Strategi Manulife AM Jadi MI Terbesar di Indonesia

Abdul Malik • 01 Sep 2021

an image
Afifa, Interim Presiden Direktur PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI). (Dok. Manulife)

Pada semester pertama tahun ini, total AUM MAMI bertumbuh 8 persen menjadi Rp104,7 triliun

Bareksa.com - PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) berambisi untuk tetap mempertahankan posisinya sebagai manajer investasi dengan dana kelolaan (asset under management/AUM) reksadana terbesar di Indonesia. Perseroan akan terus melakukan inovasi dari sisi layanan dan produk untuk bisa mencapai hal tersebut.

Presiden Direktur Manulife Aset Manajemen Indonesia Afifa menjelaskan, MAMI berdiri di Indonesia sejak tahun 1996 atau satu tahun setelah reksadana mulai dikenal di Indonesia. Dalam 25 tahun perjalanannya, MAMI melalui berbagai tantangan, seperti krisis keuangan Asia pada tahun 1997, krisis keuangan global pada 2007-2008, dan krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19. 

“Kami sangat bersyukur dapat melewati masa-masa sulit tersebut dengan baik dan keluar dalam keadaan yang lebih tangguh," kata dia dalam acara Konferensi Pers secara Virtual, Selasa (31/8).

Afifa juga berharap, di usia yang ke-25 tahun ini, MAMI semakin memantapkan posisinya sebagai perusahaan manajer investasi terbesar di Indonesia. Perseroan akan terus berinovasi dan beradaptasi untuk memberikan solusi investasi dan layanan terbaik untuk mempertahankan peringkat itu.

Selama ini, setidaknya ada beberapa hal yang mendukung kesuksesan MAMI. Di antaranya adalah dari sisi kepercayaan investor. Afifa menjelaskan, sampai saat ini, MAMI memiliki lebih dari 1,18 juta investor, baik ritel maupun institusi.

Kemudian MAMI juga melakukan aktivitas edukasi melalui berbagai jalur. Salah satu modul edukasi finansial yang digunakan MAMI sejak 2013 adalah 3i, yakni insyaf, irit dan invest. 

Selanjutnya jalur distribusi yang kuat juga menopang kesuksesan MAMI selama ini. Afifa mengungkapkan, MAMI memiliki 32 mitra distribusi yang terdiri dari 20 bank dan 12 non bank.

MAMI juga mendistribusikan produknya melalui jalur pemasaran secara digital, secara langsung kepada segmen ritel serta melalui institutional sales.

Berkiprah lebih dari 25 tahun membuat MAMI mempunyai wawasan yang lebih mumpuni di industri reksadana. Selain menjadi pelopor dalam transaksi digital, MAMI juga menjadi pelopor produk reksadana dengan konsep multi share class di Indonesia. Produk reksadana ini menawarkan beberapa tipe kelas bagi investor.

Kekuatan produk juga menjadi faktor kesuksesan MAMI. Selain produk multi share class itu, MAMI saat ini sudah memiliki 28 produk reksadana, 40 kontrak pengelolaan dana dan satu perjanjian penasihat investasi.

Adapun faktor lain yang mempengaruhi kesuksesan MAMI adalah dukungan berbagai pihak seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK), self regulatory organization (SRO) seperti Bursa Efek Indonesia (BEI), Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dan Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) serta pihak lainnya.

"Faktor lainnya adalah tata kelola perusahaan yang kuat," ucap Afifa.

Dana Kelolaan

Dari sisi dana kelolaan, MAMI tetap bisa mencatat total AUM (termasuk reksadana dan Kontrak Pengelolaan Dana/KPD) Rp97,2 triliun pada akhir 2020 atau meningkat 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara pada semester pertama tahun ini, total AUM MAMI bertumbuh 8 persen menjadi Rp104,7 triliun.

Khusus untuk reksadana, MAMI membukukan dana kelolaan Rp56,6 triliun pada semester I 2021 atau meningkat 93 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari data yang dikutip dari OJK tersebut, MAMI menempati peringkat pertama di antara perusahaan manajer investasi di Indonesia dari segi AUM. Data OJK juga menunjukkan MAMI berada di peringkat teratas pada kategori AUM reksadana pendapatan tetap dan AUM reksadana syariah.

Ke depan, Afifa menyatakan pertumbuhan dana kelolaan MAMI dan juga industri reksa dana secara keseluruhan akan lebih meningkat. Pertumbuhan ini juga seiring dengan mulai bertambahnya investor pasar modal di Indonesia yang saat ini sudah mencapai 5,82 juta orang per Juli 2021.

"Jumlah AUM reksadana di Indonesia masih rendah sekali, yakni baru 3,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Jumlah investornya juga tidak sampai 2 persen dari jumlah penduduk sehingga masih banyak investor yang belum terjamah," kata dia.

(K09/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.