Ini Reksadana Favorit Investor Ritel dan Institusi di Tengah Gejolak Pasar

Abdul Malik • 03 Jun 2021

an image
Ilustrasi seorang investor gembira melihat perkembangan investasinya di reksadsana. (shutterstock)

Saat ini kondisi perekonomian domestik belum pulih sepenuhnya akibat pandemi yang masih berlangsung

Bareksa.com - Saat pasar sedang bergejolak seperti sekarang ini, reksadana jenis apa yang menjadi pilihan terfavorit investor ritel dan institusi?

Direktur Avrist Asset Management, Farash Farich menyatakaninvestor individual atau ritel, lebih banyak mengincar produk reksadana berbasis indeks saham.

Untuk situasi saat ini yang mana ekonomi membaik bertahap dan berpotensi diikuti kenaikan inflasi, instumen yang paling cocok adalah reksadana berbasis saham, terlebih valuasi saat ini tidak mahal secara umum.

"Namun, instrumen ini (reksadana saham) cocok untuk jangka panjang," kata Farash dilansir Bisnis.com (2/6/2021).

Menurut dia, kinerja positif reksadana pasar uang sepanjang tahun berjalan, memang sesuai dengan karakter dasar instrumen tersebut yang memiliki potensi tinggi memberikan imbal hasil positif.

Alasannya, karena isinya adalah deposito dan obligasi dengan durasi sangat pendek sehingga kecil dampak perubahan interest rate terhadap fluktuasi nilai pasar portofolionya.

"Beda dengan obligasi jangka lebih panjang dan saham," lanjutnya.

Farash mengaku di Avrist AM, minat investor terhadap reksadana pasar uang terbilang tinggi khususnya oleh kalangan investor institusi yang membutuhkan instrumen untuk keperluan pengelolaan likuiditas jangka pendek.

"Bank lebih banyak di pasar uang, kalau asuransi dan dana pensiun memang masih tetap banyak alokasi di pendapatan tetap untuk mendapatkan hasil investasi rutin dan untuk matching umur aset dengan liabilitasnya," papar Farash.

Senada, Chief Investment Officer KISI Asset Management, Susanto Chandra menilai reksadana pasar uang paling diminati oleh investor institusi. Alasannya reksadana saham dan reksadana pendapatan seharusnya berada dalam fase uptrend tahun ini, tetapi kenyataannya belum dapat naik secara konsisten, makanya reksadana pasar uang lebih diminati.

Susanto menjelaskan saat ini kondisi perekonomian domestik yang belum pulih sepenuhnya akibat pandemi yang masih berlangsung, serta pemulihan ekonomi negara maju yang diprediksi lebih cepat pulih dibanding negara berkembang akibat tingkat vaksinasi yang lebih cepat menjadi penyebabnya.

"Kami melihat apabila vaksinasi dapat dilakukan sesuai dengan target pemerintah dan tingkat virus Covid-19 dapat terkendali dengan baik, maka secara perlahan kelas aset saham dan pendapatan tetap dapat mencetak imbal hasil yang positif," jelasnya.

(Martina Priyanti/AM)

​***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.