Reksadana Hari Ini : IHSG Melemah, Return Reksadana Pasar Uang Masih Stabil

Bareksa • 14 Apr 2020

an image
Ilustrasi investasi reksa dana dengan tujuan keuangan untuk membeli rumah yang disimbolkan dengan uang logam koin dan kertas

Capital Money Market Fund dan Sucorinvest Money Market Fund mencetak return 2,09 persen dan 2,02 YtD 2020

Bareksa.com - Berikut reksadana yang diperdagangkan di marketplace Bareksa dengan return tertinggi, beserta kinerja indeks benchmark periode sebulan terakhir :

Reksadana Saham

IHSG : -5,78 persen
Indeks Reksadana Saham : -5,54 persen
Manulife Saham SMC Plus : -2,82 persen

Indeks Reksadana Saham Syariah : -2,38 persen
Manulife Saham Syariah Asia Pasi?k Dollar AS : 0,59 persen

Reksadana Campuran

Indeks Reksadana Campuran : -3,65 persen
HPAM Flexi Plus : 4,59 persen

Indeks Reksadana Campuran Syariah : -1,03 persen
Cipta Syariah Balance : 0,34 persen

Reksadana Pendapatan Tetap

Indeks Reksadana Pendapatan Tetap: -2,61 persen
Schroder Dana Andalan II : -0,15 persen

Indeks Reksadana Pendapatan Tetap Syariah : -2,65 persen
Manulife Syariah Sukuk Indonesia : -1,96 persen

Reksadana Pasar Uang

Benchmark:
- Bunga deposito sebelum pajak dengan dana kurang dari Rp100 juta dan tenor satu bulan :
> BCA : 0,395 persen per bulan
> Bank Mandiri : 0,354 persen per bulan
> BNI : 0,354 persen per bulan
> BRI : 0,354 persen per bulan

Indeks Reksadana Pasar Uang : 0,16 persen
Sucorinvest Money Market Fund : 0,55 persen

Indeks Reksadana Pasar Uang Syariah : 0,34 persen
Syailendra Sharia Money Market Fund : 0,51 persen

Ringkasan Informasi Pasar

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 13 April 2020 turun 0,54 persen ke level 4.623,89.  Berdasarkan data id.investing.com (diakses 14/04/2020 pukul 06.00 WIB) benchmark obligasi pemerintah tercatat pada level 8,1 persen, pada 13 April 2020.

Di tengah melemahnya IHSG, reksadana pasar uang dapat dijadikan pilihan untuk berinvestasi jangka pendek. Di marketplace reksadana Bareksa, terdapat dua reksadana pasar uang yang mampu mencetak return 2,09 persen dan 2,02 persen dari sejak awal tahun hingga 13 April 2020 (year to date). Dua reksadana itu ialah Capital Money Market Fund dan Sucorinvest Money Market Fund.

Reksadana Capital Money Market Fund mencetak return 2,09 persen secara year to date. Berdasarkan fund fact sheet periode Maret 2020, portofolio investasi reksadana ini adalah Deposito Bank Amar, Deposito Bank BPD Banten, Deposito Bank Bukopin Syariah, Deposito Bank BPD Sulut, Deposito Bank J Trust, Deposito Bank Muamalat, Deposito Bank Victoria Syariah, Deposito Bank Panin Syariah, Obligasi Subordinasi Bank Mayapada II Tahun 2013, dan Obligasi Subordinasi Bank Victoria III Tahun 2013.

Reksadana Sucorinvest Money Market Fund mencetak return 2,02 persen secara year to date. Berdasarkan fund fact sheet periode Maret 2020, portofolio investasi reksadana ini adalah Obligasi Indonesia Eximbank (Persero), Obligasi Indosat Tbk, Obligasi Sarana Multi Infrastruktur (Persero), TD Bank BRI Agro, dan TD Bank BPD Jambi.

Reksadana ialah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Simak ulasan tips untuk memaksimalkan keuntungan berinvestasi di reksadana : Tips Menabung di Reksadana Agar Tujuan Investasi Dapat Tercapai

(AM)

***

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.