IHSG Turun Investasi di Reksadana Saham Anjlok, Apa Strategi Investor?

Bareksa • 14 Nov 2019

an image
Seorang investor takut untuk memilih saham. (123RF, Konstantin Sutyagin/Bareksa)

Seiring penurunan IHSG, nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat

Bareksa.com - Pasar modal Indonesia sedang tertekan dalam dua hari terakhir, seiring dengan pergerakan mayoritas bursa utama di Asia akibat sejumlah sentimen global. Hal ini membuat sejumlah investor reksadana, yang memiliki saham dalam portofolionya, ikut khawatir mengenai hasil investasi mereka.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang menjadi acuan pasar modal Indonesia, terpantau turun 1,01 persen ke 6.080,19 pada sesi pertama hari ini, 14 November 2019. Pergerakan hari ini melanjutkan penurunan 0,6 persen kemarin, dan secara year to date hingga penurupan kemarin 13 November 2019, IHSG sudah turun 0,84 persen.

Pada saat yang sama dengan penurunan IHSG, nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia, nilai tukar rupiah setara Rp14.098 per dolar AS, melemah dibandingkan kemarin Rp14.082 dan Rp14.059 pada Selasa.

Mendengar kondisi pasar tersebut, sejumlah investor pun khawatir nilai investasi mereka bisa tergerus, apalagi kalau hanya memiliki satu jenis produk saja. Meskipun demikian, investor reksadana yang memiliki profil risiko tinggi (risk taker) bisa menghadapinya dengan santai, bahkan mungkin memiliki strategi yang justru dapat mengambil keuntungan dalam kesempatan ini.

Strategi apakah itu?

Strategi yang tepat untuk mengatasi volatilitas pasar bagi yang berinvestasi reksadana adalah dengan asset allocation (alokasi aset).

Alokasi aset adalah strategi investasi dengan menentukan porsi atau memberi bobot tertentu masing-masing instrumen investasi atau aset terhadap portofolio untuk tujuan menyeimbangkan risiko dan imbal hasil (return).

Setidaknya ada tiga kelas aset yang biasa dipakai dalam reksadana, yakni saham, obligasi atau surat utang, serta kas atau setara kas. Setiap jenis aset ini memiliki tingkat risiko dan potensi imbal hasil berbeda, sehingga sifatnya berbeda tergantung jangka waktunya.

Setiap produk reksadana memiliki alokasi asetnya masing-masing. Hal ini juga bergantung pada jenis reksadananya. Misal, reksadana saham pasti memberi bobot yang besar pada aset saham sedangkan reksadana pasar uang beratnya bertumpu pada instrumen pasar uang seperti deposito dan obligasi yang jatuh tempo kurang dari setahun.

Kemudian, reksadana pendapatan tetap memiliki bobot besar pada aset bersifat utang atau obligasi. Terakhir, portofolio reksadana campuran terbagi-bagi ke saham, obligasi, dan pasar uang, yang masing-masing bobotnya maksimal 79 persen dari nilai aktiva bersih.

Untuk investor yang portofolionya sudah terlanjur berat di reksadana saham, dengan kondisi ini, dia bisa mempertimbangkan untuk pindah ke aset lain seperti reksadana campuran atau pendapatan tetap. Dan untuk yang hanya memiliki satu produk saham saja tetapi sudah jatuh dalam, sebaiknya memindahkan portofolionya ke reksadana indeks yang memiliki kinerja lebih sesuai dengan indeks acuannya.

Jika ternyata dana yang investor tempatkan di reksadana saham adalah dana yang akan segera dipergunakan dalam jangka waktu pendek, dia harus segera mengubah strategi berinvestasi. Hal ini bisa dilakukan dengan cara menjual reksadana saham tersebut, lalu menggantinya dengan jenis investasi yang jauh lebih aman, misalnya reksadana pasar uang.

Baca juga tips investasi mudah reksadana lainnya di sini.

* * *

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.