Reksadana Saham dan Pendapatan Tetap Diprediksi Tumbuh hingga Akhir Tahun

Abdul Malik • 07 May 2021

an image
Ilustrasi investasi di reksadana saham yang terus bertumbuh di tengah gejolak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (Shutterstock)

Pertumbuhan ekonomi yang semakin membaik akan berpotensi menguatkan capital inflow ke pasar keuangan Indonesia

Bareksa.com - Ekonomi yang berangsur membaik, dinilai menjadi katalis positif bagi kinerja reksadana saham dan reksadana pendapatan tetap. Penilaian tersebut terkait rilis Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai data pertumbuhan ekonomi triwulan I 2021.

Pada Rabu (5/5/2021), BPS menyebutkan pada tiga bulan pertama 2021 minus 0,96 persen dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter on quarter/QoQ). Sementara dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/YoY), ekonomi Indonesia tumbuh berkurang 0,74 persen. Realisasi pertumbuhan itu tidak jauh dari ekspektasi pasar.

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan PDB terkontraksi 1,09 persen QoQ, sementara secara tahunan diperkirakan terjadi kontraksi 0,87 persen YoY. Hasil yang sedikit lebih baik di atas konsensus tersebut menunjukkan pertumbuhan ekonomi domestik cukup solid, meskipun masih mengalami kontraksi.

Pertumbuhan ekonomi terjadi secara konsisten sejak perekonomian menghadapi guncangan akibat pandemi Covid-19 dan mengalami kontraksi pada triwulan II 2020.

Billy Nugraha, Fund Manager Avrist Asset Management menyatakan pertumbuhan ekonomi yang semakin membaik akan berpotensi menguatkan capital inflow ke pasar keuangan Indonesia. Hal ini akan berdampak positif terhadap iklim investasi di Indonesia.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi yang semakin baik juga mencerminkan laba (earning) perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia juga mengalami peningkatan sehingga mendorong investor untuk masuk kembali ke pasar saham.

"Reksadana saham dan fixed income secara garis besar berpotensi bagus jika ekonomi Indonesia berangsur membaik," kata Billy kepada Bareksa, Rabu malam (6/5/2021).

Dia menyampaikan sebelumnya transaksi keuangan memang cenderung sepi tercermin dari transaksi harian bursa saham.

"Mayoritas investor masih wait and see atau malah mengamankan posisi cash. Jika diliat secara data industri reksadana secara keseluruhan dari awal tahun sedang mengalami perlambatan atau pertumbuhan dana kelolaan manajer investasi minus," lanjut Billy.

Produk Avrist AM

Mengenai produk Avrist AM yang direkomendasikan, Billy mengatakan terdapat produk reksadana Avrist Indeks IDX30 yang bisa dipilih.

"Di tengah fluktuasi yang semakin tinggi untuk bisa meng-capture return bila gairah investor ke pasar saham kembali meningkat khususnya minat investor asing," katanya.

Dia melanjutkan reksadana Avrist Ada Kas Mutiara sebagai salah satu alternatif bila investor ingin memiliki investasi dengan risiko yang rendah dan imbal hasil diatas deposito.

Apapun jenis dan produk reksadana yang Anda pilih, pastikan lebih dahulu sesuai dengan profil risiko Anda ya.

(Martina Priyanti/AM)

​***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.