CEO MAMI, Afifa : Prediksi Kinerja Industri Reksadana Akhir 2022 dan Jurus Cuan Investasi 2023

Abdul Malik • 02 Nov 2022

an image
Afifa, Presiden Direktur PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI). (Dok. Manulife)

Afifa menyarankan 4 jurus investasi agar Smart Investor bisa meraih cuan dari investasinya di tengah kondisi saat ini

Bareksa.com - Kinerja industri reksadana nasional pada periode Januari - September 2022 belum menggembirakan. Sebab meskipun dari sisi imbal hasil (return), tercatat mayoritas indeks reksadana di Bareksa membukukan kenaikan sepanjang tahun tahun berjalan (YTD) hingga September, namun dari sisi dana kelolaan dan unit penyertaan masih menurun. 

Hal ini terlihat dari data Otoritas Jasa Keuangan di mana dana kelolaan reksadana nasional mencatatkan penurunan pada periode Januari - Juli 2022 atau dalam 7 bulan beruntun. Baru kemudian pada Agustus 2022, dana kelolaan reksadana nasional mulai bangkit dengan kenaikan, namun belum mampu menutup penurunan yang sudah terjadi sebelumnya. 

Setelah sempat naik pada Agustus 2022, dana kelolaan industri reksadana kembali menurun pada September 2022 senilai Rp533,9 triliun, secara bulanan turun 2% dan sepanjang tahun berjalan berkurang 8%. Artinya sepanjang 9 bulan pertama tahun ini, dana kelolaan industri reksadana hanya naik sekali pada Juli, sisanya tercatat menurun. 

Senada dengan penurunan dana kelolaan, unit penyertaan reksadana juga tercatat menurun 2% secara bulanan pada September 2022 dan minus 7% sepanjang tahun berjalan jadi 393,2 miliar unit. 

Sumber : Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market - Monthly Report September 2022

Hingga kuartal III 2022, jenis reksadana di Bareksa yang mengalami kenaikan terbesar adalah reksadana campuran, disusul oleh reksadana indeks, reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap.

Meskipun kinerja dana kelolaan dan unit penyertaan industri reksadana hingga September 2022 masih minus, namun CEO & President Director PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Afifa memprediksi peluang pertumbuhan pasar modal dan industri reksadana masih besar. 

“Mengingat saat ini jumlah investornya baru mencapai 9 juta dengan dana kelolaan (asset under management/AUM) sejumlah Rp533,9 triliun per akhir September 2022,” ujarnya. 

Bagaimana pandangan Afifa atas prospek pasar modal nasional jelang akhir 2022 dan di 2023, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Surat Berharga Negara (SBN) dan reksadana? Berikut kutipan wawancara Abdul Malik dari Bareksa dengan Afifa, secara tertulis (31/10/2022). 

Menurut Ibu, bagaimana gambaran industri pasar modal hingga akhir 2022, termasuk IHSG, SBN dan reksadana?

Pada kuartal IV 2022, volatilitas pasar global diperkirakan masih akan tetap tinggi mengingat perhatian pasar masih terpaku pada kebijakan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed). Dari sisi domestik, kondisi makroekonomi Indonesia masih suportif didukung oleh siklus pemulihan ekonomi pasca pandemi dan keuntungan dari harga komoditas yang suportif. 

Jadi kondisi ini seharusnya tetap menjadi katalis positif bagi pasar Indonesia. Di sisi lain, tidak bisa dipungkiri bahwa volatilitas pasar global juga berpengaruh pada flow dan risk appetite investor di kuartal IV 2022. Postur kebijakan The Fed yang lebih dovish dapat menjadi katalis bagi sentimen pasar finansial global.

Level IHSG yang wajar ada di 7.600, dengan asumsi pertumbuhan laba korporasi 12%. Sedangkan level imbal hasil (yield) SBN 10 tahun di kisaran 6,5% - 7% pada akhir 2022. Peluang pertumbuhan industri reksadana di Indonesia juga masih sangat besar mengingat saat ini jumlah investornya baru mencapai 9 juta dengan AUM sejumlah Rp533,9 triliun per akhir September 2022.

Bagaimana Ibu melihat outlook pasar modal di 2023, termasuk pasar saham, SBN dan reksadana?

Kami melihat berbagai kebijakan bank sentral dunia adalah untuk front-load kenaikan di tahun ini. Jadi, saat ini kita sudah mendekati puncak dari siklus kenaikan suku bunga pada mayoritas negara maju. Dengan demikian, tekanan kenaikan suku bunga dapat berangsur mereda di 2023.

