Budi Hikmat : Ekonomi Mulai Pulih, Aset Saham Jadi Pilihan Menarik

Abdul Malik • 19 Apr 2021

an image
Chief Economist and Director for Investor Relation at Bahana TCW Investment Management, Budi Hikmat. (Bareksa.com/ Alfin Tofler)

Perekonomian dunia dan Indonesia telah menunjukkan pemulihan, namun market belum bereaksi positif terhadap perbaikan tersebut

budiBareksa.com - Lembaga Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia dibanding proyeksi sebelumnya.

Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang sebelumnya diproyeksi hanya 5,1 persen pada 2021, kini naik menjadi 6,4 persen. Sementara, proyeksi ekonomi negara berkembang di Asia juga meningkat dari awalnya pada 8,3 persen di tahun 2021 menjadi 8,6 persen.

Kepala Makroekonomi dan Direktur Strategi Investasi PT Bahana TCW Investment Management, Budi Hikmat menyebut ada sejumlah faktor yang memperlambat aset investasi untuk menguat.

“Pemulihan ekonomi di AS yang ditandai dengan beberapa indikator, seperti kenaikan inflasi, Purchasing Managing Index (PMI) survey di atas level 50 (angka netral), dan penyesuaian harga bond yield dari 0,7 ke 1,8. Hal ini telah memicu kekuatiran market terhadap potensi penghentian stimulus dari Bank Sentral The Fed. Market teringat pada peristiwa taper tantrum pada 2013. Akan tetapi, kondisi saat ini berbeda dari tahun 2013 lalu,” ungkap Budi Hikmat, dalam keterangannya Senin (19/4).

Pada 2013, pimpinan The Fed, Ben Bernanke mengumumkan The Fed akan mengurangi pembelian obligasi di masa tertentu. Hal ini diumumkan setelah ekonomi AS sempat pulih pasca krisis finansial 2008. yang memaksa The Fed untuk menggelontorkan stimulus dengan membeli surat utang (treasury bonds) hampir US$2 triliun.

Di pasar saham Indonesia, dana asing keluar sebesar US$6 miliar sejak 2013. Indonesia juga termasuk ke dalam The Fragile Five, bersama dengan India, Afrika Selatan, Brazil, dan Turki, akibat ketergantungan negara terhadap investasi asing dan tingginya defisit transaksi berjalan yang mencapai 3 persen terhadap PDB pada 2013.

Akan tetapi, Bahana TCW yang merupakan anak usaha dari holding BUMN Asuransi dan Penjaminan (IFG Group), melihat jika kondisi Indonesia saat ini jauh dari kerapuhan ekonomi di tahun 2013.

Saat ini, current account terhadap GDP (CA/GDP) hanya 0,45 persen, inflasi terjaga di level 1,37 persen, utang luar negeri terhadap GDP di level 10,71 persen. Pada 2013, CA/GDP mencapai 3 persen, inflasi di level 4,86 persen, utang luar negeri terhadap GDP di level 11,53 persen.

Indonesia juga mempunyai cadangan dolar AS lebih besar pada tahun ini, yakni US$137 miliar dibandingkan tahun 2013 yang sebesar US$107 miliar.

"Di sisi eksternal, Amerika masih terus menyuntikan stimulus yang masif sehingga mendorong pemulihan ekonomi negeri Paman Sam tersebut lebih cepat," Budi memaparkan.

Kepemilikan Bank di SBN dan Saham

Sayangnya, dengan sejumlah indikator ekonomi Indonesia yang cukup kuat, kata Budi, penyaluran kredit dari perbankan masih rendah. Tahun ini, penyaluran kredit perbankan masih minus 2,09 persen dibandingkan penyaluran kredit di 2013 yang hampir mencapai 22 persen.

"Hal ini karena perbankan memilih membeli SBN dibandingkan penyaluran kredit. Saat ini, kepemilikan bank di SBN mencapai Rp1.600 triliun, jauh melebihi asing.

Adapun, penguatan ekonomi Indonesia masih terbatas karena dana asing yang masuk ke pasar saham masih terbatas dibandingkan investor domestik. Indonesia juga hanya baru mengamankan pasokan vaksin sekitar 64 persen dari total penduduk, akibat beberapa negara produsen menahan ekspor vaksin untuk mengamankan kebutuhan nasional.

"Kepemilikan investor domestik ritel terhadap market tampaknya mendominasi IHSG, dengan kepemilikan retail investor terhadap market mencapai 21 persen, dan volume transaksi mencapai 75 persen. Sementara, asing masih belum terlihat aktif di pasar saham," ungkap Budi.

Fundamental rupiah masih relatif kuat, menurut Budi, ditopang oleh kenaikan harga komoditas yang kuat dan mengimbangi kenaikan harga impor minyak. Untuk strategi investasi, PT Bahana TCW Investment Management melihat aset saham berpotensi lebih besar ketimbang pasar obligasi maupun pasar uang.

“Kami melihat saat ini market bereaksi negatif terhadap sentimen positif. Meski demikian, kami melihat bahwa pasar saham akan menguat dengan melihat indikator ISLVE yang kami lihat,” ungkap Budi Hikmat.

Indikator ISLVE (Interest Rate - Sentiment - Valuation - Liquidity - Earning), Budi mengungkapkan, didasari pada interest rate (suku bunga) yang relatif rendah berpotensi memperkuat daya beli masyarakat dan berpotensi menguatkan saham-saham siklikal seperti saham properti dan otomotif.

Valuasi IHSG yang cukup murah. Sementara, likuiditas di pasar saham perlahan masuk namun tak kencang. Meski demikian, indikator earning (laba) masih belum terlihat menarik, dan akan melihat obligasi korporasi yang direstrukturisasi.

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.