Kapan Pasar Saham Bisa Pulih ke Level Sebelum Krisis? Ini Data Historisnya

Bareksa • 21 Jul 2020

an image
Karyawan mengamati layar yang menampilkan informasi pergerakan harga saham di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (26/6/2020). (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/pras)

IHSG adalah leading economic indicator yang bergerak mendahului keadaan ekonomi riil

Bareksa.com - Pasar saham Indonesia sudah menguat dari titik terendahnya tahun ini pada Maret akibat tertekan krisis dari dampak pandemi virus corona Covid-19. Namun, bila dilihat sejak awal tahun, kinerja pasar saham masih negatif sehingga berdampak pada investasi berbasis saham seperti reksadana saham.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang menjadi acuan pasar modal Indonesia, sejak awal tahun hingga 20 Juli 2020 (year to date/ytd) tercatat turun 19,82 persen. Namun, bila dilihat sejak titik terendahnya pada 24 Maret 2020, IHSG kini sudah naik 28,28 persen hanya dalam waktu empat bulan saja.

IHSG yang menjadi cerminan pasar modal dikenal sebagai leading economic indicator. Artinya, bila IHSG naik, ekonomi Indonesia akan naik di masa depan. Sehingga, meski ekonomi secara riil belum menandakan pemulihan, pergerakan IHSG menandakan ekspektasi pelaku pasar terhadap ekonomi akan segera pulih.

Bagi kita yang berinvestasi di pasar saham atau reksadana saham, tentu mempertanyakan kapankah IHSG akan bangkit dan kembali ke level sebelum krisis akibat pandemi ini?

Grafik Pergerakan IHSG Year to Date

Sumber: Bursa Efek Indonesia, diolah Bareksa.com

Mengenai hal ini, tidak ada yang tahu jawaban pastinya karena semua bergantung pada kondisi penyebaran wabah ini. Namun, kita bisa melihat data historis bagaimana IHSG bisa pulih setelah melewati krisis-krisis lain di masa lampau.

Head of Wealth Management & Premier Banking Bank Commonwealth Ivan Jaya mengatakan bahwa berdasarkan data pada saat krisis sebelumnya, IHSG akan kembali naik setelah turun akibat krisis.

"Menurut data historis, waktu yang diperlukan IHSG untuk bergerak dari titik sebelum jatuh, hingga naik lagi ke titik tersebut sekitar 11 hingga 18 bulan," kata Ivan dalam sebuah acara diskusi online 14 Juli 2020.

Grafik Historikal Pergerakan IHSG Saat Krisis

Sumber: Presentasi Bank Commonwealth

Dia mencontohkan, pada waktu krisis keuangan global akibat gagal bayar kredit (mortgage) di Amerika Serikat pada 2008, IHSG anjlok sekitar 61 persen dalam waktu 10 bulan. Akan tetapi, IHSG bisa naik kembali 277 persen dalam dua tahun setelahnya.

"Dari titik sebelum jatuh ke level terendah, lalu kembali ke titik tersebut, IHSG membutuhkan 17 bulan," kata Ivan.

Kemudian, Ivan mengatakan, bagi investor yang tertarik berinvestasi di pasar saham atau reksadana saham, titik terendah itu adalah waktu terbaik untuk mendapatkan harga paling murah. "Jangan sampai kita ketinggalan," ujarnya.

Bila kita mengaplikasikannya pada kondisi saat ini, Ivan mengatakan perkiraan IHSG bisa kembali ke level sebelum jatuh pada April hingga Juni 2021. Melihat data historis, bila IHSG sudah kembali ke titik sebelum jatuh itu, IHSG akan bisa tumbuh lebih cepat daripada sebelumnya.

Saat ini, fundamental ekonomi Indonesia terbilang baik, dengan inflasi yang terjaga di kisaran 2-3 persen. Cadangan devisa (foreign reserve) Indonesia juga cukup besar di kisaran US$300 miliar. Tingkat kredit macet (NPL) perbankan juga terjaga di kisaran 3,8 persen, jauh lebih rendah dibandingkan dengan 30 persen saat krisis 2008 dan 1998.

Tips Investasi Reksadana Saham

IHSG adalah acuan pasar modal Indonesia yang mencerminkan ekspektasi investor terhadap kondisi ekonomi ke depannya. IHSG juga mencerminkan pasar saham dan investasi berbasis saham, seperti reksadana saham dan reksadana indeks saham.

Bagi investor yang mau membeli reksadana saham, Ivan mengatakan ada dua hal yang perlu diperhatikan. "Pertama, perhatikan profil risiko. Reksadana saham disarankan hanya untuk investor dengan profil risiko tinggi," ujarnya.

Reksadana saham, sesuai dengan isi portofolionya, berisikan saham yang harganya bisa naik-turun dalam waktu cepat. Namun, dalam jangka waktu yang panjang, reksadana saham berpotensi memberikan imbal hasil tinggi.

"Kedua, pastikan uang investasi reksadana adalah uang dingin, yaitu bukan uang yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Uang investasi reksadana saham sengaja dipisahkan untuk jangka panjang," jelas Ivan.

Reksadana adalah kumpulan dana dari masyarakat pemodal yang dikelola oleh manajer investasi dalam bentuk portofolio efek, seperti saham, obligasi dan pasar uang. Risiko reksadana beragam tergantung isi portofolionya.

Reksadana jenis pasar uang memiliki risiko paling rendah, diikuti dengan reksadana pendapatan tetap yang berisikan efek surat utang atau obligasi. Sementara itu, reksadana saham dan reksadana indeks saham memiliki risiko tinggi karena harga saham bisa berfluktuasi dalam jangka pendek.

***

Ingin berinvestasi yang aman di reksadana dan diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.