Harga Emas Lagi Koreksi, Layak Akumulasi? Investor RI Perlu Lihat Faktor Rupiah Ini

Hanum Kusuma Dewi • 08 Jun 2026

an image
Ilustrasi Emas Fisik Digital Treasury di Bareksa yang menarik untuk investasi bagi investor Indonesia mempertimbangkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. (Photo by Robert Lens: Pexels)

Data Bareksa Emas Treasury menunjukkan harga beli emas dalam rupiah sudah naik 12% dalam 6 bulan terakhir (per 4 Juni 2026)

Bareksa - Harga emas dunia sedang menghadapi tekanan. Namun, bagi investor Indonesia, melihat harga emas hanya dari pergerakan pasar global mungkin belum memberikan gambaran yang utuh. Sebab, selain dipengaruhi harga emas internasional, investasi emas juga dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Grafik Pergerakan Harga Emas Global 6 Bulan

Sumber: Investing, data per 4 Juni 2026

Pada perdagangan Rabu (3/6), harga emas turun ke level US$4.431,77 per troy ons, terendah sejak akhir Maret. Tekanan datang dari indeks dolar AS yang kembali menguat, sementara yield US Treasury tenor 10 tahun mendekati 4,5%. 

Kondisi tersebut membuat sebagian investor bertanya-tanya, apakah emas masih layak untuk dikoleksi?

Mengapa Harga Emas Global Sedang Terkoreksi?

Secara umum, harga emas memiliki hubungan yang berlawanan dengan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS. 

Ketika dolar AS menguat, emas menjadi relatif lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain sehingga permintaannya cenderung berkurang. Di sisi lain, kenaikan yield obligasi membuat instrumen pendapatan tetap menjadi lebih menarik karena menawarkan imbal hasil, sementara emas tidak memberikan kupon atau bunga.

Saat ini, penguatan dolar AS juga didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk dan sikap hati-hati bank sentral AS (The Fed) terhadap inflasi. Pasar pun masih menantikan data ketenagakerjaan AS untuk membaca arah kebijakan suku bunga selanjutnya.

Meski begitu, tekanan tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen jangka pendek.

Investor Indonesia Punya Cerita yang Berbeda

Bagi investor di Indonesia, return investasi emas tidak hanya berasal dari kenaikan harga emas dunia, tetapi juga dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah.

Belakangan ini, rupiah justru berada di bawah tekanan. Pada Kamis (4/6), nilai tukar rupiah bahkan sempat menembus Rp18.000 per dolar AS, level terlemah sepanjang sejarah. Pelemahan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari penguatan dolar AS hingga kenaikan harga minyak dunia yang berpotensi memperbesar tekanan terhadap neraca perdagangan dan fiskal.

Kondisi tersebut membuat pergerakan harga emas dalam rupiah bisa berbeda dengan harga emas global.

Sebagai gambaran, dalam enam bulan terakhir harga emas global dalam denominasi dolar AS naik sekitar 6%. Sementara itu, harga emas dalam rupiah mampu mencatat kenaikan sekitar 12%.

Grafik Perbandingan Kinerja Emas Rupiah 6 Bulan Terakhir

Sumber: Bareksa Emas - Treasury, data per 4 Juni 2026

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pelemahan rupiah dapat menjadi faktor tambahan yang menopang kinerja investasi emas bagi investor domestik.

Emas Tetap Relevan Sebagai Instrumen Diversifikasi

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, emas masih dikenal sebagai salah satu aset safe haven yang kerap digunakan untuk diversifikasi portofolio.

Saat pasar saham mengalami volatilitas atau nilai tukar berfluktuasi, sebagian investor biasanya mengalokasikan sebagian asetnya ke instrumen yang dinilai lebih defensif, termasuk emas.

Selain faktor geopolitik, ketidakpastian arah suku bunga global dan pergerakan mata uang juga masih menjadi tantangan bagi pasar keuangan dalam beberapa waktu ke depan.

Bagi investor Indonesia, memiliki eksposur terhadap emas dapat menjadi salah satu cara untuk membantu menjaga nilai aset, terutama ketika rupiah mengalami tekanan terhadap dolar AS.

Diversifikasi sendiri bukan berarti mengejar keuntungan terbesar dari satu instrumen, melainkan menyebarkan risiko sehingga portofolio menjadi lebih seimbang.

Bagaimana Prospek Emas Selanjutnya?

Sejumlah analis menilai koreksi harga emas saat ini belum tentu menandai berakhirnya tren kenaikan dalam jangka panjang.

Commerzbank, misalnya, memproyeksikan harga emas dapat berada di kisaran US$4.800 per troy ons pada akhir 2026. Meski lebih rendah dibanding proyeksi sebelumnya, mereka masih mempertahankan target harga emas sebesar US$5.200 per troy ons pada akhir 2027.

Prospek tersebut didukung oleh berbagai faktor fundamental, seperti ketidakpastian geopolitik, permintaan emas dari bank sentral berbagai negara, hingga potensi perubahan kebijakan moneter global di masa mendatang.

Tentunya, harga emas tetap dapat mengalami fluktuasi dalam jangka pendek seiring perkembangan kondisi ekonomi dan pasar keuangan global.

Akumulasi Bertahap Bisa Menjadi Pilihan

Karena pergerakan harga emas sulit diprediksi dalam jangka pendek, sebagian investor memilih strategi pembelian secara bertahap atau dollar cost averaging (DCA).

Dengan strategi ini, investor tidak perlu terlalu khawatir menentukan waktu terbaik untuk masuk pasar, karena pembelian dilakukan secara berkala dan konsisten.

Melalui Bareksa Emas, investor dapat mulai berinvestasi emas digital dengan nominal yang terjangkau. Emas yang dibeli juga tersimpan secara aman melalui Treasury, sehingga investor dapat memantau dan melakukan transaksi dengan mudah melalui aplikasi.

Di tengah kondisi rupiah yang masih berfluktuasi dan ketidakpastian ekonomi global yang belum sepenuhnya mereda, akumulasi emas secara bertahap dapat menjadi salah satu alternatif untuk membangun portofolio investasi yang lebih terdiversifikasi dalam jangka panjang.

Beli Emas Treasury, Klik di Sini

(ADV | hm)

* * * 

DISCLAIMER

Fitur Bareksa Emas dikelola oleh PT Bareksa Inovasi Digital, bekerja sama dengan Mitra Emas berizin.