IHSG Awali Desember dengan Mulus, Reksadana Saham Melesat

Abdul Malik • 03 Dec 2020

an image
Refleksi sejumlah karyawan melakukan donor darah dengan latar belakang pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (7/8/2109). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/pd.

Sudah dua hari beruntun bursa saham Tanah Air mencatatkan kenaikan di atas 1 persen

Bareksa.com - Bulan Desember tampaknya memang akan menjadi periode yang menyenangkan bagi pelaku pasar modal. Bagaimana tidak? Sudah dua hari beruntun bursa saham Tanah Air mencatatkan kenaikan di atas 1 persen.

Menutup perdagangan Rabu (2/11/2020), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil melesat 1,56 persen ke level 5.813,99. Sekadar informasi, ini merupakan penutupan tertinggi IHSG pasca jatuh diserang pandemi Covid-19 pada bulan Maret silam.

Sentimen positif yang menjadi motor penggerak bursa saham domestik datang utamanya dari faktor stimulus jumbo Amerika Serikat (AS) yang akan kembali dibicarakan.

Dalam keterangan tertulis, Ketua House of Representatives (salah satu dari dua kamar yang membentuk kongres) Nancy Pelosi mengatakan Menteri Keuangan Steven Mnuchin akan mengkaji proposal yang diajukan kubu Partai Demokrat. Salah satunya adalah pemberian vaksin anti-virus corona harus gratis dan bisa dinikmati oleh siapa saja.

Keputusan stimulus harus cepat, karena tenggat waktu pengesahan anggaran tahun fiskal 2021 adalah 11 Desember 2020. Jika anggaran negara disahkan tanpa stimulus, maka berbagai subsidi termasuk Bantuan Langsung Tunai (BLT) tidak bisa dieksekusi.

Sentimen positif lain datang dari kabar mengenai dua vaksin Covid-19 yakni Pfizer dan Moderna yang penilaian mengenai kesiapan edar vaksin yang dinilai oleh Agensi Obat-obatan Uni Eropa yang bisa saja muncul akhir tahun ini.

Pasar saham global, termasuk Indonesia memang paling suka terhadap berita mengenai vaksin dimana ketika perkembangan vaksin positif maka para pelaku pasar menganggap hidup normal setelah vaksinasi massal akan semakin dekat, maka roda perekonomian akan kembali berputar dan akan menguntungkan pasar modal sehingga optimisme membeli saham semakin kuat.

Stimulus jumbo yang akan diperbincangkan Mnuchin dan Pelosi juga akan membawa kabar positif tersendiri bagi bursa saham negara-negara emerging market terutama Indonesia yang masih menjadi primadona untuk kategori ini.

Apabila nantinya stimulus jumbo ini cair maka peredaran dolar AS akan naik sehingga nilainya turun sehingga aset-aset dalam negeri akan menjadi kurang menarik sehingga investor global cenderung mengalihkan dananya ke negara-negara emerging market seperti Indonesia yang akan siap kebanjiran dana asing.

Reksadana Berbasis Saham Dominasi Return Harian

Kondisi IHSG yang berakhir di zona hijau pada perdagangan kemarin, turut memberikan sentimen positif terhadap kinerja reksadana, terutama yang berbasiskan saham dalam portofolionya.

Sumber: Bareksa

Berdasarkan reksadana yang dijual di Bareksa, delapan dari 10 besar reksadana dengan return harian tertinggi ditempati oleh produk reksadana saham, sementara dua produk lainnya dihuni oleh produk reksadana campuran.

Kondisi tersebut menandakan jenis reksadana saham merupakan jenis reksadana yang paling atraktif dan mampu memberikan keuntungan tinggi saat kondisi pasar saham positif, meskipun memiliki risiko yang paling besar dibandingkan dengan jenis reksadana lainnya.

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Reksadana saham adalah jenis reksadana yang menginvestasikan sekurang-kurangnya 80 persen dari aktivanya dalam bentuk efek bersifat ekuitas atau saham. Karena mayoritas portofolionya ada di efek saham, maka sifat dan pergerakan reksadana ini mirip dengan sifat dan pergerakan saham.

Reksadana saham ini memiliki fluktuasi tinggi, artinya bisa naik dan turun dalam jangka waktu cepat. Akan tetapi, dalam jangka waktu panjang, reksadana jenis ini berpotensi tumbuh lebih tinggi dibandingkan jenis produk lain.

Tujuan investasi reksadana saham adalah untuk pertumbuhan harga saham atau unit dalam jangka panjang. Risikonya relatif lebih tinggi dari reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap, tetapi memiliki potensi tingkat pengembalian yang paling tinggi (high risk high return).

Maka itu, investasi di reksadana saham cocok untuk investasi jangka panjang, di atas 5 tahun. Contoh tujuan keuangan jangka panjang adalah untuk pendidikan anak, liburan ke luar negeri, atau persiapan dana pensiun.

(KA01/Arief Budiman/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?
- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

​DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.