+ produk reksadana dari 35 manajer investasi, kamu bisa memilih sesuai tujuan dan profil risiko. Dilengkapi fitur pembanding performa, riset pasar, dan rekomendasi ahli, Bareksa membantu kamu mulai investasi reksadana dengan mudah, aman, dan terarah dalam satu aplikasi.

Beli Reksadana di Sini

(Sigma Kinasih CTA, CFP/Romainah/Reynaldi/AM)

Tentang Penulis

* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist di PT Bareksa Marketplace Indonesia dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.

***

DISCLAIMER

Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.

Pertanyaan Umum

Apa itu Bareksa Barometer?

Bareksa Barometer merupakan sistem pemeringkatan reksa dana yang menilai produk berdasarkan berbagai indikator, seperti kinerja historis, konsistensi, risiko, dan kualitas pengelolaan (GCG) oleh manajer investasi.

Mengapa reksadana pasar uang dan pendapatan tetap menjadi prioritas pada Juli 2026?

Kenaikan BI Rate menjadi 5,75% serta yield obligasi pemerintah yang masih tinggi membuat kedua kategori ini berpotensi menawarkan keseimbangan antara stabilitas dan peluang imbal hasil.

Bagaimana memilih reksa dana yang sesuai dengan profil risiko?

Valuasi pasar saham Indonesia saat ini tergolong murah dengan PER sekitar 9,65 kali, sehingga investor jangka panjang dapat mempertimbangkan strategi investasi bertahap (DCA) sesuai profil risiko.

Bagaimana memilih reksadana yang sesuai dengan profil risiko?

Investor konservatif umumnya lebih cocok pada reksa dana pasar uang atau pendapatan tetap, investor moderat dapat mempertimbangkan reksa dana campuran, sedangkan investor agresif dapat menambah porsi reksa dana saham sesuai tujuan investasi.

Apakah daftar Top Reksa Dana Bareksa Barometer merupakan rekomendasi investasi?

Tidak. Daftar ini merupakan hasil pemeringkatan Bareksa Barometer yang dapat menjadi referensi bagi investor. Keputusan investasi tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko, tujuan keuangan, serta hasil analisis masing-masing.

Profil Penulis

Abdul Malik

Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.