Meski Omicron Membayangi, Masih Ada Peluang Investasi Reksadana

Hanum Kusuma Dewi • 25 Jan 2022

an image
Ilustrasi pergerakan pasar saham dan investasi di pasar modal seperti reksadana yang dibayangi oleh kasus covid varian omicron digambarkan dengan grafik saham dan virus serta investor sedang memegang handphone. (shutterstock)

Investor reksadana bisa mengatur ulang porsi portofolionya sesuai profil risiko

Bareksa.com – Pandemi masih belum usai, karena muncul Covid varian Omicron yang disebut bisa menular lebih cepat meski gejala yang ditimbulkan tidak terlalu parah. Investor masih memiliki peluang untuk berinvestasi reksadana dengan strategi yang sesuai profil risikonya, mempertimbangkan ekonomi yang bergerak positif. 

Meski kasus Covid varian Omicron terus meningkat, tingkat keparahannya dipercaya lebih rendah dibandingkan dengan varian sebelumnya. Oleh karena itu, beberapa negara tetap membuka ekonominya dan memperketat protokol Kesehatan. 

Director PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen Eri Kusnadi menyebutkan bahwa ekonomi pun masih tetap bergerak ke arah positif dan pasar saham emerging market masih atraktif. Menurutnya, saat ini investor masih wait and see akibat tingginya inflasi di Amerika Serikat (AS). 

“Tingginya inflasi di AS membuat bank sentral AS, Federal Reserve, berubah pandangannya menjadi lebih hawkish dengan mempercepat pengurangan program pembelian obligasinya dan diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan lebih banyak pada tahun ini,” jelas Eri dalam acara diskusi online BizInsight yang diadakan Bank Commonwealth, Selasa, 25 Januari 2022. 

Meski demikian, Eri melanjutkan, dalam menghadapi normalisasi kebijakan the Fed, kondisi ekonomi Indonesia jauh lebih baik jika dibandingkan apa yang pernah terjadi pada tahun 2013 ketika the Fed juga melakukan pengetatan kebijakan moneter. Neraca perdagangan Indonesia sepanjang tahun 2021 lalu selalu mencatatkan surplus sepanjang tahun, berbeda dengan tahun 2013 ketika Indonesia mencatatkan defisit perdagangan. 

Hal yang sama juga terjadi pada neraca transaksi berjalan Indonesia yang pada kuartal ketiga tahun lalu berhasil mencetak surplus. Selain itu cadangan devisa Indonesia juga sudah jauh lebih besar, per Desember 2021 tercatat di kisaran USD 144,9 miliar. 

“Dengan bekal fundamental yang cukup pada saat ini, kondisi ekonomi Indonesia diharapkan dapat jauh lebih stabil dalam menghadapi pengetatan kebijakan moneter AS ketimbang tahun 2013 lalu,” kata Eri.

Sementara itu, dari pasar saham, setelah berhasil membukukan kinerja positif pada tahun 2021, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan pada awal bulan pertama tahun baru ini. Melonjaknya imbal hasil obligasi AS akibat perubahan pandangan the Fed terhadap inflasi yang diikuti rencana pengetatan moneter yang lebih agresif membuat volatilitas pasar saham baik global maupun domestik meningkat.

Namun, kondisi ini tidak memicu investor asing keluar dari pasar saham Indonesia. Hingga 19 Januari 2022, investor asing mencatatkan aksi beli bersih sekitar Rp6,9 triliun. Hal ini menandakan bahwa pasar saham emerging market masih memberikan valuasi yang cukup atraktif jika dibandingkan dengan pasar saham developed market.

Baca juga Top 10 Reksadana Juara Cuan Pekan Ketiga Januari 2022

Melihat kondisi tersebut, Head of Investment & Liabilities Bank Commonwealth Ivan Kusuma menyebutkan beberapa hal yang patut diwaspadai dalam berinvestasi di kuartal pertama 2022 adalah penyebaran Covid-19 varian Omicron yang dapat menyebabkan pengetatan yang lebih jauh dan rencana pengetatan kebijakan moneter AS yang lebih agresif dari yang diperkirakan pasar.

Meski demikian, Ivan melanjutkan, Bank Commonwealth masih merekomendasikan untuk overweight di reksa dana saham karena berlanjutnya pemulihan ekonomi baik global maupun domestik meskipun adanya varian baru Omicron. 

“Potensi hadirnya lebih banyak lagi emiten sektor teknologi di bursa saham Indonesia pada tahun ini juga akan memberikan sentimen positif serta adanya potensi meningkatnya bobot Indonesia di dalam indeks acuan global. Hal tersebut dapat memicu aliran dana asing yang lebih deras,” jelas Ivan.

Strategi investasi yang bisa dilakukan investor untuk kuartal pertama di 2022 adalah menambah porsi reksadana saham di dalam portofolio di mana untuk investor dengan profil risiko balanced atau moderat adalah 30 persen di reksadana pasar uang, 35 persen reksadana pendapatan tetap, 35 persen reksadana saham. Sedangkan, untuk investor dengan profil risiko growth atau tinggi adalah adalah 15 persen di reksadana pasar uang, 20 persen reksadana pendapatan tetap, dan 65 persen reksadana saham. 

Baca juga Kode Promo Reksadana Bareksa untuk kesempatan raih OVO Poin dan GrabFood

* * * 

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​

Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.