Bareksa.com - Berdasarkan antrean bid dan offer saham hari ini, Senin 6 April 2015 terlihat adanya potensi kenaikan harga saham TAXI, BEKS dan MIKA. Sebaliknya, harga saham LPKR, BBTN dan AALI menunjukkan potensi penurunan.
Harga saham cenderung naik jika antrean beli (bid) jauh melebihi antrean jual (offer), dan begitu sebaliknya. Saham TAXI memiliki potensi kenaikan harga saham jika dilihat dari tingginya antrean beli yang mencapai 153 ribu lot sedangkan antrean jual hanya 52 ribu lot. Posisi ini menyebabkan harga saham melambung hingga 17,3 persen menjadi Rp985 pada pukul 14.15 WIB.
Saham BEKS setelah status penghentian sementara (suspensi) baru dicabut oleh bursa mengalami kenaikan harga hingga 33,8 persen menjadi Rp87 dari penutupan sebelumnya hanya Rp65. Antrean beli yang tinggi mencapai 90 ribu lot sedangkan antrean jual tidak ada membuat perdagangan saham ini ditolak otomatis (auto reject). (Baca juga: Suspensi BCAP dan BEKS Dicabut, Harga Saham Langsung Melonjak)
Sementara itu, harga saham MIKA mengalami kenaikan sebesar 5,7 persen menjadi Rp23.750. Kenaikan ini seiring dengan antrean beli saham yang tinggi mencapai 10 ribu lot dan antrean jual 4,6 ribu lot.
Selain itu, harga saham CPGT juga mengalami peningkatan harga sebesar 9,9 persen menjadi Rp100. Namun, antrean jual-beli saham ini mengalami anomali dimana antrean beli hanya 211 ribu lot sedangkan antrean jual mencapai 660 ribu lot.
Di sisi lain, saham LPKR mengalami penurunan sebesar 1,8 persen menjadi Rp1.335 dibandingkan sebelumnya Rp1.360. Hal tersebut ditopang tingginya antrean jual yang mencapai 202 ribu lot sedangkan antrean beli hanya 68 ribu lot.
Volume offer saham BBTN mencapai dua kali volume bid. Tingginya volume offer ini menyebabkan harga saham BBTN turun 3,7 persen menjadi Rp1.180.
Sementara itu, harga saham AALI turun 1,6 persen menjadi Rp23.550. Penurunan harga saham juga diikuti dengan anteran jual yang lebih tinggi mencapai 9,3 ribu lot sedangkan antrean beli 2,8 ribu lot. (hm)
Disclaimer: Publikasi ini hanya menampilkan dinamika perdagangan saham dari sisi jumlah permintaan (bid) dan penawaran (offer) dan tidak dimaksudkan untuk menjadi dasar keputusan