
Bareksa - Emas dunia (XAU/US$) masih berada dalam tren naik kuat. Per 20 Februari 2026, harga emas berada di US$4.990,69 per ons, dengan rentang 52 minggu di US$2.835–US$5.626.
Riset dari NH Korindo Sekuritas Indonesia yang dipublikasi 20 Februari 2026 mempertahankan rekomendasi BUY/Overweight untuk emas dengan target akhir 2026 di US$6.000 per ons atau potensi kenaikan sekitar 20% dari posisi saat ini.
Ezaridho Ibnutama Head of Research NHKSI dan Axell Ebenhaezer Senior Research Analyst NHKSI mengatakan kenaikan tensi geopolitik, dinamika perdagangan global, serta potensi pemangkasan suku bunga The Fed menjadi katalis utama penguatan harga emas tahun ini.
Mengapa prospek emas masih bullish? Berikut penjelasan sederhananya.
Dalam satu dekade terakhir, bank sentral global meningkatkan cadangan emas secara signifikan.
Lonjakan pembelian emas oleh bank sentral memperkuat sentimen bullish jangka panjang, sekaligus mempersempit pasokan di pasar global.
Produksi emas dunia mencapai rekor baru 3.671,6 ton pada 2025. Namun pertumbuhannya sangat tipis, hanya sekitar 1% YoY, dengan CAGR 1,16% periode 2018–2025.
Menariknya:
Artinya, kenaikan harga emas lebih didorong oleh pembelian berbasis investasi dibandingkan konsumsi fisik.
Produksi emas Indonesia belum sepenuhnya pulih ke level pra-pandemi.
Beberapa faktor kunci:
Dengan kembali beroperasinya Grasberg di kuartal II 2026, produksi nasional diproyeksikan mulai pulih secara bertahap.
Survei World Gold Council menunjukkan:
Dengan suku bunga deposito sekitar 3,5%, emas menjadi alternatif lindung nilai yang lebih menarik. Pada 2025, emas mencatat kenaikan 44%, setelah melonjak 33% pada 2024, dua tahun berturut-turut mengungguli saham Asia, global equities, obligasi, hingga US Treasuries.
Tren ini menunjukkan potensi pergeseran alokasi dana masyarakat dari konsumsi ke aset lindung nilai.
Aneka Tambang Tbk (ANTM)
Merdeka Gold Resources (EMAS)
NHKSI Research mempertahankan rekomendasi Overweight Gold dengan target harga akhir tahun di US$6.000 per troy ounce.
Faktor pendorong utama:
Emas bukan lagi sekadar aksesori, melainkan instrumen strategis untuk menjaga daya beli dan stabilitas portofolio di tengah volatilitas global.
Emas (XAU/US$) tetap berada dalam tren bullish kuat didorong pembelian bank sentral, produksi global yang melambat, serta tingginya permintaan investasi. Dengan potensi penurunan suku bunga The Fed dan ketidakpastian geopolitik, target US$6.000/oz dinilai realistis. Di domestik, ANTM dan EMAS menjadi pilihan utama untuk eksposur sektor emas 2026.
1. Berapa target harga emas 2026?
Target akhir 2026 diproyeksikan di sekitar US$6.000 per ons.
2. Apa faktor utama pendorong kenaikan emas?
Pembelian bank sentral, ketegangan geopolitik, produksi tambang yang lambat, dan potensi pemangkasan suku bunga.
3. Apakah emas masih layak dibeli setelah naik tinggi?
Selama tren global masih mendukung safe haven, emas tetap menarik untuk diversifikasi.
4. Pilih emas fisik atau saham emas?
Emas fisik cocok untuk lindung nilai, sementara saham seperti ANTM dan EMAS memberi potensi pertumbuhan lebih tinggi namun dengan risiko lebih besar.
5. Apa risiko investasi emas?
Penguatan dolar AS, suku bunga naik lebih tinggi dari perkiraan, atau stabilitas global yang membaik cepat.
Bareksa merupakan pioneer aplikasi investasi emas yang praktis dan aman untuk membeli serta menyimpan emas secara digital. Kamu bisa memantau harga emas harian, melihat tren, dan menentukan waktu beli terbaik langsung dari aplikasi. Selain emas, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan saham, sehingga kamu bisa mengatur strategi investasi dalam satu super app berizin OJK sejak 2016.
(AM)
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis makro, riset investasi, dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Fitur Bareksa Emas dikelola oleh PT Bareksa Inovasi Digital, bekerja sama dengan Mitra Emas berizin.