
Bareksa - Harga emas kembali menguat di pasar global. Menurut data Investing, harga emas sempat menembus US$4.721 pada Rabu pagi (1/4) kemudian sedikit menurun jadi US$4.684 per ons sekitar pukul 12.00 WIB. Angka itu mencerminkan kenaikan 0,37% sehari dan naik 3,9% sepekan, meskipun sebulan terakhir masih minus 11,2%.
Grafik Pergerakan Harga Emas
Sumber: Investing
Mengutip riset Treasury (1/4), kenaikan harga emas ini didorong oleh meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah serta membaiknya sentimen pasar. Selain itu, pelemahan dolar AS dan harapan penurunan suku bunga membuat emas semakin dilirik sebagai aset aman.
Dalam kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, emas masih dianggap pilihan “pegangan” untuk menjaga nilai kekayaan. Di dalam negeri, pergerakan harga emas juga dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah dan inflasi. Meski sempat menguat, rupiah masih berada dalam tekanan di kisaran Rp16.900 per dolar AS.
Sementara itu, inflasi yang relatif stabil di sekitar 3,6% membuat emas tetap relevan sebagai pelindung daya beli. Saat ini, harga emas dalam negeri berada di kisaran Rp2,66 juta per gram, menunjukkan tren yang masih kuat dalam jangka panjang meski naik-turun dalam jangka pendek.
Secara umum, prospek emas masih positif didukung pembelian bank sentral dan peluang turunnya suku bunga global.
Namun, untuk investor ritel, strategi paling aman adalah membeli secara bertahap saat harga turun (buy on weakness), bukan langsung dalam jumlah besar.
Dengan cara ini, risiko bisa lebih terjaga sekaligus tetap mendapatkan peluang cuan dari kenaikan harga emas ke depan.
Mengutip Reuters (31/3), harga emas naik lebih dari 3% pada Selasa, tetapi masih berada di jalur penurunan bulanan terdalam sejak Oktober 2008. Kenaikan ini terjadi di tengah kekhawatiran inflasi yang masih tinggi dan ekspektasi suku bunga tetap tinggi akibat dampak perang Iran, yang menekan daya tarik emas karena tidak memberikan imbal hasil.
Dolar AS sempat melemah, namun masih menuju kenaikan bulanan. Dolar yang lebih kuat membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.
Menurut Peter Grant dari Zaner Metals, kenaikan harga emas saat ini didorong oleh optimisme meredanya konflik di Timur Tengah. Namun, ia menilai kenaikan ini masih perlu berlanjut agar bisa dianggap tren naik yang kuat. Dalam jangka panjang, tren emas tetap positif, didukung faktor seperti berkurangnya ketergantungan pada dolar AS dan pembelian oleh bank sentral.
Laporan The Wall Street Journal menyebut Presiden Donald Trump bersedia mengakhiri kampanye militer terhadap Iran meskipun Selat Hormuz masih sebagian tertutup. Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan beberapa hari ke depan akan menjadi penentu dalam konflik tersebut dan memperingatkan Iran bahwa konflik bisa meningkat jika tidak ada kesepakatan.
Sepanjang bulan Maret 2026, harga emas turun 11,8% karena kenaikan harga minyak akibat perang di Timur Tengah. Lonjakan harga energi meningkatkan kekhawatiran inflasi dan membuat pasar kembali menilai arah suku bunga. Meski emas dikenal sebagai pelindung nilai terhadap inflasi, suku bunga tinggi justru membuat biaya peluang memegang emas menjadi lebih besar.
BMI mempertahankan proyeksi harga emas rata-rata US$4.600 pada 2026, sementara Goldman Sachs memperkirakan harga emas bisa mencapai US$5.400 pada akhir 2026.
Poin Penting:
Emas naik harian & mingguan, tapi masih turun bulanan (tekanan sejak 2008)
Sentimen positif: geopolitik mereda & harapan suku bunga turun
Sentimen negatif: inflasi tinggi & suku bunga masih berpotensi tinggi
Rupiah & inflasi domestik ikut menopang harga emas lokal
Proyeksi jangka panjang tetap bullish
Strategi: buy on weakness, bukan all-in
Harga emas sedang dalam fase naik jangka pendek, tapi masih tertekan dalam tren bulanan. Strategi terbaik bukan menebak puncak atau dasar, melainkan akumulasi bertahap untuk jangka panjang.
1. Kenapa emas bisa naik tapi masih turun bulanan?
Karena kenaikan terbaru belum cukup menutup penurunan tajam sebelumnya akibat tekanan inflasi dan suku bunga.
2. Apakah emas masih cocok untuk pemula?
Ya, karena relatif stabil dan cocok untuk menjaga nilai aset dalam jangka panjang.
3. Lebih baik beli emas fisik atau digital?
Keduanya bisa, tergantung kebutuhan. Fisik cocok untuk simpan jangka panjang, digital lebih fleksibel untuk transaksi.
4. Kapan waktu terbaik beli emas?
Saat harga sedang koreksi (turun), bukan saat sedang naik tinggi.
5. Apakah emas bisa turun lagi?
Bisa. Harga emas sangat dipengaruhi suku bunga, dolar AS, dan kondisi geopolitik global.
Bareksa merupakan pioneer aplikasi investasi emas yang praktis dan aman untuk membeli serta menyimpan emas secara digital. Kamu bisa memantau harga emas harian, melihat tren, dan menentukan waktu beli terbaik langsung dari aplikasi. Selain emas, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan saham, sehingga kamu bisa mengatur strategi investasi dalam satu super app berizin OJK sejak 2016.
(Rahmat Hidayat/AM)
Tengang Penulis
*Rahmat Hidayat adalah Investment Specialist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 7 tahun di bidang investasi dan produk finansial digital. Ia aktif mengembangkan produk pasar modal dan memberikan edukasi keuangan kepada masyarakat, serta memegang lisensi WPPE.
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis makro, riset investasi, dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Fitur Bareksa Emas dikelola oleh PT Bareksa Inovasi Digital, bekerja sama dengan Mitra Emas berizin.