Berita / / Artikel

Daftar 10 Reksadana Return Tertinggi Agustus, Apa Saja Isi Portofolionya?

• 04 Sep 2020

an image
Karyawan mengambil gambar layar pergerakan harga saham dan IHSG di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (17/7/2020). ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/wsj.

Tercatat ada 4 reksadana kelolaan PT Manulife Aset Manajemen Indonesia dalam daftar top 10

Bareksa.com - Seiring melesatnya kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Agustus yang naik 4,64 persen ditutup di level 5.238, daftar reksadana yang membukukan kenaikan nilai aktiva bersih (NAB) per unit tertinggi juga diisi oleh produk yang berbasis saham.

Berdasarkan daftar reksadana yang dijual di Bareksa, top 10 reksadana imbal hasil tertinggi sepanjang Agustus 2020, mayoritas atau 8 di antaranya diisi reksadana saham. Dua lainnya diisi masing-masing 1 reksadana indeks dan 1 reksadana campuran. 10 reksadana tersebut membukukan imbal hasil 3,18 persen hingga 6,79 persen. 

Tercatat ada 4 reksadana kelolaan PT Manulife Aset Manajemen Indonesia dalam daftar top 10, yang kesemuanya reksadana saham. PT BNP Paribas Asset Management juga menempatkan 3 produk reksadananya. 4 dari 10 reksadana imbalan tertinggi Agustus 2020 merupakan reksadana dolar, yang menempati posisi 1-4.

Top 10 Reksadana Imbal Hasil Tertinggi Agustus 2020


Sumber : Bareksa

Apa saja isi portofolio 10 reksadana tersebut? Berikut ulasanya :

1. BNP Paribas Greater China Equity

BNP Paribas Greater China Equity kelolaan BNP Paribas AM menempati posisi pertama dengan return 6,79 persen sebulan pada Agustus 2020. Reksadana global yang diluncurkan pertengahan Januari tahun ini membukukan dana kelolaan US$40,65 juta per Juli 2020. Reksadana ini bisa dibeli di Bareksa dengan minimum pembelian awal US$10.000 


Sumber : Bareksa

Top holding portofolio reksadana ini menurut fund fact sheet Juli 2020 yaitu saham Alibaba Group Holding-SP ADR, China Mobile Ltd, JD.Com Inc-ADR, Sino Biopharmaceutical dan Wuxi Apptec Co Ltd-A.

2. BNP Paribas Cakra Syariah USD

Posisi kedua kembali ditempati reksadana kelolaan BNP Paribas AM, yakni BNP Paribas Cakra Syariah USD dengan imbalan 5,64 persen sebulan pada Agustus 2020. Reksadana dolar yang diluncurkan pada Februari 2016 ini memiliki dana kelolaan US$86,8 juta per Juli 2020, dan bisa dibeli di Bareksa dengan minimum pembelian awal US$10.000.


Sumber : Bareksa

Per Juli 2020, top holding portofolionya adalah saham Alphabet Inc, Apple Inc, Microsoft Corp, Procter & Gamble Co/The, dan Visa Inc.

3. Schroder Global Sharia Equity Fund

Reksadana kelolaan PT Schroder Investment Management Indonesia, Schroder Global Sharia Equity Fund berada di urutan ketiga dengan imbal hasil 5,41 persen sebulan pada Agustus 2020. Reksadana yang diluncurkan pada Februari 2016 ini mengelola dana investor US$68,2 juta pada Juli 2020 dan bisa dibeli di Bareksa dengan minimum pembelian awal US$10.000 dan pembelian maupun penjualan kembali minimal US$1.000. 


Sumber : Bareksa

Portofolio investasi reksadana ini per Juli 2020 di antaranya saham Alphabet Inc, Apple Inc, Facebook Inc, Home Depot dan Microsoft.

4. Manulife Greater Indonesia Fund

Reksadana dolar AS kelolaan Manulife Aset Manajemen Indonesia yakni Manulife Greater Indonesia Fund berada di posisi 4 dengan imbalan 4,41 persen. Reksadana yang diluncurkan pada September 2011 ini membukukan dana kelolaan US$37,2 juta per Juli 2020. Reksadana ini bisa dibeli di Bareksa dengan minimum pembelian awal US$100 dan pembelian selanjutnya US$10.

Portofolio investasinya berdasarkan fund fact sheet Juli 2020 di antaranya saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Panin Financial Tbk (PNLF), dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG).

5. Reksa Dana Indeks Syailendra MSCI Indonesia Value Index Fund

Reksadana indeks kelolaan PT Syailendra Capital yakni Reksa Dana Indeks Syailendra MSCI Indonesia Value Index Fund berada di urutan kelima dengan return 3,94 persen sebulan pada Agustus 2020. Reksadana yang diluncurkan pada Juni 2018 ini membukukan dana kelolaan Rp651 miliar per Juli dan bisa dibeli di Bareksa dengan minimum pembelian awal Rp50.000. 


Sumber : Bareksa

Portofolio investasi reksadana ini per Juli 2020 di antaranya saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Astra International Tbk (ASII), PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR).

6. Manulife Saham Andalan

Posisi keenam kembali ditempati reksadana kelolaan Manulife AM yakni Manulife Saham Andalan dengan return 3,79 persen sebulan pada Agustus 2020. Produk reksadana yang diluncurkan pada November 2007 ini mengelola dana investor Rp424,4 miliar per Juli 2020 dan bisa dibeli di Bareksa dengan minimum pembelian awal Rp100.000. 


Sumber : Bareksa

Portofolio investasi per Juli 2020, di antaranya saham ASII, BMRI, MDKA, TLKM dan TBIG.

7. Manulife Saham SMC Plus

Posisi 7 kembali ditempati reksadana Manulife AM yakni Manulife Saham SMC Plus dengan return 3,75 persen sebulan. Produk reksadana yang diluncurkan pada Februari 2013 ini membukukan dana kelolaan Rp70,5 miliar per Juli 2020 dan bisa dibeli di Bareksa dengan minimum pembelian awal Rp100.000.


Sumber : Bareksa
Top holding portofolio reksadana ini per Juli 2020 di antaranya saham PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), dan PT Vale indonesia Tbk (INCO).

8. BNP Paribas Solaris

Posisi 8 kembali ditempati reksadana kelolaan BNP Paribas AM yakni BNP Paribas Solaris dengan imbalan 3,62 persen sebulan. Reksadana yang diluncurkan pada Mei 2008 ini memiliki dana kelolaan Rp313,8 miliar per Juli 2020.


Sumber : Bareksa

Portofolio investasinya per Juli 2020 di antaranya saham PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), PT Aneka Tambang Persero Tbk (ANTM), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dan INCO.

9. Setiabudi Dana Campuran

Reksadana campuran Setiabudi Dana Campuran kelolaan PT Setiabudi Investment Management berada di urutan 9 dengan imbalan 3,33 persen sebulan pada Agustus 2020. Reksadana yang diluncurkan pada September 2017 ini memiliki dana kelolaan Rp30,3 miliar pada Juli 2020.


Sumber : Bareksa

Portofolio investasinya pada Juli 2020, di antaranya saham ADRO, PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), obligasi pemerintah, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), obligasi PT Sampoerna Agro Tbk, obligasi PT Summarecon Agung Tbk, saham PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA), TLKM dan PT United Tractors Tbk (UNTR).

10. Manulife Dana Saham Kelas A

Posisi 10 kembali ditempati reksadana kelolaan Manulife Aset Manajemen Indonesia yakni Manulife Dana Saham Kelas A dengan imbalan 3,18 persen sebulan pada Agustus 2020. Reksadana yang diluncurkan pada Agustus 2003 ini mengelola dana investor Rp1,11 triliun dan bisa dibeli di Bareksa dengan minimum pembelian awal hanya Rp10.000.


Sumber : Bareksa

Portofolio investasi reksadana ini di antaranya saham ASII, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), BMRI, BBRI dan TLKM.

Reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Simak ulasan tips untuk memaksimalkan keuntungan berinvestasi di reksadana : Tips Menabung di Reksadana Agar Tujuan Investasi Dapat Tercapai. Investor disarankan untuk selalu menyesuaikan investasi dengan profil risikonya.

***

Ingin berinvestasi yang aman di reksadana dan diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.

Tags: