
Bareksa.com - Menutup pekan kedua di bulan September 2018, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau bergerak cukup positif, terutama di dua hari terakhir perdagangan.Tercatat dalam periode 10 - 14 September 2018, IHSG mengalami kenaikan1,36 persen dengan ditutup pada level 5.931,28.
Secara sektoral, seluruhnya kompak berakhir pada zona hijau pada pekan lalu. Tiga sektor yang mencatatkan kenaikan tertinggi yaitu sektor infrastruktur (3,55 persen), kemudian pertambangan (2,6 persen), dan serta pertanian dan konsumer yang masing-masing naik 2,13 persen.
Di sisi lain,investor asing tercatat melakukan penjualan bersih (net foreign sell) dalam sepekan kemarin senilai Rp747,63 miliar. Alhasil jika diakumulasikan sejak awal tahun, investor asing masih tercatat keluar dari pasar saham domestik Rp53,79 triliun.
Saham-saham terbanyak dilepas investor asing dalam sepekan kemarin :
1. Saham BBCA (Rp274,18 miliar)
2. Saham BBRI (Rp136,16 miliar)
3. Saham PGAS (Rp129,1 miliar)
4. Saham BDMN (Rp74,1 miliar)
5. Saham SCMA (Rp68,3 miliar).
Beragam Sentimen
Sejumlah sentimen mewarnai perdagangan IHSG sepanjang pekan kemarin. Di awal pekan, pelaku pasar dibuat cemas disaat hubungan Amerika Serikat (AS) dengan China memanas.
Presiden AS Donald Trump menegaskan siap menerapkan bea masuk baru bagi impor produk China US$200 miliar. Setelah itu, akan ada bea masuk tambahan lagi untuk impor senilai US$267 miliar.
China pun tidak kalah “galak”, bahkan mengambil langkah lebih nyata. Pihak Beijing telah melapor kepada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) mengenai kebijakan AS yang dianggap merugikan, yaitu bea masuk anti-dumping terhadap berbagai produk Negeri Panda.
China mengeluh karena kebijakan tersebut bisa merugikan mereka hingga US$7,04 miliar per tahun. Karena itu, Negeri Tirai Bambu meminta restu kepada WTO untuk menerapkan kebijakan serupa dengan nilai yang sama terhadap berbagai produk Negeri Paman Sam.
AS dan China adalah dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia. Ketika mereka terlibat ketegangan, dampaknya tentu bisa menghambat arus perdagangan dan pertumbuhan ekonomi dunia akan terganggu.
Saat perekonomian dunia melambat akibat tensi perang dagang global, maka pelaku pasar akan cenderung memilih bermain aman, tidak mau mengambil aset-aset berisiko apalagi di negara berkembang. Tentunya hal tersebut bukan kabar baik bagi bursa saham regional.
Namun menjelang mendekati akhir pekan, terlihat ada kesejukan yang mulai menghampiri bursa saham. AS dan China justru akan melakukan perundingan dagang, sesuatu yang berpotensi menghapus ketegangan di antara mereka.
"Ada diskusi dan informasi bahwa pemerintah China ingin mengadakan pembicaraan. Jadi, Menteri Keuangan Steve Mnuchin selaku pimpinan delegasi mengirimkan undangan," ungkap Lawrence 'Larry' Kudlow, Penasihat Ekonomi Gedung Putih, seperti dilansir dari Reuters.
Sementara Geng Shuang, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, mengungkapkan China telah menerima dengan baik undangan dari AS dan kedua negara sedang merumuskan detil-detil soal pertemuan tersebut.
"China selalu berpandangan bahwa eskalasi konflik perdagangan tidak akan menguntungkan siapa pun. Bahkan, dalam pembicaraan awal bulan lalu di Washington, kedua negara telah membahas berbagai bentuk kontak," kata Geng, dikutip dari Reuters.
Analisis Teknikal IHSG
Sumber : Bareksa
Menurut analisis Bareksa, secara teknikal pergerakan IHSG selama sepekan kemarin cenderung bervariatif di mana pada dua hari pertama IHSG cenderung mengalami pelemahan.
Namun menjelang akhir pekan, IHSG terlihat berhasil rebound dengan cukup baik serta berhasil menutup gap di level 5.869 - 5.889.
Pergerakan IHSG kini telah berhasil keluar dari fase konsolidasi jangka pendeknya dan tengah berusaha untuk kembali menguji resisten pada level 6.116.
Adapun indikator relative strength index (RSI) terpantau mulai mengalami bergerak naik setelah sempat flat, mengindikasikan sinyal kenaikan yang mulai cukup kuat.
(AM)
DISCLAIMER
Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui saham mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami kinerja keuangan saham tersebut.