
Bareksa – Di tengah ketidakpastian pasar keuangan, banyak investor memilih bersikap lebih hati-hati. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) menjadi 5,75% pada Juni 2026 mencerminkan upaya Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan mengelola tekanan eksternal, sementara bank sentral Amerika Serikat (The Fed) masih mempertahankan suku bunganya.
Kondisi tersebut membuat sebagian investor cenderung mengambil posisi wait and see sembari menunggu arah pasar yang lebih jelas. Dalam situasi seperti ini, sebagian investor dapat mencermati instrumen yang lebih defensif, seperti reksa dana pasar uang, untuk menjaga fleksibilitas portofolio tanpa harus keluar sepenuhnya dari pasar.
Beberapa bulan terakhir, pelaku pasar menghadapi berbagai tantangan, mulai dari ketidakpastian arah kebijakan moneter global hingga pergerakan nilai tukar yang masih fluktuatif. Di dalam negeri, Bank Indonesia memutuskan menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,75% pada Juni 2026 sebagai langkah menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah.
Sementara itu, The Fed masih mempertahankan suku bunga acuannya, membuat selisih imbal hasil antarnegara tetap menjadi perhatian investor global. Akibatnya, aliran dana cenderung bergerak lebih selektif dan investor menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil risiko.
Pada kondisi seperti ini, banyak investor memilih instrumen yang lebih defensif untuk menjaga likuiditas sembari menunggu potensi investasi berikutnya.
Saat volatilitas pasar meningkat, investor umumnya mencari instrumen dengan fluktuasi yang relatif lebih terukur dibandingkan aset berisiko tinggi seperti saham.
Salah satu instrumen yang sering dipilih adalah reksa dana pasar uang. Produk ini menempatkan dana pada instrumen pasar uang dan surat utang jangka pendek yang memiliki fluktuasi yang relatif lebih rendah dibandingkan instrumen berisiko tinggi seperti saham.
Karena karakteristiknya tersebut, reksa dana pasar uang sering dimanfaatkan sebagai tempat parkir dana sementara oleh investor yang ingin tetap memiliki fleksibilitas untuk berpindah ke instrumen lain ketika peluang investasi yang lebih menarik muncul.
Selain itu, reksa dana pasar uang juga memiliki tingkat likuiditas yang relatif baik sehingga dapat menjadi pilihan bagi investor yang masih ingin menjaga akses terhadap dananya.
Selain mempertimbangkan tingkat risiko, investor juga perlu memperhatikan faktor nilai tukar dalam menyusun portofolio.
Dalam satu tahun terakhir, dolar Amerika Serikat tercatat menguat sekitar 8,64% terhadap rupiah, menurut data Investing per 19 Juni 2026. Kondisi ini membuat sebagian investor mulai melirik instrumen berbasis dolar AS sebagai bagian dari strategi diversifikasi.
Grafik Penguatan USD terhadap Rupiah 1 Tahun Terakhir (18 Juni 2025-18 Juni 2026)
Sumber: Investing
Diversifikasi mata uang bukan berarti berspekulasi terhadap pergerakan kurs. Sebaliknya, strategi ini dapat membantu mengurangi ketergantungan portofolio terhadap satu mata uang, meskipun tetap memiliki risiko akibat pergerakan nilai tukar.
Dengan memiliki sebagian aset dalam denominasi dolar AS, investor dapat mengurangi ketergantungan terhadap pergerakan satu mata uang saja. Pendekatan ini dapat menjadi bagian dari strategi diversifikasi dalam pengelolaan aset.
Banyak investor mengira bahwa untuk memperoleh eksposur terhadap dolar AS, mereka harus membeli mata uang dolar secara langsung atau membuka rekening valas.
Padahal saat ini tersedia alternatif yang lebih praktis melalui reksa dana pasar uang berbasis dolar AS.
Melalui instrumen ini, investor tidak hanya memperoleh eksposur terhadap mata uang dolar, tetapi juga mendapatkan potensi imbal hasil dari instrumen pasar uang yang menjadi underlying investasi. Dengan kata lain, dana yang ditempatkan tidak sekadar mengendap dalam bentuk mata uang, melainkan dikelola pada instrumen yang berpotensi memberikan imbal hasil.
