Berita / / Artikel

Dwita Harliani: Saya Menyesal Tidak Berinvestasi Reksa Dana Sejak Awal

• 18 Sep 2015

an image
Dwita Harliani, President Director Putera Sampoerna Foundation (kiri), Mungki Ariwibowo Adil, Head of Product Development and Management Mandiri Manajemen Investasi (kedua kiri) dan Widi Mulia B Three (kedua kanan) sedang berbicara dalam sesi I InvestDay Bareksa di Jakarta, Kamis 17 September 2015. (Bareksa/Alfin Tofler)

Kini hampir setiap bulan, Dwita menyisihkan sebagian dari penghasilannya untuk diinvestasikan di reksa dana

Bareksa.com – Albertina Dwita Harliani, Direktur Siswa Bangsa dari Putera Sampoerna Foundation sudah berinvestasi reksa dana selama 14 tahun. Tentunya sudah banyak yang dia alami dalam investasi, tetapi dia juga merasa menyesal.

“Yang saya sesalkan, kenapa saya tidak memahami investasi di reksa dana sejak saya awal kerja,” ungkap Dwita.

Saat awal kerja selain berinvestasi di properti berupa rumah, wanita yang memegang gelar Master Bisnis Internasional dari Alliant International University, San Diego ini juga sering menyisihkan uangnya untuk membeli mobil baru setiap 3 - 4 tahun sekali.

Tapi akhirnya Dwita menyadari salah satu hobinya untuk membeli mobil tersebut adalah investasi yang nilainya selalu menyusut setiap tahun.

Untuk menopang masa depan dan bekal pensiun, Dwita banyak mencari tahu investasi yang sesuai dengan tujuan hidupnya. Hingga akhirnya pada 2001 Dwita tergerak untuk mulai belajar mengenal berbagai instrumen investasi, berupa  reksa dana.

Apalagi pada saat krisis moneter 1998, Dwita mengenang betapa kebiasaan berinvestasi properti, mobil, perhiasan, dan surat berharga saja tidak cukup untuk bertahan hidup karena perlunya uang  tunai untuk membantu biaya sekolah adik dan kakaknya yang sedang kuliah di luar negeri. Saat itu harta likuid seperti tabungan, deposito dan mata uang asinglah yang sangat berguna untuk bertahan dari krisis. Sementara imbal hasil investasi dalam properti dan surat berharga lainnya jatuh saat krisis moneter.

Untuk menutupi keperluannya selama krisis yang menghantam ekonomi nasional itu, Dwita mencari tambahan penghasilan dengan mengajar treasury training di bank-bank dan perusahaan-perusahaan, hingga menyewakan kendaraannya untuk pengantin dan menjadi sulih suara di studio film.

Begitu sulitnya keadaan pada saat krisis sampai-sampai Dwita sempat terpaksa menggadaikan cincin berliannya. Namun, saat itu yang diterima Pegadaian hanya emas pengikatnya saja bukan berliannya.

Belajar dari pengalaman tersebut tentu Dwita tidak ingin jatuh di lubang yang sama. Maka, dia mulai mencari investasi yang menguntungkan, mudah dan memiliki likuiditas baik. Kriteria investasi tersebut akhirnya membuatnya menjatuhkan pilihan pada reksa dana.

Kini hampir setiap bulan, Dwita menyisihkan sebagian dari penghasilannya untuk diinvestasikan di reksa dana. Bahkan, ketika ada uang lebih, ia belikan juga reksa dana. "Saya sudah mengalami market yang naik turun. Ternyata, berinvestasi lewat reksa dana lebih menarik. Lebih tenang dibanding berinvestasi saham karena tidak perlu memantau perkembangannya setiap saat," kata Dwita.

Terutama kini dengan adanya portal keuangan seperti Bareksa yang telah bekerja samanya dengan Buana Capital, sebagai agen penjual, telah sangat membantu dan memudahkan dalam bertransaksi membeli reksa dana.

“Tidak ada alasan lagi untuk tidak ada waktu dalam berinvestasi di reksa dana. Dulu perlu ke tempat aset manajemen untuk beli suatu produk reksa dana tapi kini cukup masuk ke website Bareksa, pilih reksa dana yang akan di beli lalu klik tombol Beli, transfer dan selesai, sangat memudahkan,” kata Dwita.

Selain membeli, kita juga dapat melakukan pencarian dana secara online dan membandingkan produk-produk yang kita minati sesuai profil risiko kita.

Tags: