Bareksa.com - Rencana Bank Rakyat China (PBOC) menyuntikkan dana hingga 50 miliar yuan, mendongkrak Indeks Saham Shanghai kembali ke level 3.688,47, setelah sempat melemah ke 3.539,14 pada perdagangan hari ini, 28 Juli 2015. Langkah ini diambil agar Indeks Saham Shanghai yang telah terkoreksi 27 persen dari titik tertingginya di level 5.113, dapat kembali pulih. (Baca juga: China Central Bank Inject 50 Bln Yuan Via Reverse Repos, Biggest Since July 7)
Grafik: Pergerakan Intraday Indeks Saham Shanghai
Sumber: Bloomberg
Lantas, bagaimana pengaruhnya kondisi mengkhawatirkan ini bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Indonesia? Analis Bareksa mencoba menelusurinya.
Sentimen eksternal
Pergerakan IHSG tentu saja ikut dipengaruhi sentimen terkait kondisi global. Hal ini dapat dilihat dari pergerakan IHSG yang pada 29 Juni 2015 lalu anjlok 0,82 persen akibat kembali memanasnya Krisis Yunani. Secara akumulatif, IHSG terkoreksi 6,4 persen dalam satu bulan, karena antara lain terimbas krisis Yunani. (Baca juga: Terkena Imbas Yunani, IHSG Terkoreksi 6,4% dalam 1 Bulan)
IHSG kembali amblas saat Indeks Saham Shanghai mengalami crash pada awal Juli lalu. (Baca juga: Bursa China Ambrol Seret IHSG Terutama Sektor Komoditas, Apa Penyebabnya?)
Perlu digarisbawahi, koreksi di IHSG ini juga diikuti oleh keluarnya dana asing dari pasar saham. Pada 29 Juni lalu, contohnya, investor asing mencatatkan net sell atau penjualan bersih sebesar Rp394 miliar. Kondisi serupa terjadi pada 9 Juli, di mana investor asing netto mencatatkan penjualan sebesar Rp483 miliar.
Grafik: Aliran Dana Asing di Bursa Efek Indonesia
Sumber: Bareksa
Jika ditarik dengan periode waktu yang lebih jauh, pergerakan investor asing — tampak dari foreign flow — terlihat mengikuti pergerakan Indeks Saham Shanghai. Sebagai contoh, investor asing mulai masuk kembali ke pasar saham Indonesia pada tahun 2008, beberapa bulan setelah Indeks Saham Shanghai mulai menguat.
Grafik: Pergerakan Indeks Saham Shanghai dan Foreign Flow di pasar Ekuitas Indonesia
Sumber: Bareksa
Masuknya investor asing ke Indonesia ini, tampaknya didorong keyakinan mereka bahwa permintaan komoditas Indonesia dari China tidak akan terganggu krisis di AS ketika itu. Hal ini juga ditunjukkan oleh harga komoditas yang kembali menguat setelah terseret krisis kredit perumahan di Negeri Paman Sam. (kd)