Dominasi Pertumbuhan Return Tertinggi, Begini Cara Kerja Reksadana Indeks

Bareksa • 22 Jan 2020

an image
Karyawan beraktivitas di dekat grafik pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (2/8/2019). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 41.36 poin atau 0,65 persen ke level 6,340.18. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/wsj.

6 dari 10 produk reksadana yang mencatat return tertinggi sepanjang pekan lalu ialah reksadana indeks

Bareksa.com - Belakangan ini, kinerja reksadana indeks mendominasi jajaran teratas imbal hasil mingguan pada pekan lalu. Reksadana indeks ialah jenis reksadana yang dikelola untuk mendapatkan hasil investasi yang mirip dengan suatu indeks yang dijadikan acuan (benchmark), baik itu indeks obligasi maupun indeks saham.

Indeks yang ditiru merupakan indeks yang berasal pasar saham maupun obligasi. Untuk pasar saham, biasanya indeks yang ditiru adalah indeks sektoral, indeks LQ45, indeks IDX30, indeks JII, dan indeks lainnya.

Karena meniru pergerakan suatu indeks, maka komposisi portofolio dari reksadana indeks tergantung dari daftar efek yang masuk ke dalam indeks tersebut. Misalnya reksadana indeks IDX-30 maka portofolio dari reksadana tersebut berisi saham-saham yang masuk dalam indeks IDX-30.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang pekan lalu mencatatkan kinerja positif dengan menguat 0,27 persen secara mingguan ke level 6.291,66, sekaligus menjadi penguatan mingguan pertama di tahun 2020. Penguatan ini seiring dengan pembelian investor asing yang melakukan aksi pembelian bersih (net buy) senilai Rp762,5 miliar di semua pasar sepekan lalu.

Penguatan bursa saham Tanah Air sepanjang pekan lalu turut berdampak positif terhadap indeks-indeks saham yang ada, termasuk reksadana yang berbasiskan indeks.

Berdasarkan data Bareksa, 10 besar produk reksadana yang tersedia di marketplace Bareksa dengan imbal hasil (return) tertinggi mingguan mayoritas ditempati oleh jenis reksadana indeks, yakni sebanyak 6 produk reksadana.

Reksadana Return Tertinggi Sepekan di Bareksa (per 17 Januari 2020)

Sumber: Bareksa

Sistem Kerja Reksadana Indeks

Berbeda dengan reksadana konvensional yang berusaha mengalahkan benchmark, target dari reksadana indeks adalah menyamainya. Jadi daripada dikelola secara aktif, pendekatan dari reksadana indeks adalah secara pasif dengan menyusun portofolio investasi menyerupai indeks acuannya.

Karena komposisinya mirip atau bahkan persis dengan indeks acuan, maka hasilnya juga tentunya akan mirip dengan indeks acuannya. Cara ini dikenal pula dengan strategi manajemen pasif (passive management strategy).

Pengelolaan secara pasif menghasilkan efisiensi biaya karena manajer investasi tidak memerlukan tenaga analis yang banyak untuk menganalisis saham atau obligasi sebuah perusahaan.

Kemudian biaya transaksi juga menjadi lebih kecil karena manajer investasi tidak melakukan trading jual beli secara aktif. Karena itu, biaya reksadana indeks umumnya lebih kecil dibandingkan reksadana konvensional.

Baik buruknya kinerja reksadana ini tidak diukur dari seberapa besar return yang dihasilkan ataupun dari seberapa kecil risiko fluktuasi harga, melainkan dari selisih antara kinerja reksadana dengan indeks acuan yang biasa disebut dengan tracking error.

Proses peniruan indeks pada reksadana indeks umumnya dikategorikan menjadi dua, yaitu metode replikasi sempurna dan metode sampling. Pada metode replikasi sempurna, isi dan pembobotan portofolio akan sama persis seperti indeks yang dijadikan acuan reksadana tersebut.

Sementara metode sampling, manajer investasi tidak sepenuhnya mengalokasikan aset pada saham yang berada di indeks tersebut. Tapi hanya mengambil sekitar 80 persen dari seluruh saham yang terdaftar di indeks dan melakukan pembobotan sedemikian rupa sehingga pergerakannya menyerupai indeks.

Misalnya pada indeks IDX-30, terdapat 30 saham yang masuk ke dalam indeks tersebut. Maka reksadana yang menggunakan indeks IDX-30 sebagai acuan, minimal 24 saham yang terdaftar dalam indeks tersebut berada dalam portofolio reksadana tersebut.

Nah, besarnya proporsi tiap saham yang berada dalam portofolio sekitar 80 hingga 120 persen dari bobot saham tersebut terhadap indeks.

Contohnya, saham A memiliki bobot sekitar 8 persen dalam pergerakan indeks IDX-30. Maka proporsi minimum saham A dalam portofolio reksadana adalah 6,4 persen dari dana kelolaan dan maksimal 9,6 persen dari dana kelolaan reksadana tersebut.

Perlu diketahui, reksadana ialah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Reksadana indeks dikelola secara pasif dan berisikan aset saham-saham dalam indeks acuannya, yang bisa berfluktuasi dalam jangka pendek. Karena itu, reksadana indeks cocok untuk investasi jangka panjang dan untuk investor bertipe agresif.

(KA01/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.