Berita Hari Ini : Harga Emas Menguat, Puluhan Emiten Bagi Dividen

Bareksa • 31 Aug 2020

an image
Warga mendulang bijih emas secara tradisional di pertemuan arus Sungai Batang Asai dan Sungai Batang Tembesi, Sarolangun, Jambi, Minggu (30/8/2020). Kegiatan yang biasa dilakukan warga setempat setiap memasuki musim air surut tersebut mampu menghasilkan pendapatan rata-rata Rp100 ribu sampai Rp150 ribu per hari. (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/foc)

OJK gaet lembaga keuangan mikro; Penjualan e-commerce naik 26 persen

Bareksa.com - Berikut sejumlah berita dan informasi terkait investasi dan ekonomi yang disarikan dari sejumlah media dan keterbukaan informasi, Senin 31 Agustus 2020 :

E-Commerce

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan berdasarkan data McKinsey Juni 2020 selama pandemi covid-19 terjadi, penjualan di e-commerce naik 26 persen dan mencapai 3,1 juta transaksi per hari. Sayangnya, porsi UMKM di Indonesia belum tinggi.

Dirinya berharap ke depannya pelaku UMKM dapat mengoptimalkan teknologi digital agar dapat menjalankan usahanya dari rumah dan terhubung ke ekosistem digital, serta melakukan adaptasi dan inovasi produk. "Pasalnya, UMKM digital produktif merupakan kunci pemulihan ekonomi," kata Teten dalam High Impact Seminar dan Kick Off Program BI Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia, Minggu (30/8/2020).

Namun seperti dilansir Liputan6.com, angka di awal 2020 ternyata baru ada 8 juta UMKM yang hadir dalam platform digital atau 13 persen dari total populasi UMKM di Indonesia. Untuk itu, dirinya menekankan perlunya peningkatan kerjasama antara Kementerian dan Lembaga, pemerintah daerah, institusi perbankan, fintech, marketplace serta seluruh pihak lain yang terlibat, untuk menyiapkan the Future SMEs agar UMKM dapat bersaing di pasar domestik dan pasar global.

"Pasalnya, pandemi Covid-19 berdampak signifikan bagi pelaku UMKM di Indonesia, baik dari sisi supply maupun demand," ujarnya. Selain itu, tantangan lain juga tidak cukup hanya hadir dalam platform digital, isu sustainability dari UMKM di platform digital juga patut mendapat perhatian. Menurut Teten, UMKM tidak hanya harus bertahan, namun harus mampu menjadi kompetitif baik di pasar lokal dan global.

Kendati begitu, Pemerintah pun melakukan intervensi di sisi hulu (supply) dan hilir (demand). Untuk menjawab masalah di sisi supply, salah satunya adalah masalah pembiayaan untuk koperasi dan UMKM.

"Pemerintah telah mengalokasikan dana sebesar Rp 123,46 triliun untuk program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) khusus sektor UMKM. Per 27 Agustus 2020, progres sementara mencapai 45,76 persen atau telah disalurkan Rp56.503,22 miliar untuk pelaksanaan program PEN sektor KUMKM," ungkapnya.

Selain itu, untuk usaha mikro yang tidak menerima kredit modal kerja dan investasi dari perbankan pemerintah menyiapkan bantuan modal kerja, yaitu Bantuan Presiden Produktif Usaha Mikro berupa hibah Rp 2,4 juta untuk 12 juta pelaku usaha mikro.

"Program ini diharapkan menjadi jawaban bagi para pelaku UMKM khususnya mikro yang modal usahanya tergerus untuk kepentingan konsumsi untuk dapat menambah modal kerja, serta memudahkan ke depannya pelaku usaha dapat terintegrasi dalam sistem keuangan inklusif," pungkasnya.

Harga Emas

Harga emas di pasar global, mendapatkan momentum penguatan seiring dengan prospek perlambatan ekonomi negara terbesar di dunia, yakni Amerika Serikat. Pada perdagangan Senin (31/8/2020) pukul 06.31 WIB seperti dilansir Bisnis.com, harga emas spot naik 0,51 persen atau 10,02 poin menjadi US$1.974,85 per troy ounce.

Adapun, harga emas Comex kontrak Desember 2020 meningkat 0,28 persen atau 5,5 poin menuju US$1.980,4 per troy ounce. Indeks dolar AS koreksi 0,09 persen ke level 92,287.

Laporan Monex Investindo Futures menyebutkan harga emas bergerak sejak akhir pekan lalu di tengah kembali munculnya kekhawatiran pasar akan kejatuhan ekonomi yang disebabkan oleh pandemi virus Covid-19.

Hal itu terjadi meskipun adanya lonjakan yield Treasury AS setelah Gubernur Federal Reserve Jerome Powell tawarkan lebih banyak tolerasi terhadap inflasi.

Strategi kebijakan moneter terbaru dari The Fed adalah mereka berjanji untuk mengatasi kekurangan dari target inflasi berbasis luas dan inklusif dari sektor tenaga kerja penuh waktu. The Fed juga menjanjikan untuk membidik inflasi rata-rata di level 2 persen.

Obligasi AS jangka panjang naik ke level tertinggi dalam beberapa bulan pada hari Kamis. Obligasi AS yang lebih tinggi akan meningkatkan beban pemilik emas yang merupakan aset non imbal hasil.

Berdasarkan hitungan Worldometer, lebih dari 25,3 juta orang dilaporkan terinfeksi virus korona secara global dan sebanyak 850.014 jiwa telah meninggal dunia.

Sementara itu jumlah orang Amerika yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran baru masih disekitaran 1 juta pada pekan lalu, menunjukkan pemulihan di pasar tenaga kerja masih terhambat karena penyebaran virus Covid-19.

Ketua DPR AS Nancy Pelosi mengatakan setelah pembicaraan dengan kepala staf Gedung Putih Mark Meadows pada hari Kamis bahwa Demokrat dan Republik masih jauh untuk mencapai kesepakatan untuk seberapa besar uang akan dikeluarkan pada undang-undang bantuan virus corona berikutnya.

Emiten

Musim pembagian dividen telah tiba. Kontan.co.id mencatat, setidaknya ada 20 emiten yang mencatatkan tanggal cum dividend pekan depan. Rata-rata dari emiten tersebut adalah saham dengan lapis bawah dengan kapitalisasi pasar yang kecil, yang menawarkan yield (imbal hasil) yang beragam.

Saham PT Delta Djakarta Tbk (DLTA) misalnya membagikan dividen sebesar Rp 390 per saham. Dengan harga penutupan per Jumat (28/8) di level Rp 4.550, maka dividend yield yang ditawarkan produsen minuman bir ini sebesar 8,57 persen. Alhasil, DLTA menjadi saham yang memberi yield terbesar di antara ke-20 saham tersebut.

Selanjutnya ada PT Colorpak Indonesia Tbk dengan yield 7,29 persen. Emiten dengan kode saham CLPI ini membagikan dividen sebesar Rp 56,55 per saham. Per penutupan Jumat (28/8), saham CLPI ditutup di level Rp 775.

Emiten produsen margarin dan minyak goreng PT Wilmar Cahaya Indonesia Tbk (CEKA) akan membagikan dividen sebesar Rp 100 per saham. Saham CEKA memiliki yield dividen senilai 5,025 persen dengan harga penutupan per Jumat (28/8) senilai Rp 1.990.

Tak hanya emiten dengan kapitalisasi pasar kecil, saham dengan kapitalisasi pasar menengah dan besar yang tergabung dalam Indeks LQ45 juga ada yang mencatatkan cum date pekan depan. PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP) menebar dividen Rp 50 per saham dengan yield 0,52 persen  sementara  PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) menebar dividen Rp 81 per saham dengan yield 1,30 persen.

Analis Sucor Sekuritas Hendriko Gani menilai, dari sisi imbal hasil, dividen yang ditawarkan oleh saham-saham berkapitalisasi kecil tersebut cukup menarik. Sebab, besaran yield dari dividen yang ditawarkan berkisar 3 persen-5 persen. "Yield 3 persen-5 persen sudah cukup menarik mengingat suku bunga saat ini berada pada level 4 persen," ujar Hendriko, Jumat (28/8).

Senada, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai dividen dengan yield di atas 5 persen cukup menarik untuk dikejar. "Atau bisa juga yield nya lebih besar dari tahun sebelumnya atau dari pembagian biasanya," terang Herditya.

Herditya menilai, dividen yang ditawarkan oleh saham-saham lapis bawah ini cukup menarik bagi ‘dividend hunter’ karena yield yang ditawarkan cenderung lebih besar. Hanya saja, risiko yang dikandung cenderung lebih besar. Namun, apabila ditilik dari sisi pergerakan harga dan mungkin dari emitennya itu sendiri, pelaku pasar lebih baik mencermati saham-saham penghuni Indeks  LQ45.

Selain yield, pelaku pasar harus mempertimbangkan kinerja emiten tersebut  untuk memproyeksikan pergerakan harga ke depannya. Selain itu, pelaku pasar juga wajib mencermati tanggal cum dan ex dividend yang nantinya akan berpengaruh kepada pergerakan harga  saham saat itu.

Senada, Hendriko menekankan pentingnya memperhatikan aspek  fundamental perusahaan. Selain itu, pergerakan teknikal dari suatu saham juga perlu dicermati oleh investor.

Sebab, jika suatu saham memiliki fundamental yang baik ditambah berada pada pergerakan teknikal yang relatif uptrend, perlahan pada saat ex date tiba dapat tertutupi oleh potensi pergerakan harga saham (capital gain).

Jika merinci, sejumlah emiten lapis bawah tersebut masih mencetak laba bersih pada semester pertama 2020, meskipun memang lebih rendah dibandingkan dengan semester pertama 2019.

Misalkan saja, DLTA membukukan laba bersih senilai Rp 37,70 miliar atau turun 73,7 persen, CLPI membukukan laba bersih senilai Rp 14,42 miliar (turun 27,5 persen), dan CEKA yang membukukan laba tahun berjalan senilai Rp 66,92 miliar atau turun 27,3 persen.

OJK

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melakukan berbagai macam program agar UMKM bisa masuk ke dalam ekosistem keuangan. Tujuannya agar UMKM bisa memperoleh pendanaan yang dapat berguna untuk meningkatkan kapasitas usaha.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso saat menjadi pembicara acara High Impact Seminar dan Kick Off Program BI dalam GerNas Bangga Buatan Indonesia dengan tema "Mewujudkan UMKM sebagai Kekuatan Baru Perekonomian Nasional: Sinergi Program Transformasi UMKM Memasuki Ekosistem Digital" secara virtual, Minggu (30/8/2020).

"Edukasi kita lakukan, bagaimana masyarakat tidak bankable, tanpa NPWP (nomor pokok wajib pajak), asal punya catatan, bisa dilayani. Ini sudah ada 33 ribu nasabah," ujar Wimboh seperti dilansir CNBC Indonesia.

Melalui digitalisasi, hal ini juga bisa dilakukan. Caranya melalui inisiasi antara perbankan dan lembaga keuangan mikro. Digitalisasi ini sangat bermanfaat khususnya di daerah.

"Ada kalau kita lakukan di daerah yang kita akses fisik tidak bisa, tapi bisa dilakukan dengan digital. Pertama bagaimana lembaganya di setiap daerah ada lembaga keuangan mikro," kata Wimboh.

Menurut dia, jika hanya mengandalkan BRI tidak akan cukup. Untuk itu, di setiap daerah yang memiliki lembaga keuangan mikro apapun bentuknya akan dimasukkan OJK ke dalam ekosistem keuangan.

Dia menambahkan, dalam keuangan mikro ini bukan hanya pembiayaan tapi pembinaan. Pembiayaan yang diberikan memang bukan dalam jumlah besar, yaitu kisaran Rp 1 juta hingga Rp 2 juta. Namun hal ini menjadi sesuatu yang penting.

"Dengan demikian produksinya yaitu kerajinan maupun makanan bisa masuk platform ekosistem digital. Di daerah ada BUMDes, ada via online shop bisa kita lakukan, market place, digital payment, produk ini terutama bisa dijual keluar, ekspor banyak sekali," ujar Wimboh.