Tekanan kenaikan suku bunga yang mereda tentunya dapat menjadi katalis positif bagi pasar, terlebih apabila fokus bank sentral mulai beralih dari menjaga inflasi menjadi mendukung pertumbuhan ekonomi.

Walau banyak negara di dunia diperkirakan akan mengalami resesi di awal 2023, namun investor pasar modal cenderung bersifat forward-looking, melihat bagaimana langkah bank sentral dan pemerintah akan lebih akomodatif untuk menopang ekonomi. Kondisi ini dapat menjadi peluang bagi investor.

Dari perspektif valuasi, pasar obligasi maupun pasar saham negara maju sudah di level atraktif. Imbal hasil US Treasury 10Y (Obligasi Pemerintah AS 10 tahun) sudah di 4,2%, tertinggi sejak 2007, tentunya menjadi level yang menarik bagi investor untuk masuk di level yield yang menarik ini. Rasio harga saham dan penghasilan (PE ratio) indeks MSCI All-Country di luar AS juga turun ke kisaran 10,8x,  level terendah sejak 2013. Hal ini memberikan entry point menarik bagi investor.

Tekanan di industri reksadana tidak hanya akibat gejolak pasar dan menurunnya nilai aset, namun juga keluarnya pelaku pasar yang tercermin dari penurunan unit penyertaan. Kenapa ini terjadi? 

Kondisi pasar yang relatif volatil dalam jangka pendek membuat perubahan pola perilaku investor reksadana, khususnya investor pemula. Di tengah kondisi pasar yang volatil seperti saat ini, investor pemula atau investor yang memiliki profil risiko konservatif cenderung melakukan profit taking atau penjualan kembali unit penyertaan reksadana

Reaksi menghindari risiko (risk averse) merupakan hal yang wajar dilakukan oleh kelompok investor konservatif. Hal ini merupakan salah satu penyebab turunnya AUM reksadana saat ini. Padahal, volatilitas jangka pendek di pasar saham maupun obligasi merupakan peluang investasi jangka panjang yang menarik, terutama bagi investor yang selalu fokus pada pemenuhan tujuan investasi di masa depan.

Selain itu, faktor lainnya yang menyebabkan penurunan AUM pada perusahaan manajer investasi yang mengelola aset PAYDI adalah diterapkannya aturan SE OJK No. 05/SEOJK.05/2022 tentang produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (SEOJK PAYDI). Penurunan AUM reksadana merupakan dampak jangka pendek dari peraturan tersebut.

Menurut Ibu, tren-tren baru atau inovasi-inovasi apa di industri reksadana sepanjang 2022 dibandingkan 2021, apa gambaran di 2023?

Berkembangnya kanal distribusi digital dan pendekatan calon investor melalui media sosial merupakan perkembangan yang menarik di industri. Kanal digital mempermudah akses masyarakat ke pasar modal dan juga berkontribusi meningkatkan literasi keuangan. Tren ini tentunya berdampak pada bagaimana manajer investasi menjalankan bisnisnya.

Mempertimbangkan realisasi kinerja hingga kuartal III 2022, reksadana jenis apa yang akan jadi pemenang di 2023?

Sekarang mari kita membahas mengenai kelas aset unggulan di 2023. Di tengah volatilitas global, kami menyarankan investor untuk menerapkan strategi diversifikasi. Menghadapi kondisi pasar yang fluktuatif, investor sebaiknya memiliki unsur growth dan defensif pada portofolionya. 

Eksposur ke pasar saham dapat menawarkan potensi growth, sementara obligasi tenor pendek dan pasar uang memberikan unsur defensive yang mengurangi risiko volatilitas portofolio.

Apa saran Ibu buat Smart Investor agar bisa meraih cuan dari investasinya sepanjang tahun ini dan tahun depan?

Setidaknya ada 4 tips berikut ini.

Pertama, lakukan diversifikasi investasi untuk mengurangi risiko dan untuk optimalisasi portofolio.
Kedua,
fokus pada tujuan akhir investasi, jangan terlalu khawatir pada volatilitas jangka pendek.
Ketiga,
lakukan riset sebelum berinvestasi. Jangan sekedar ikut-ikutan.
Keempat,
investasi di instrumen dengan fundamental kuat dan berkualitas dengan arus kas yang stabil.

(AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.