Berita / / Artikel

Reksadana Campuran Bangkit, CIMB Principal Balanced Strategic Plus Jadi Jawara

• 22 Jan 2019

an image
Ilustrasi investor pria karyawan pekerja kantoran duduk tersenyum sambil membayangkan hasil investasi saham reksadana obligasi surat utang dengan latar belakang grafik dan layar komputer.

Reksadana ini berhasil naik sebesar 5,18 persen sejak awal tahun 2019

Bareksa.com – Awal tahun 2019, kinerja reksadana campuran mulai bangkit, setelah tertekan cukup lama pada tahun 2018 karena pelemahan kondisi pasar saham dan obligasi.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau telah naik 4,09 persen sejak awal tahun. Hal ini disebabkan penguatan beberapa saham berkapitalisasi besar sejak awal tahun. Dengan kondisi tersebut, penurunan pada reksadana saham dan campuran yang memiliki saham dalam portofolionya pun tak terhindarkan. 

Selain itu, di pasar obligasi, pergerakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun bergerak dari 8,85 persen pada Oktober 2018 dan saat ini berada di level 8,09 persen. Mulai adanya penurunan yield berbanding terbalik dengan harga obligasi sehingga kondisi ini mengindikasikan pasar obligasi mulai membaik.

Kondisi IHSG dan pasar obligasi memberi pengaruh pada kinerja reksadana campuran, yang memiliki saham dan obligasi dalam portofolionya. Sejak awal tahun, rata-rata reksadana campuran, baik itu konvensional maupun syariah yang tergambarkan melalui indeks reksadana campuran dan indeks reksadana campuran syariah pun mencatatkan performa cukup baik, yaitu naik 2,4 persen dan 1,95 persen (per 18 Januari 2019).

Sebagai informasi, reksadana campuran mempunyai risiko lebih rendah, dibandingkan reksadana saham karena ada obligasi di dalam racikan portofolio. Sehingga bagi kamu dengan profil risiko menengah hingga tinggi tetapi ingin membatasi risiko, reksadana campuran cocok bagi kamu.

Lantas reksadana campuran apa yang bisa jadi pilihan?

Di saat pasar saham dan obligasi mulai membaik, sejumlah reksadana campuran yang tersedia di marketplace investasi Bareksa mampu melampaui kinerja indeksnya.

Duduk di peringkat pertama, reksadana CIMB-Principal Balance Strategic Plus yang dikelola oleh CIMB-Principal Asset Management berhasil naik sebesar 5,18 persen secara year to date (YTD). Nilai ini melampaui kinerja IHSG yang naik 4,09 persen dan di atas indeks reksadana campuran yang naik 2,24 persen

Sumber: Bareksa.com

Untuk mengetahui faktor pendorong peningkatan nilai aktiva bersih (NAB) reksadana CIMB-Principal Balanced Strategic Plus, yang menempati posisi jawara ini, mari kita lihat fund fact sheet periode Desember 2018.

CIMB-Principal Balanced Strategic Plus  bertujuan untuk memberikan hasil yang optimal untuk para investor dalam jangka menengah ataupun jangka panjang melalui proses investasi yang dilakukan secara selektif dan pengelolaan yang penuh kehati-hatian di pasar modal Indonesia pada efek bersifat ekuitas,efek bersifat utang, dan instrumen pasar uang.

Hingga 30 Desember 2018, alokasi portofolio CIMB- Principal Balance Strategic Plus, terdiri atas :

• 15,88 persen kas dan instrumen pasar uang
• 69,34 persen efek ekuitas (saham)
• 12,37 persen efek pendapatan tetap (obligasi)
•   2,41 persen pada instrumen lainnya

Sumber : fund fact sheet Desember 2018

Melansir dari fund fact sheet per Desember 2018, beberapa top holdings atau aset saham terbesar yang ada dalam portofolionya adalah :

- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI)
- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI)
- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI)
- PT Astra International Tbk (ASII)
- PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM)

Reksadana campuran merupakan pilihan cocok bagi Anda yang memiliki profil risiko sedang hingga tinggi. Produk jenis ini memiliki risiko gejolak yang lebih rendah dibandingkan saham tetapi  masih memberikan potensi pengembalian yang cukup menarik, karena memiliki alokasi aset sesuai dengan risiko profil dan tujuan investasi untuk investor moderat hingga agresif.

Karena alokasi tersebut dilakukan oleh manajer investasi, maka akan lebih sedikit godaan untuk melakukan perubahan alokasi yang berlebih dan mengakibatkan portofolio Anda menjadi tidak lagi sesuai dengan profil risiko dan tujuan investasi Anda.

Reksadana merupakan salah satu instrumen investasi yang ditujukan bagi calon investor yang tidak mempunyai keahlian dalam bidang investasi, tetapi mempunyai keinginan untuk mengalami pertumbuhan uang melalui investasi.

Secara sederhana, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi. Jika Anda berinvestasi di reksadana, berarti Anda menitipkan uang pada pihak yang sudah mengerti cara mengelolanya agar uang Anda berkembang.

Sebelum berinvestasi, ketahuilah dulu tujuan keuangan dan profil risiko untuk mendapatkan kenyamanan dalam memilih produk dan hasil yang maksimal. (hm/AM)

***

Catatan : Terjadi kekeliruan penulisan perihal top holding dalam portofolio yang sebelumnya tertulis saham INDF, UNVR, CPIN, TOWR, dan TPIA, seharusnya ditulis saham BMRI, BBNI, BBRI, ASII, dan TLKM. Redaksi Bareksa memohon maaf atas kekeliruan tersebut.

***

Ingin berinvestasi di reksadana?

 

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.

Tags: