8 Hal Paling Dicermati Investor Pekan Ini : Stimulus Fiskal AS hingga Sentimen Omnibus Law

Abdul Malik • 12 Oct 2020

an image
Personel kepolisian berusaha membubarkan pengunjuk rasa menggunakan water canon saat demonstrasi menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja di Harmoni, Jakarta, Kamis (8/10/2020). Aksi tersebut berakhir ricuh. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/aww.

Pasar keuangan fluktuatif akibat naik turunnya kemajuan perundingan stimulus fiskal Amerika Serikat

Bareksa.com - Bursa Efek Indonesia menyatakan sepanjang pekan lalu periode 5-9 Oktober 2020, pasar modal Indonesia mencatatkan pergerakan yang variatif dan ditutup di zona positif. Peningkatan tertinggi pada rata-rata nilai transaksi harian bursa yang melonjak tajam 24,22 persen menjadi Rp8,335 triliun dari Rp6,710 triliun pada penutupan pekan sebelumnya. Rata-rata volume transaksi juga naik 4,65 persen menjadi 11,024 miliar saham.

Kapitalisasi pasar bursa selama sepekan kemarin juga meningkat 2,58 persen menjadi Rp5.877,468 triliun. Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan pekan lalu naik 2,58 persen jadi 5.053 dari posisi 4.926,734 pada penutupan pekan sebelumnya. Namun rata-rata frekuensi harian selama sepekan turun 6,16 persen menjadi 578,849 ribu kali transaksi. Investor asing pada Jumat lalu mencatatkan jual bersih Rp89,53 miliar, sedangkan sepanjang tahun 2020 mencatatkan jual bersih Rp45,953 triliun.

Direktur Anugerah Mega Investama yang juga dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Trisakti, Hans Kwee menyatakan setidaknya ada 8 peristiwa yang kemungkinan akan mempengaruhi pergerakan IHSG dan paling dicermati investor pekan ini periode 12-16 Oktober. Delapan peristiwa tersebut ialah :

1. Pasar keuangan fluktuatif akibat naik turunnya kemajuan perundingan stimulus fiskal Amerika Serikat. Pasar sempat bereaksi negatif ketika Presiden AS Donald Trump membatalkan negosiasi pada awal pekan. Tetapi sesudah itu Trump memberikan dukungan stimulus terutama bantuan untuk maskapai penerbangan dan langkah-langkah stimulus lainnya. Namun Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS, Nancy Pelosi menolak gagasan RUU mandiri untuk bantuan maskapai penerbangan tanpa kesepakatan stimulus yang lain. Saat ini ekonomi AS sangat membutuhkan stimulus fiskal menyusul perlambatan pemulihan ekonomi yang terjadi.

2. Ketua DPR AS, Nancy Pelosi dan Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin, kembali gagal mencapai kesepakatan pada akhir pekan. Mnuchin mengajukan proposal baru pada Jumat sore, tetapi pembantu Pelosi mengatakan proposal tersebut tidak memiliki rencana luas dan rinci untuk mengatasi pandemi. Diperkirakan negosiasi paket stimulus fiskal untuk mengatasi Covid-19 akan terus berlanjut pada pekan ini. Biarpun kecil peluang tercapai kesepakatan sebelum Pemilu AS, tetapi kemajuan perundingan menjadi sentimen positif bagi pasar.

3. Pelaku pasar mulai mengantisipasi peluang kemungkinan kandidat presiden AS dari Partai Demokrat Joe Biden pada pemilihan presiden 3 November 2020. Setelah debat yang brutal pada bulan lalu, berhasil menaikan keunggulan Biden atas Trump dalam beberapa jajak pendapat nasional di AS. Kemenangan Biden dan Demokrat akan membuka peluang stimulus fiskal yang lebih besar sehingga mempercepat pemulihan ekonomi negatif tersebut. Kemenangan Biden diperkirakan akan membuat kebijakan ekonomi AS menjadi lebih pasti dan berbeda dengan Trump yang labil dan bisa berubah setiap saat tergantung mood. Hal ini juga berpeluang membuat dolar AS melemah dalam jangka panjang.

4. Jajak pendapat CNN empat pekan jelang pemilu AS menunjukan calon presiden dari Partai Demokrat Joe Biden unggul. Prediksi Electoral College CNN  mengestimasikan Biden bakal mampu melewati ambang batas 270 suara elektoral yang dibutuhkan untuk memenangkan pemilu pada 3 November 2020 mendatang. Biden diperkirakan akan memperoleh 290 suara elektoral. Sementara Capres petahana dari Partai Republik, Donald Trump, diprediksi hanya memperoleh 163 suara elektoral. UBS Asset Management memperkirakan kemungkinan Biden menangi Pilpres 75 persen. Keunggulan calon presiden kubu Demokrat, Joe Biden dengan peluang kemenangan yang besar dipandang mengurangi risiko Pilpres karena hasilnya akan sulit di gugat secara hukum.

5. Partai Demokrat AS setelah pemilu diperkirakan akan mengontrol Senat sehingga akan meloloskan paket stimulus fiskal lebih besar. Partai Republik diperkirakan kehilangan kendali atas Senat karena diperkirakan Partai Demokrat berpeluang menguasai hampir 70 persen kursi di Senat. Kemenangan Biden dan partai Demokrat memiliki efek menenangkan pasar keuangan, mengurangi volatilitas pasar dan berkurangnya risiko perang dagang. Di sisi lain ada peluang terjadi kenaikan tarif pajak dan aturan yang lebih ketat. Hal ini juga meningkatkan minat terhadap mata uang yang selama ini dirugikan oleh perang dagang.

6. Popularitas Trump turun setelah debat dan akibat masuk rumah sakit karena postif Covid 19. Trump mungkin akan menaikan dukungannya dengan memberikan tekanan pada China untuk meraih kembali dukungan. Pemerintahan Trump dilaporkan mempertimbangkan untuk membatasi perusahaan raksasa China Ant Group dan Tencent di AS dengan alasan keamanan nasional. Ini bisa menjadi sentimen negatif yang mempengaruhi pasar keuangan. Presiden Trump berpeluang melakukan beberapa manuver terutama terkait perang dagang dengan China untuk menarik dukungan pemilih di AS, mengingat sebagian jajak pendapat menunjukan dia tertinggal dari capres Partai Demokrat.

7. Omnibus Law UU Cipta Lapangan Kerja oleh Dewan Perwakilan Rakyat yang disahkan memberikan banyak sentimen positif bagi dunia bisnis dan ekonomi Indonesia. Dampaknya memang akan terasa dalam jangka panjang. Sektor Manufaktur mendapatkan manfaat dan berpeluang mendapatkan relokasi pabrik dari China ke negara-negara Asia Tengara. Hal ini positif karena kemudahan investasi bagi pemodal asing akan mengurangi ketergantungan foreign inflow ke dunia keuangan. UU ini juga melindungi buruh dari potensi kehilangan pekerjaan akibat usaha pindah ke luar negeri, tutup karena kalah bersaing, investor asing tidak masuk untuk berusaha di Indonesia. UU juga dipandang positif bagi berbagai sektor usaha, meningkatkan investasi dan konsumsi domestik.

8. Aksi penolakan Omnibus Law UU Cipta Lapangan Kerja yang disahkan Dewan Perawakilan Rakyat biarpun berlangsung anarkis tidak membuat pelaku pasar panik. Pasar saham tetap positif karena biasanya aksi demo berlangsung jangka pendek dan tidak punya pengaruh besar pada perekonomian. Tetapi di tengah pandemi Covid-19 aksi demo akan menyebabkan klaster baru penyebaran virus Covid-19.

"Kami perkirakan akan terjadi lonjakan kasus positif covid 19 satu pekan setelah demo yang terjadi. Pemerintah perlu bertindak tegas dengan menindak segala bentuk demo anarkis dan terjadi pelanggaran protokol kesehatan untuk menekan peningkatan kasus covid 19," ungkap Hans dalam keterangannya (11/10/2020).

Menurut Hans, seluruh dunia termasuk Indonesia saat ini masih menghadapi peningkatan kasus Covid 19. Beberapa Negara menghadapi ancaman gelombang kedua menjelang musim digin. Pemerintah Provinsi DKI telah melonggarkan kebijakan pembatasan sosial berskala besar ke masa transisi mulai hari ini (12/10) hingga 25 Oktober 2020, setelah sebelumnya PSBB ketat.

"Beberapa sektor akan positif akibat dampak Omnibus Law. IHSG berpeluang konsolidasi melemah dengan support di level 5,001 sampai 4,881 dan resistance di level 5,099 sampai 5,187," ujar Hans.

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana