Bahana TCW: Ini 5 Faktor Penggerak Pasar Modal Sepekan

Hanum Kusuma Dewi • 12 Oct 2020

an image
Petugas membersihkan area ruang utama berlatar layar pergerakan harga saham dalam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (25/9/2020). ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

Kelima faktor mengindikasikan untuk bertahap melakukan rebalancing aset obligasi

Bareksa.com - Pasar saham global kompak menguat pekan lalu, seiring dengan berbagai sentimen dari luar negeri dan dalam negeri. Ada sejumlah isu yang perlu dipantau dan bisa menjadi pertimbangan dalam berinvestasi di pasar modal, termasuk saham, obligasi, dan reksadana. 

Di dalam negeri, disahkannya UU Cipta Kerja membawa angin segar bagi rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Kendati demikian, pasar obligasi cenderung flat tidak terdampak oleh UU Cipta Kerja. 

Sepanjang pekan lalu, rupiah menguat ke level Rp14.700 per dolar AS, IHSG naik 2,58 persen ke level 5.053 dan yield obligasi negara tenor acuan 10 tahun ditutup pada 6,91 persen.

Menurut riset Bahana TCW Watch Factor dari Bahana TCW Investment Management yang telah dibagikan kepada nasabah pada 12 Oktober 2020, ada lima faktor yang patut dicermati pekan ini.

1. UU Cipta Kerja

DPR telah menyetujui UU Cipta kerja pada 5 Oktober. Pro dan kontra terjadi dengan sebagian kalangan buruh menolak adanya pengurangan benefit. Di sisi lain, UU ini dinilai mampu menciptakan lapangan pekerjaan dari meningkatnya investasi asing langsung atau Foreign Direct Investment (FDI) yang akan datang.

2. Penguatan Rupiah 

Rupiah menguat 1,04 persen pekan lalu, sekaligus mencatatkan performa mingguan terbaik sejak bulan Mei. Penguatan ini terjadi di tengah pelemahan indeks dollar 0,84 persen. 

Penguatan rupiah pekan lalu belum diikuti oleh pasar obligasi karena masih adanya sentimen terkait independensi BI. Namun, rupiah yang stabil menguat tetap akan mendukung penguatan obligasi ke depan. 

3. Negosiasi Stimulus AS

Presiden Trump secara mengejutkan kembali membuka negosiasi stimulus setelah sebelumnya menyatakan menarik diri dari negosiasi. Bahkan nominal yang diajukan Trump meningkat dari US$1,6 triliun menjadi US$1,8 triliun. 

4. Data Ekonomi Eropa 

Rilis data ekonomi Eropa pekan lalu menunjukkan pemulihan ekonomi terus berjalan. Purchasing Manager Index (PMI) September bertahan di area ekspansi 50,4, di atas konsensus 50,1. Selain itu, penjualan ritel Agustus terus meningkat mencapai 3,7 persen YoY, membaik dari 0,4 persen YoY pada Juli. 

5. Pembatasan Bertahap 

Sejumlah negara Eropa kembali menerapkan pembatasan sosial. Perancis, Polandia, dan Ceko kembali menerapkan pengetatan di sejumlah kota. Di AS, kota New York akan kembali menutup sekolah.

Pasar keuangan nampak belum merespon kondisi pandemi yang memburuk. Sentimen positif dari data ekonomi dan progres stimulus masih lebih mendominasi.

Menurut Bahana TCW, kelima faktor pilihan di atas mengindikasikan untuk bertahap melakukan rebalancing (penyesuaian alokasi) aset obligasi. Alokasi kelas aset yang disarankan dengan porsi dari yang terbesar adalah obligasi, saham dan pasar uang.

"Volatilitas berpeluang meningkat mendekati pilpres AS. Pasar kini mempertimbangkan prospek pandemi dan respon kebijakan pemerintah." 

Dalam proyeksi dengan skenario dasar akhir tahun ini, Bahana memperkirakan Rupiah di level 14.640 per dolar AS, yield obligasi pemerintah 10 tahun di 6,76 persen dan IHSG di level 5.097. 

* * * 

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.