Ini Top 10 Reksadana Cuan Tertinggi Pekan I Januari 2022

Abdul Malik • 10 Jan 2022

an image
Ilustrasi top 10 manajer investasi dan top 10 produk reksadana dengan kenaikan dana kelolaan tertinggi dan lonjakan jumlah unit penyertaan tertinggi. (Shutterstock)

Pada pekan I Januari 2022, pasar dibayangi sentimen peluang percepatan kebijakan moneter oleh Bank Sentral AS

Bareksa.com - Mengakhiri pekan pertama di tahun 2022, kinerja pasar saham Indonesia menunjukkan hasil cukup memuaskan. Dalam perdagangan yang berlangsung mulai dari 3 hingga 7 Januari 2022, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu menguat sebanyak 3 hari perdagangan, sementara 2 hari lainnya mengalami koreksi.

Alhasil secara mingguan IHSG mengakumulasi kenaikan 1,82 persen ke level 6.701,32. Penguatan itu salah satunya karena sepanjang pekan lalu investor asing dominan menambah kepemilikan saham mereka dengan catatan aksi beli bersih (net buy) mencapai Rp989,93 miliar di pasar reguler.

Meskipun IHSG terlihat positif pada pekan lalu, tetapi indeks sempat terkoreksi pada perdagangan Rabu dan Kamis, karena investor merespons negatif dari potensi dipercepatnya pengetatan kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat (AS).

Mengutip CNBC Indonesia, Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang kemungkinan lebih agresif dalam menormalisasi kebijakan moneternya di tahun ini membuat bursa saham global sempat rontok. Dimulai dari bursa saham AS (Wall Street) pada perdagangan Rabu waktu setempat, dan disusul bursa Asia, termasuk IHSG.

Dalam rapat The Fed edisi Desember 2021, Ketua The Fed, Jerome Powell dan para koleganya menyebut pasar tenaga kerja sudah sangat ketat dan inflasi terus meninggi. Hal ini membuat The Fed sepertinya harus menaikkan suku bunga acuan lebih cepat.

"Para peserta rapat secara umum mencatat tidak bisa menghindari kenaikan suku bunga acuan lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya. Beberapa peserta rapat juga mencatat sudah saatnya mengurangi beban neraca (balance sheet) setelah kenaikan Federal Funds Rate," sebut notula rapat itu.

Pasar pun langung bereaksi. Mengutip CME FedWatch, kenaikan suku bunga acuan dalam rapat Komite Pengambil Kebijakan The Fed (Federal Open Market Committee/FOMC) edisi Maret 2022 peluangnya mencapai 64,1 persen.

"Indikasi The Fed semakin khawatir dengan inflasi akan menciptakan pandangan bahwa mereka akan melakukan pengetatan kebijakan secara agresif pada 2022. Lebih hawkish dari dugaan," kata David Carter, Chief Investment Officer di Lenox Wealth Adivisors yang berbasis di New York, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (6/1/2022).

Kenaikan suku bunga acuan membuat investor cenderung melirik ke aset berpendapatan tetap seperti obligasi pemerintah, karena imbal hasilnya (yield) akan ikut terkerek dan investor cenderung meninggalkan pasar saham.

Pada pekan lalu juga, yield obligasi pemerintah AS (Treasury) bertenor 10 tahun yang menjadi acuan obligasi pemerintah Negeri Paman Sam sempat melonjak ke level 1,75 persen, yakni pada Kamis waktu setempat.

Namun pada perdagangan Jumat waktu AS, yield Treasury bertenor 10 tahun kembali naik dan kini berada di level 1,76 persen.

IHSG yang berhasil rebound pada perdagangan akhir pekan lalu dan membuat indeks melesat nyaris 2 persen sepanjang pekan lalu didorong oleh sentimen positif dari rilis data ketenagakerjaan AS pada Kamis lalu.

Data klaim tunjangan pengangguran AS untuk periode pekan lalu tercatat di angka 207.000 unit, atau lebih baik dari ekspektasi ekonom dalam survey Dow Jones yang memperkirakan angka 195.000.

Baca : Bareksa Raih Pendanaan Seri C dari Grab, Kukuhkan Sinergi Grab - Bareksa - OVO

Mayoritas Jenis Reksadana Menguat

Kondisi pasar saham yang mengalami penguatan pada pekan lalu, secara umum turut mendorong kinerja mayoritas jenis reksadana, di mana yang berbasis saham menorehkan kinerja terbaik.

Sumber: Bareksa

Berdasarkan data Bareksa,indeks reksadana saham menjadi yang paling baik kinerjanya pada pekan lalu dengan kenaikan 0,65 persen, disusul oleh indeks reksadana campuran yang menguat 0,24 persen, dan indeks reksadana pasar uang yang bertambah 0,06 persen.

Sementara itu, indeks reksadana pendapatan tetap harus rela terkoreksi dengan kinerja -0,37 persen.

Baca juga : Investasi Reksadana di Bareksa dapat OVO Poin dan Voucher GrabFood

Di sisi lain, top 10 produk reksadana yang berhasil mencatatkan imbal hasil (return) mingguan tertinggi pada pekan lalu ditempati oleh jenis reksadana yang high-risk, di mana produk reksadana saham mendominasi dengan 6 produk, dan 4 produk lainnya ditempati oleh reksadana indeks & ETF yang memang pergerakannya juga searah dengan indeks saham.

Sumber: Bareksa

Reksadana saham Mega Asset Maxima di urutan pertama dengan imbalan 7,57 persen sepekan. Kemudian disusul Eastspring Investment Value Discovery Kelas A dengan return 2,63 persen, Maybank Dana Ekuitas imbal hasil 2,3 persen, Reksa Dana Indeks Avrist IDX30 dengan imbalan 2,25 persen, dan Reksa Dana Indeks Principal Index IDX30 Kelas O dengan imbalan 2,23 persen. Daftar selengkapnya sebagaimana tertera dalam grafik.

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

(KA01/Arief Budiman/AM)

Baca : Kolaborasi PT Pegadaian - Bareksa, Hadirkan Tabungan Emas Online untuk Investasi Terintegrasi

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.