
Bareksa – Target harga emas US$5.000 per ons kini bukan lagi sekadar wacana. Hingga Selasa (20/1), harga emas spot global sudah menembus US$4.715 per ons, atau melewati level psikologis US$4.700.
Artinya, emas tinggal selangkah lagi, sekitar US$285 menuju level “goceng” dalam dolar AS. Kinerja emas juga konsisten menguat. Dalam sepekan naik 2,8%, sebulan melonjak 8,7%, dan setahun terakhir melesat sekitar 74%.
Tren ini menunjukkan minat investor global terhadap emas masih sangat kuat, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik dunia.
Sumber: Investing
Kenaikan harga emas dunia ikut tercermin di dalam negeri. Di fitur Bareksa Emas, harga emas fisik digital sudah menembus Rp2,6 jutaan per gram, dengan kinerja setahun terakhir naik hingga 80% lebih.
Emas | Harga Beli Emas | Kinerja 1 Tahun | Keterangan |
|---|---|---|---|
Treasury | Rp2.657.936 / gram | 81,42% | Ada diskon, terdaftar di BAPPEBTI |
Pegadaian | Rp2.661.000 / gram | 78,95% | Diawasi OJK |
Indogold | Rp2.640.888 / gram | 80,65% | Terdaftar BAPPEBTI |
Harga Emas Antam (acuan)* | Rp2.703.000 / gram | 70,32% | Harga fisik emas batangan Antam |
Sumber: Bareksa Emas, per 20/1/2025, Antam per 19/1/2026
Mengutip Kitco News (19/1), Kepala Strategi Emas State Street Investment Management, Aakash Doshi, menyebut peluang emas menembus US$5.000 per ons pada 2026 kini di atas 30%, bahkan mendekati 40% dalam 6–9 bulan ke depan. Menurutnya, koreksi jangka pendek atau fase harga datar tidak mengubah tren naik emas secara keseluruhan.
Penguatan emas saat ini bukan hanya soal suku bunga, tapi dipicu risiko global yang semakin kompleks. Mulai dari eskalasi perang dagang Presiden Donald Trump termasuk ancaman tarif 10–25% ke negara Eropa, hingga ketegangan geopolitik AS–Eropa terkait Greenland. Situasi ini mendorong investor global kembali memburu emas sebagai aset aman (safe haven).
Selain itu, utang global pemerintah dan korporasi yang memecahkan rekor, pembelian emas bank sentral yang tetap agresif, serta arus dana ke ETF emas yang mencetak rekor di akhir 2025, menjadi penopang kuat harga emas. State Street menilai emas kini nyaman di kisaran US$4.000–US$5.000 per ons dan masih punya ruang naik.
Faktor yang Mendorong Emas Makin Dekat ke US$5.000:
Intinya:
Perang dagang Trump dan ketegangan geopolitik bukan isu sementara, tapi menjadi bagian dari risiko struktural global yang membuat emas tetap kuat dan berpeluang menembus US$5.000/ons.
Kenaikan harga emas bukan cuma soal harga mahal, tapi soal fungsi perlindungan nilai. Saat saham, obligasi, dan mata uang makin volatil, emas kembali jadi jangkar stabil portofolio. Bahkan, emas kini mulai dipandang bukan sekadar pelindung, tapi aset inti investasi jangka panjang.
Bagi investor ritel Indonesia, emas digital memberi akses lebih mudah: modal kecil, likuid, dan bisa dicicil, tanpa harus menyimpan fisik.
Di tengah dunia yang makin penuh ketidakpastian, emas kembali jadi pegangan investor. Dengan tren harga yang terus naik, level US$5.000 per ons kini bukan sekadar angan-angan.
Mau mulai atau nambah investasi emas? Pantau harga harian dan beli emas digital dengan nominal terjangkau lewat Bareksa Emas.
Bareksa merupakan pioneer aplikasi investasi emas yang praktis dan aman untuk membeli serta menyimpan emas secara digital. Kamu bisa memantau harga emas harian, melihat tren, dan menentukan waktu beli terbaik langsung dari aplikasi. Selain emas, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan saham, sehingga kamu bisa mengatur strategi investasi dalam satu super app berizin OJK sejak 2016.
(AM)
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis makro, riset investasi, dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Fitur Bareksa Emas dikelola oleh PT Bareksa Inovasi Digital, bekerja sama dengan Mitra Emas berizin.