Reksadana Pasar Uang Ini Juara Return Pekan Ketiga Maret 2020 Saat Pasar Ambyar

Bareksa • 23 Mar 2020

an image
Petugas mengitung uang rupiah di salah satu gerai penukaran uang asing di Jakarta. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/foc)

Prospera Dana Lancar menjadi produk reksadana yang naik tertinggi 0,32 persen sepanjang pekan lalu

Bareksa.com - Mengakhiri pekan ketiga di Maret 2020, bursa saham Tanah Air masih mengalami tekanan hebat sepanjang pekan lalu, sama seperti pekan sebelumnya. Dalam periode 16 – 20 Maret 2020, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 14,52 persen ke level 4.194,94, menjadikannya kinerja mingguan terburuk sejak tahun 1998 di era krisis moneter.

Tak lain dan tak bukan, penyebab utama aksi jual di bursa saham tersebut adalah masih dari penyebaran wabah virus corona atau COVID-19 yang melonjak di luar China.


Sumber: Johns Hopkins University & Medicine

Sejauh ini hingga 23 Maret 2020 pagi, COVID-19 telah menyebar hingga ke 171 negara dan wilayah kedaulatan di seluruh dunia, menginfeksi 331.273 orang. Angka kesembuhan mencapai 97.847 orang, sedangkan angka kematian mencapai 14.450 jiwa.

Wabah yang sudah resmi dinyatakan sebagai pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) ini memang dikhawatirkan akan menekan pertumbuhan ekonomi global cukup dalam.

Lembaga riset global, Moody's Analytics, memprediksi virus corona Wuhan (COVID-19) dapat menekan pertumbuhan ekonomi China pada 2020 menjadi tinggal 5,4 persen dari angka pertumbuhan tahun lalu 6 persen.

Selain berdampak pada ekonomi China, ekonomi AS juga akan diprediksi akan melambat 0,6 ppt (persentase poin) dan hanya dapat tumbuh 1,3 persen pada kuartal I 2020. Tahun ini, ekonomi AS diprediksi melambat 0,2 ppt dari prediksi awal 2 persen atau artinya hanya tumbuh 1,7 persen.

Dengan penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi di China dan AS itu, maka dampaknya diprediksi dapat membuat pertumbuhan ekonomi dunia melambat 0,4 ppt menjadi 2,4 persen tahun ini dari prediksi awal 2,8 persen

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati juga pernah menyatakan jika perekonomian China melambat 1 persen, maka pertumbuhan ekonomi RI bisa terpangkas 0,3-0,6 persen. Itu baru China saja, belum lagi negara-negara lainnya, tentunya ekonomi Indonesia bisa lebih tertekan.

Reksadana Pasar Uang Ini Juara Return Mingguan

Di tengah kondisi bursa saham yang anjlok sepanjang pekan kemarin, hal tersebut tentu membuat kinerja reksadana secara umum turut mengalami tekanan serupa.

Namun di sisi lain, ternyata terdapat reksadana pasar uang justru masih mampu mencatatkan kenaikan mingguan tertinggi. Berdasarkan reksadana yang dijual di Bareksa, Prospera Dana Lancar menjadi produk reksadana yang naik tertinggi 0,32 persen sepanjang pekan lalu.


Sumber: Bareksa

Prospera Dana Lancar bertujuan untuk memperoleh pendapatan yang optimal berupa pertumbuhan nilai investasi dan memberikan tingkat likuiditas yang tinggi guna memenuhi kebutuhan dana tunai dalam waktu yang relatif singkat.

Hingga Februari 2020, reksadana yang dikelola oleh PT Prospera Asset Management ini memiliki dana kelolaan (asset under management/AUM) senilai Rp112,64 miliar.

Mengacu kepada fund fact sheet per Januari 2020, beberapa top holding assets dalam portofolio Prospera Dana Lancar antara lain :

• Obl Bkljt III Indosat Tahap II tahun 2019 seri A
• Obl Bkjlt II AMRT Tahap I Tahun 2017
• Obl Bkljt I SMF Tahap VII Tahun 2017 B
• Obl Bkjlt III AMDF Tahap I Tahun 2015 Seri B
• Obl Bkljt II Bank Exim Tahap 5 Tahun 2015 seri C

Sebagai informasi, Prospera Dana Lancar dapat dibeli di Bareksa dengan minimal pembelian awal Rp100.000. Reksadana yang diluncurkan sejak 25 Agustus 2016 ini bekerja sama dengan bank kustodian PT Bank CIMB Niaga Tbk.

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Sementara itu, reksadana pasar uang adalah jenis reksadana yang melakukan investasi pada jenis instrumen investasi pasar uang dangan masa jatuh tempo kurang dari satu tahun.

Bentuk instrumen investasinya dapat berupa time deposit (deposito berjangka), certificate of deposit (sertifikat deposito), Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Surat Berharga Pasar Uang (SBPU) dan berbagai jenis instrumen investasi pasar uang lainnya.

Tujuannya untuk menjaga likuiditas dan pemeliharaan modal. Risikonya relatif paling rendah dibandingkan reksadana jenis lainnya.

(KA01/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.