Mana Lebih Penting, Investasi Dana Pensiun Atau Pendidikan Anak?

Bareksa • 27 Jan 2016

an image
Direktur MNC Asset Management, Suwito Haryanto. (Bareksa/Alfin Tofler)

Keduanya penting untuk dipenuhi.

Bareksa.com - Investasi untuk dana pensiun dan dana pendidikan anak adalah dua hal yang sama-sama penting. Keduanya merupakan keperluan jangka panjang yang wajib disiapkan.

Jika anda tidak kesulitan dengan dana, anda bisa saja menyediakan keduanya secara bersama-sama. Namun, jika keuangan terbatas, apa yang harus dilakukan? apa yang harus menjadi pilihan?

Direktur MNC Asset Management Suwito Haryanto, di Jakarta, Rabu 27 Januari 2015 mengatakan jika memang harus memilih, maka skala prioritas adalah berinvestasi untuk dana pensiun.

"Dana investasi pensiun lebih penting," katanya.

Ia mengatakan dana pendidikan cenderung sangat variatif. Bahkan masih banyak celah yang bisa dimanfaatkan, seperti jenis sekolah, kampus, beasiswa dan keperluan lainnya.

Selain itu, dana pendidikan anak dibutuhkan saat ini masih berada dalam usia kerja dan masih bisa dicari solusi dan kesempatan lainnya. Adapun dana pensiun, jika tidak disiapkan sejak dini maka akan menjadi permasalahan nantinya.

Saat pensiun, kita memerlukan biaya untuk hidup, sedangkan sumber pemasukan akan hilang. Selain itu sebagai orang tua, kini tidak bisa lagi berharap hidup akan ditanggung oleh anak-anak kita.

Suwito mengatakan memang pendidikan yang baik berkorelasi positif dengan kehidupan anak. Bukan tidak mungkin pendidikan juga akan menjamin keberhasilan sang anak.

Ia melanjutkan, untuk investasi dana pensiun disarankan menggunakan reksa dana berbasis saham. Alasannya untuk jangka panjang selama lima tahun ke atas reksa dana saham masih menjadi instrumen investasi yang memberi return terbesar.

Namun, jika anda sudah memasuki masa pensiun ada baiknya reksa dana saham tersebut dialihkan ke pasar uang. Jadi return yang didapatkan dari reksa dana saham bisa aman di reksa dana pasar uang dan return-nya bisa terukur.

"Kalau sudah masuk ke masa pensiun reksa dana sahamnya di switch ke pasar uang untuk mengamankan gain kita. Namun ini kembali lagi kepada profil risiko kita dan tidak menutup kemungkinan ketika pensiun untuk membeli saham atau reksa dana berbasis saham," katanya.