Berita / / Artikel

Dana Asing Keluar Rp2,04 Triliun, Pasca Lebaran IHSG Anjlok 1,8 Persen di 5.884

• 21 Jun 2018

an image
Pekerja membersihkan layar monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Mandiri Sekuritas, Jakarta, Rabu (21/3). IHSG ditutup menguat 1,11 persen atau 69,25 poin ke level 6.312,83. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

Katalis negatif perdagangan hari ini masih dari permasalahan eksternal

Bareksa.com - Pergerakan Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa efek Indonesia kembali melanjutkan penurunan pada hari pertama perdagangan setelah libur lebaran ini.

Sepanjang perdagangan sesi satu Rabu, 20 Juni 2018, IHSG terus mengalami penurunan hingga mencapai minus 2,66 persen di level 5.834. Tetapi pada penutupan hari ini sedikit berbalik arah berada di level 5.884 atau masih minus 1,83 persen.

Pada hari ini, investor asing melakukan jual bersih di semua pasar senilai Rp2,04 triliun.

Penurunan ini akibat tertekan oleh hampir semua sektor yang ada. Seperti pada tabel berikut, dapat dilihat penurunan terbesar terjadi pada sektor finance, property dan consumer masing-masing turun 3,55 persen, 2,96 persen, dan 2,38 persen.


Katalis negatif perdagangan hari ini masih dari permasalahan eksternal, yaitu kehawatiran akan percepatan kenaikan suku bunga the Fed yang diperkirakan akan mencapai empat kali tahun ini. Hal ini diperkirakan akan membuat arus modal asing keluar dari negara-negara berkembang, seperti Indonesia.

Sementara itu, permasalahan perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang kembali memanas juga menjadi faktor penekan pasar pada hari ini.

Diperkirakan pergerakan IHSG juga akan terus mengalami tekanan seiring dengan proyeksi perang dagang yang akan terus meningkat. Kondisi itu setelah Presiden AS, Donald Trump mengenakan tarif pada produk impor dari China senilai US$ 50 miliar, seperti produk baja, alumunium, sepeda motor dan perlengkapan teknik.

Di sisi lain, China juga mengancam akan membalas dengan menaikkan tarif impor juga pada barang-barang pertanian, kendaraan, dan energy dari Amerika Serikat. Meskipun saat ini China belum mengambil tindakan nyata untuk merealisasikan ancaman kepada AS tersebut.

Selain itu, nilai tukar dolar AS terhadap rupiah (USD/IDR) juga masih mengalami pelemahan dilevel Rp14.021 per dolar AS. Tingkat imbal hasil obligasi 10 tahun Indonesia juga mengalami kenaikan dan sudah berada di level 7,3 persen.

Spread antara yield obligasi 10 tahun Indonesia dengan Treasury Amerika Serikat juga semakin melebar yaitu di level 436 basis poin atau 4,36 persen. Spread tersebut semakin melebar jika dibandingkan dengan posisi pada awal bulan Juni lalu di 396 basis poin atau 3,96 persen.

(AM)

Tags: