
Bareksa - Minat masyarakat terhadap investasi emas biasanya meningkat saat Ramadan hingga Idul Fitri. Fenomena ini tidak hanya dipengaruhi faktor musiman, tetapi juga berkaitan dengan perubahan arus kas rumah tangga ketika masyarakat menerima tambahan pendapatan seperti Tunjangan Hari Raya (THR).
Head of Asia-Pacific (ex-China) & Global Head of Central Banks di World Gold Council (WGC), Shaokai Fan, mengatakan momentum Ramadan dan Lebaran sering memengaruhi dinamika likuiditas rumah tangga dalam waktu relatif singkat.
“Momentum bulan Ramadan dan Idul Fitri turut memengaruhi dinamika likuiditas rumah tangga dalam periode yang relatif singkat. Saat mendapatkan tambahan pendapatan musiman seperti THR, sebagian masyarakat mengalokasikannya ke aset yang dinilai mampu melindungi nilai jangka panjang, termasuk emas,” ujar Shaokai Fan dalam keterangannya (11/3).
Tren ini membuat permintaan emas sering meningkat menjelang hari raya. Selain untuk investasi, emas juga kerap dibeli sebagai hadiah atau simbol kemakmuran saat Lebaran.
Meski pembelian emas sering dipicu oleh momentum musiman seperti Ramadan, motivasi investor umumnya tetap bersifat jangka panjang. Survei World Gold Council menunjukkan investor Indonesia biasanya menyimpan emas fisik sekitar enam tahun, baik dalam bentuk batangan, koin, maupun perhiasan.
Temuan ini menunjukkan bahwa emas lebih sering dipandang sebagai instrumen perlindungan nilai dan perencanaan keuangan jangka panjang, bukan sekadar aset untuk perdagangan jangka pendek.
Survei yang sama juga menunjukkan emas merupakan salah satu aset investasi paling populer di Indonesia setelah tabungan. Sekitar 67% investor Indonesia memiliki emas dalam berbagai bentuk, mulai dari perhiasan hingga produk investasi berbasis emas.
Selain faktor likuiditas dari THR, budaya dan tradisi juga ikut membentuk dinamika pasar emas di Indonesia. Ramadan dan Idul Fitri sering menjadi periode meningkatnya aktivitas pembelian emas karena masyarakat menggabungkan tujuan investasi dengan tradisi pemberian hadiah.
Fenomena musiman seperti ini sebenarnya tidak hanya terjadi di Indonesia. Di China, permintaan emas biasanya meningkat menjelang Tahun Baru Imlek yang identik dengan tradisi pemberian hadiah dan simbol keberuntungan. Sementara di India, lonjakan pembelian emas sering terjadi menjelang musim pernikahan, ketika emas menjadi bagian penting dari tradisi sekaligus perencanaan keuangan keluarga.
Menurut WGC, pola musiman tersebut menegaskan peran emas yang semakin penting dalam portofolio rumah tangga. Di tengah ketidakpastian ekonomi makro dan tekanan terhadap daya beli, banyak investor melihat emas sebagai aset yang dapat membantu menjaga stabilitas nilai kekayaan.
Laporan Analisis Wawasan Konsumen Indonesia juga menunjukkan banyak investor memprioritaskan keamanan dan stabilitas jangka panjang dalam keputusan investasinya, sehingga emas menjadi salah satu pilihan utama untuk melindungi nilai kekayaan.
Momentum hari raya juga dimanfaatkan produsen dan peritel emas dengan menghadirkan produk emas edisi khusus bertema Ramadan atau Idul Fitri. Produk semacam ini tidak hanya menarik bagi investor, tetapi juga bagi masyarakat yang membeli emas sebagai hadiah.
Kondisi tersebut menunjukkan pasar emas Indonesia cukup dinamis dan responsif terhadap konteks budaya. Permintaan emas pada periode Ramadan dan Lebaran tidak hanya didorong oleh pertimbangan finansial, tetapi juga oleh nilai simbolis dan emosional yang melekat pada emas dalam tradisi masyarakat.
Minat investasi emas di Indonesia cenderung meningkat saat Ramadan dan Idul Fitri. Menurut World Gold Council, tambahan pendapatan seperti THR mendorong masyarakat mengalokasikan dana ke emas karena dianggap mampu melindungi nilai kekayaan dalam jangka panjang. Selain faktor investasi, budaya pemberian hadiah emas saat hari raya juga turut meningkatkan permintaan.
1. Apakah investasi emas cocok untuk pemula?
Ya, emas sering dianggap cocok untuk pemula karena relatif mudah dipahami dan memiliki likuiditas tinggi.
2. Berapa modal minimal untuk mulai investasi emas?
Saat ini investasi emas bisa dimulai dari nominal kecil melalui emas digital atau tabungan emas.
3. Apakah emas lebih aman dibanding saham?
Emas umumnya dianggap lebih stabil, tetapi potensi imbal hasilnya biasanya lebih rendah dibanding saham dalam jangka panjang.
4. Kapan waktu terbaik membeli emas?
Waktu terbaik biasanya saat harga mengalami koreksi atau ketika investor ingin melakukan diversifikasi portofolio.
Bareksa merupakan pioneer aplikasi investasi emas yang praktis dan aman untuk membeli serta menyimpan emas secara digital. Kamu bisa memantau harga emas harian, melihat tren, dan menentukan waktu beli terbaik langsung dari aplikasi. Selain emas, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan saham, sehingga kamu bisa mengatur strategi investasi dalam satu super app berizin OJK sejak 2016.
Tengang Penulis
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis makro, riset investasi, dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Fitur Bareksa Emas dikelola oleh PT Bareksa Inovasi Digital, bekerja sama dengan Mitra Emas berizin.