Pendekatan ini dapat menjadi solusi bagi investor yang ingin melakukan diversifikasi mata uang tanpa harus mengelola rekening dolar secara terpisah.
Bagi investor yang sedang mencari instrumen defensif berbasis dolar AS, Mandiri Money Market USD dapat menjadi salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan.
Berdasarkan data Bareksa per 18 Juni 2026, Mandiri Money Market USD membukukan kinerja historis sebesar 2,70% dalam setahun terakhir. Sementara itu, dolar AS menguat sekitar 8,64% terhadap rupiah dalam periode yang relatif sama.
Grafik Pertumbuhan NAB Mandiri Money Market USD 1 Tahun Terakhir (18 Juni 2025-18 Juni 2026)
Sumber: Bareksa, data per 18 Juni 2026
Bagi investor berbasis rupiah, produk berbasis dolar AS juga memiliki eksposur terhadap pergerakan nilai tukar. Penguatan dolar AS dapat berdampak positif terhadap nilai investasi dalam rupiah.
Kombinasi antara karakteristik pasar uang yang relatif konservatif dan eksposur terhadap dolar AS menjadikan produk ini menarik bagi investor yang ingin menjaga likuiditas sekaligus melakukan diversifikasi mata uang.
Dalam kondisi pasar yang masih dipenuhi ketidakpastian, tidak semua investor merasa nyaman untuk langsung meningkatkan porsi investasi pada aset berisiko.
Sebagian investor memilih menunggu momentum yang lebih tepat sambil menjaga fleksibilitas portofolionya. Bagi kelompok investor tersebut, instrumen pasar uang berbasis dolar AS dapat menjadi alternatif untuk menjaga fleksibilitas portofolio, dengan tetap memberikan potensi imbal hasil sesuai kinerja instrumen underlying dan kondisi pasar..
Selain itu, keberadaan eksposur dolar AS juga dapat membantu meningkatkan diversifikasi portofolio di tengah pergerakan nilai tukar yang masih dinamis.
Kenaikan BI Rate menjadi 5,75%, penguatan dolar AS, serta kondisi pasar yang masih dipenuhi ketidakpastian membuat banyak investor memilih pendekatan yang lebih defensif.
Dalam situasi seperti ini, reksa dana pasar uang dapat menjadi salah satu instrumen defensif yang membantu menjaga fleksibilitas portofolio. Sementara itu, instrumen berbasis dolar AS dapat memberikan eksposur mata uang asing sebagai bagian dari strategi diversifikasi, dengan tetap memperhatikan risiko nilai tukar.
Mandiri Money Market USD dapat menjadi salah satu alternatif bagi investor yang ingin menjaga likuiditas, memperoleh eksposur terhadap dolar AS, serta tetap memiliki fleksibilitas untuk menangkap peluang investasi berikutnya ketika kondisi pasar mulai membaik.
Informasi lengkap produk Mandiri Money Market USD
(ADV)
* * *
DISCLAIMER
Konten bersponsor. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksa dana.
Diversifikasi ke instrumen berbasis dolar AS dapat memberikan beberapa manfaat seperti mendapatkan eksposur terhadap mata uang global, tambahan imbal hasil dari selisih nilai tukar (capital gain kurs) dan diversifikasi lintas mata uang untuk membantu mengurangi risiko konsentrasi portofolio.
Reksa dana pasar uang USD umumnya berinvestasi pada instrumen jangka pendek seperti deposito dan surat utang dengan jatuh tempo kurang dari satu tahun. Karakteristiknya adalah relatif stabil, likuid, dan memiliki risiko yang lebih rendah. Karena itu, reksa dana pasar uang USD lebih cocok untuk tujuan menjaga likuiditas dan stabilitas nilai.
Tidak semua investor cocok dengan reksa dana USD. Kesesuaian produk investasi sangat bergantung pada profil risiko, tujuan keuangan, dan horizon investasi masing-masing. Investor perlu memahami bahwa investasi berbasis USD memiliki risiko nilai tukar. Jika dolar AS melemah terhadap rupiah, nilai investasi dapat terpengaruh saat dikonversi kembali.
Kamu bisa membeli reksa dana Mandiri Money Market USD di Bareksa senilai minimum USD1.200 untuk pembelian pertama. Untuk transaksi pembelian berikutnya, kamu bisa membeli senilai minimum USD1.000 di Bareksa.