Survei Peserta Konferensi LBMA Prediksi Harga Emas Tembus US$5.000, Apa Penopangnya?

Abdul Malik • 12 Oct 2026

an image
Ilustrasi harga emas yang terus naik dalam jangka panjang, meskipun secara jangka pendek ada kenaikan dan penurunan. (Shutterstock)

Harga emas belum lepas dari tekanan suku bunga tinggi. Namun, survei peserta konferensi LBMA memperkirakan harga bisa mencapai sekitar US$5.000 dalam 12 bulan. Apa penopang dan risikonya?

Bareksa – Harga emas dunia tercatat di US$4.190,67 per troy ons pada 11 Oktober 2026. Posisi tersebut turun sekitar 2,52% sebulan. Meski harga berfluktuasi, sejumlah pelaku industri logam mulia masih optimistis terhadap prospek jangka panjang. Pembelian bank sentral, diversifikasi cadangan, dan kekhawatiran terhadap utang pemerintah menjadi beberapa alasannya.

Ringkasan untuk Investor

  • Harga masih berfluktuasi: emas berada di US$4.190,67 per troy ons pada 11 Oktober, turun 2,52% dibandingkan 14 September.

  • Proyeksi bukan kepastian: peserta survei konferensi LBMA memperkirakan harga US$5.013,30 dalam 12 bulan mendatang.

  • Penopang jangka panjang: diversifikasi cadangan bank sentral dan kekhawatiran terhadap daya beli mata uang.

  • Perhatikan harga lokal: nilai emas dalam rupiah juga dipengaruhi kurs, selisih beli–jual, serta biaya transaksi.

Mengapa Emas Diproyeksi Mencapai US$5.000?

Survei peserta konferensi London Bullion Market Association (LBMA) 2026 memperkirakan emas diperdagangkan di sekitar US$5.013,30 per troy ons dalam 12 bulan. Ini merupakan pandangan peserta survei, bukan target resmi LBMA atau jaminan harga akan tercapai. 

Laporan Kitco News, menjelaskan perhatian investor semakin meluas dari inflasi dan geopolitik menuju keberlanjutan utang pemerintah serta kepercayaan terhadap mata uang.

Emas fisik tidak bergantung pada kemampuan penerbit membayar utang seperti obligasi. Karakter ini dapat mendukung perannya dalam diversifikasi. Namun, emas tetap memiliki risiko perubahan harga dan penyimpanan; produk berbasis emas juga perlu dinilai dari keamanan pengelolaan serta kejelasan kepemilikannya. 

Suku Bunga Tinggi Masih Menjadi Tantangan

Kenny Zhu, Direktur Riset dan Strategi Investasi Sprott, menilai pembelian bank sentral serta arus masuk ke ETF emas masih menjadi penopang. ETF emas merupakan produk investasi yang diperdagangkan di bursa dan memberikan eksposur terhadap emas.

Dalam wawancara dengan Kitco, Zhu menjelaskan bahwa sebagian bank sentral mendiversifikasi cadangan untuk mengurangi ketergantungan pada aset dolar. Inflasi juga dapat mengurangi daya beli pendapatan obligasi, sehingga emas tetap menarik bagi sebagian investor.

Namun, imbal hasil obligasi yang tinggi tetap menjadi pesaing bagi emas yang tidak membayar bunga. Zhu menilai tekanan berpotensi mereda jika kondisi ekonomi memungkinkan The Fed melonggarkan kebijakan. Skenario tersebut tetap bergantung pada perkembangan data. 

Harga Belum Naik Secara Mulus

Data historis menunjukkan emas turun 4,01% pada 28 September, kemudian naik 1,44% pada 9 Oktober. Pada 11 Oktober, harganya tercatat US$4.190,67. Pergerakan ini mengingatkan bahwa pandangan positif jangka panjang tidak menghilangkan risiko penurunan dalam jangka pendek.

Grafik: Harga Emas Spot Dunia, 14 September–11 Oktober 2026.

Sumber: Investing.com, data historis XAU/USD; diolah Bareksa.

Harga Emas Digital di Bareksa

Harga emas dalam rupiah dipengaruhi harga emas dunia, kurs dolar, dan harga masing-masing mitra. Dalam CSV USD/IDR, dolar tercatat Rp17.877,8 pada 11 Oktober. Pelemahan rupiah dapat menahan penurunan harga emas lokal, sedangkan penguatan rupiah dapat membatasi kenaikannya, jika faktor lain tetap.

Berikut harga emas digital di fitur Bareksa Emas per 12 Oktober 2026:

Platform
Harga beli /gram
Harga jual kemnbali/gram
Selisih beli–jual/gram

Pegadaian

Rp2.466.000

Rp2.342.000

Rp124.000

Treasury

Rp2.455.651

Rp2.371.133

Rp84.518

Indogold

Rp2.411.268

Rp2.336.500

Rp74.768

Sumber: fitur Bareksa Emas

Faktor Risiko Utama

  • Suku bunga dan dolar: imbal hasil obligasi tinggi serta penguatan dolar dapat menekan emas.

  • Perubahan permintaan: pembelian bank sentral dan arus dana investasi dapat berubah.

  • Kurs rupiah: kenaikan emas dunia tidak selalu menghasilkan kenaikan sebanding dalam rupiah.

  • Biaya dan pengelolaan: selisih beli–jual, biaya, serta ketentuan penyimpanan memengaruhi hasil investor.

Kesimpulan

Emas mendapat penopang dari diversifikasi cadangan dan kekhawatiran terhadap daya beli mata uang. Namun, proyeksi US$5.000 tetap mengandung ketidakpastian. Sesuaikan porsi emas dengan tujuan, jangka waktu, dan profil risiko; pembelian bertahap tidak menjamin keuntungan.

Investasi di Aplikasi Jual - Beli Emas Terbaik - Bareksa

Bareksa merupakan pioneer aplikasi investasi emas yang praktis dan aman untuk membeli serta menyimpan emas secara digital. Kamu bisa memantau harga emas harian, melihat tren, dan menentukan waktu beli terbaik langsung dari aplikasi. Selain emas, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan saham, sehingga kamu bisa mengatur strategi investasi dalam satu super app berizin OJK sejak 2016.

Beli Emas di Sini

Tentang Penulis

***​​​​​​​​​

Fitur Bareksa Emas dikelola oleh PT Bareksa Inovasi Digital, bekerja sama dengan Mitra Emas berizin.

Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.

Pertanyaan Umum

Apakah harga emas pasti mencapai US$5.000?

Tidak. Angka tersebut merupakan proyeksi peserta survei konferensi LBMA untuk 12 bulan, bukan kepastian.

Mengapa emas bisa turun saat suku bunga tinggi?

Obligasi menawarkan bunga yang lebih menarik, sementara emas tidak menghasilkan bunga.

Mengapa harga emas rupiah berbeda dari emas dunia?

Harga lokal juga dipengaruhi kurs, harga mitra, selisih beli–jual, dan biaya.

Apakah pembelian bertahap menghilangkan risiko?

Tidak. Cara ini untuk menyebar waktu pembelian, tetapi nilai investasi tetap dapat turun.

Profil Penulis

Abdul Malik

Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WMI dan WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.