IHSG Melemah 0,8 Persen dalam Sepekan, Reksadana Saham Ini Masih Untung

Bareksa • 18 Nov 2019

an image
Karyawan beraktivitas di dekat grafik pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (2/8/2019). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 41.36 poin atau 0,65 persen ke level 6,340.18. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/wsj.

Pergerakan IHSG dipengaruhi oleh sentimen global maupun lokal

Bareksa.com - Mengakhiri pekan kedua di bulan November 2019, kinerja pasar saham Indonesia terlihat cukup mengecewakan,di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah 0,8 persen secara mingguan ke level 6.128,35 pada penutupan perdagangan Jumat (15/11/2019).

Pergerakan IHSG dipengaruhi oleh sentimen global maupun lokal. Kelanjutan drama perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan China masih jadi sentimen global utama penggerak indeks saham dunia.

Perdagangan pekan lalu diwarnai oleh kesimpangsiuran kelanjutan negosiasi dagang antara dua raksasa ekonomi dunia. Sempat terdengar kabar keduanya sepakat menghapus bea masuk yang dikenakan pada produk AS maupun China.

Tak lama setelah kabar tersebut beredar, Trump akhirnya angkat bicara dan membantah isu tersebut. Dirinya menyebut belum menyetujui apa pun dan mengatakan bahwa China lebih ingin membuat kesepakatan ketimbang AS. Dalam kesempatan lain, pada pidatonya di acara New York Economic Club, Trump menyebut China curang.

"Sejak China masuk Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada tahun 2001, tidak ada negara yang memanipulasi atau memanfaatkan Amerika Serikat sebaik China. Saya tidak akan mengatakan "curang", tapi tidak ada yang lebih curang dari China, saya akan mengatakan itu," kata Trump, sebagaimana dilansir CNBC International.

Setelah membuat pelaku pasar kebingungan, akhirnya kabar gembira datang dari penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow. Larry menyebut negosiasi dengan Beijing berjalan konstruktif.

Larry mengatakan dua raksasa ekonomi dunia ini akan mencapai kesepakatan dalam waktu dekat setelah melakukan perundingan intensif melalui telepon. Sentimen inilah yang membuat mayoritas bursa Asia kompak melanggeng ke zona hijau pada penutupan perdagangan Jumat (15/11/2019), tak terkecuali IHSG.

Namun sentimen dari dalam negeri masih sedikit memberatkan laju bursa saham domestik. Hawa kelesuan konsumsi dan pelemahan daya beli masyarakat mulai terasa, hal itu tercermin dari beberapa indikator seperti data penjualan otomotif, penjualan ritel dan data lain yang sifatnya lebih makro seperti Indeks Keyakinan konsumen atau IKK.

Pada Oktober, penjualan mobil turun 9,5 persen year on year (YoY). Sudah empat bulan beruntun penjualan mobil berada di teritori negatif. Sementara penjualan sepeda motor turun 2 persen YoY pada Oktober. Dalam tiga bulan terakhir, penjualan motor terlihat dalam tren menurun.

Kemudian Bank Indonesia (BI) mengumumkan sepanjang September tahun ini, penjualan ritel hanya dapat tumbuh 0,7 persen YoY. Melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 1,1 persen dan menjadi laju terlemah sejak Juni 2019. Hawa kelesuan konsumsi dan daya beli masyarakat tanah air membuat IHSG jadi loyo pada pekan lalu.

Kondisi bursa saham domestik yang bergerak ke zona merah, turut memberikan sentimen negatif terhadap kinerja reksadana saham,di mana indeks reksadana saham turun 1,14 persen, dan indeks reksadana saham syariah terpangkas 0,91 persen dalam periode yang sama.


Sumber: Bareksa

Di tengah kondisi indeks reksadana saham yang mengalami tekanan, tercatat ada reksadana saham yang dijual Bareksa mampu membukukan imbal hasil positif dengan kenaikan di atas 1 persen sepanjang pekan lalu. Berikut ulasannya.

HPAM Syariah Ekuitas

Reksadana saham yang mencatatkan imbal hasil tertinggi sepanjang pekan lalu diraih oleh HPAM Syariah Ekuitas dengan kenaikan 2,09 persen.


Sumber: Bareksa

HPAM Syariah Ekuitas bertujuan untuk memberikan pertumbuhan nilai investasi dengan waktu panjang melalui penempatan pada efek syariah dengan mayoritas pada efek bersifat ekuitas yang termasuk dalam Daftar Efek Syariah.

Produk yang dikelola oleh PT Henan Putihrai Asset Management ini, hingga Oktober 2019 memiliki dana kelolaan (asset under management/AUM) senilai Rp346,62 miliar.

Sebagai informasi, HPAM Syariah Ekuitas dapat dibeli di Bareksa dengan minimal pembelian awal Rp100.000. Reksadana saham yang dilucurkan sejak 28 Agustus 2014 ini bekerja sama dengan bank kustodian PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

Reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Reksadana saham adalah reksadana yang mayoritas aset dalam portofolionya adalah instrumen aset saham atau efek ekuitas. Reksadana jenis ini berisiko berfluktuasi dalam jangka pendek tetapi berpotensi tumbuh dalam jangka panjang.

Maka dari itu, reksadana saham yang agresif disarankan untuk investor dengan profil risiko tinggi dan untuk investasi jangka panjang. Demi kenyamanan berinvestasi, pastikan dulu tujuan keuangan dan profil risiko Anda.

(KA01/AM)

***

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.