Berita / / Artikel

IHSG Anjlok Tertekan Brexit, Sampai Kapan?

• 24 Jun 2016

an image
Pialang Bursa Efek Indonesia mengamati pergerakan IHSG

IHSG tercatat turun 2,28 persen ke 4.763 pada jeda siang ini

Bareksa.com - Referendum rakyat Inggris hingga siang ini sudah menghasilkan penghitungan suara mayoritas untuk opsi keluar dari Uni Eropa, atau disebut dengan Brexit. Hasil dari langkah yang diinisiasi oleh Perdana Menteri David Cameron ini merupakan aspirasi sebagian besar rakyat Inggris yang menilai Uni Eropa telah banyak mengubah kehidupan ekonomi mereka. Akibatnya, sentimen negatif dari Brexit ini pun ikut menekan sebagian besar bursa saham dan mata uang global.

Berdasarkan laporan dari Telegraph Jumat 24 Juni 2016 pagi, hasil referendum menunjukkan mayoritas 51,6 persen suara ingin Inggris keluar dari komunitas Eropa yang beranggotakan 28 negara tersebut. Keluarnya Inggris yang merupakan ekonomi terkuat di Eropa dari komunitas tersebut dapat berakibat pada goncangan regional. Bahkan, mata uang euro pun dapat ikut terdepresiasi saat rakyat Inggris kembali menggunakan poundsterling kembali di negaranya.

Merespon pada kondisi ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia juga ikut tertekan meski sempat menguat di awal perdagangan hari ini. IHSG tercatat turun 2,28 persen ke 4.763 pada jeda siang ini. Investor asing membukukan jual bersih (net sell) Rp13,1 miliar pada sesi pertama perdagangan hari ini.

Grafik: Pergerakan IHSG Sesi Pertama 24 Juni 2016

Sumber: Bareksa.com

Tidak hanya IHSG yang tertekan sentimen ini, bursa regional pun juga anjlok hari ini. Straits Times di Singapura melemah 2,56 persen, Kuala Lumpur di Malaysia turun 1,42 persen, Shanghai di China merosot 1,19 persen, Hang Seng turun 4,67 persen dan Nikkei di Jepang anjlok 7,49 persen.

Nilai tukar rupiah pun melemah pada pagi ini menjadi Rp13.482 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp13.248. Hal ini seiring dengan depresiasi pada mata uang euro yang melemah 3,27 persen menjadi US$1,1013. Bahkan, poundsterling pun melemah 10,51 persen menjadi US$1,3313. Namun, mata uang Jepang justru menguat dengan 101,49 yen per dolar AS dari sebelumnya 106,16 yen per dolar AS.

Kepala Riset Trimegah Securities Sebastian Tobing dalam pesan yang beredar dikalangan investor mengatakan tekanan jual pada IHSG hanya sentimen sementara dan menimbulkan kesempatan untuk membeli saat fundamental tidak banyak terganggu. "Kapan waktu untuk beli? Lebih baik menunggu hingga sesi siang saat order dari Eropa datang. Namun, lebih baik tidak usah menjadi agresif, tunggu hingga Senin yang mungkin menjadi hari terakhir tekanan jual besar," ujarnya.

 

Tags: