Berita Hari Ini: Peluang IHSG ke 6.200, Dua Skenario Penyelamatan Jiwasraya

Bareksa • 11 Dec 2019

an image
Gedung kuno PT Asuransi Jiwasraya (http://www.bumn.go.id/jiwasraya)

BBN Kendaraan resmi naik, Wadirut PLN akan dampingi Rudiantara, Data pasar modal terjaga

Bareksa.com - Berikut rangkuman berita dan informasi yang disarikan dari sejumlah media nasional dan keterbukaan informasi Rabu, 11 Desember 2019.

Prediksi IHSG

Tahun depan diprediksi menjadi momentum kebangkitan bagi pasar modal Indonesia. Berbagai katalis positif dipercaya bakal memuluskan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 2020 nanti.

Direktur sekaligus Kepala Riset Citigroup Sekuritas Indonesia Ferry Wong memperkirakan, tensi perang dagang antara dua raksasa ekonomi dunia, AS dengan China, akan segera mereda. Sebab, Presiden Trump akan lebih kalem menghadapi China menjelang momen pemilihan presiden AS yang akan diselenggarakan pada akhir 2020.

Dari sisi domestik, pembentukan Kabinet Indonesia Maju juga dinilai positif oleh pasar. Selain itu, bergabungnya Prabowo Subianto ke dalam kabinet juga dinilai sebagai angin segar bagi pasar modal tanah air.

Hal lainnya yang mampu mendongkrak pergerakan indeks adalah proyeksi pertumbuhan laba bersih perusahaan. Pertumbuhan laba bersih perusahaan sepanjang 2019 diperkirakan hanya 4,7 persen. Sementara pada 2020, laba bersih perusahaan diprediksi akan tumbuh hingga 10,1 persen. Ferry memperkirakan IHSG berpeluang untuk menembus level 6.200 hingga 6.300 sampai akhir tahun ini.

Penyelamatan Jiwasraya

CNBC Indonesia - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan sudah memiliki beberapa skenario penyelamatan PT Asuransi Jiwasraya (Persero) yang juga dibahas bersama dengan beberapa otoritas terkait. Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan ada dua skenario menyelamatkan Jiwasraya yang diharapkan bisa mengatasi persoalan arus keuangan dan membayar klaim-klaim para nasabah yang jatuh tempo.

"Untuk membuat skenario bagaimana mengatasi cash flow [arus kas] untuk membayar semua klaim-klaim nasabah ini. Kita semua tahu, bahwa ini tidak mudah, tapi tetap ada skenario-skenario," tutur Wimboh dikutip CNBC Indonesia Selasa (10/12/2019).

Wimboh memerinci, dua skenario tersebut yakni pertama, dalam jangka menengah, Jiwasraya sudah membentuk anak perusahaan, PT Jiwasraya Putra yang sudah diberikan konsesi untuk menangani (cover) asuransi-asuransi beberapa BUMN. Anak usaha ini dibentuk hasil kerja sama dengan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, PT Pegadaian (Persero), PT Kereta Api Indonesia (Persero), dan PT Telkomsel. Pembentukan anak usaha itu sudah mendapatkan izin dari OJK dan keempat perusahaan itu nantinya akan bertindak juga sebagai distributor dari produk-produk yang dijual oleh Jiwasraya Putra.

Sementara untuk jangka panjang atau skenario kedua, Wimboh mengatakan akan berkoordinasi dengan seluruh pihak, baik itu dari pemerintah, pemilik, dan BUMN bagaimana skenario yang akan dijalankan untuk jangka panjang. "Sehingga cash flow jangka pendek teratasi dan ke depan, jangka panjang bisa memperkuat bisnis jiwasraya," jelas Wimboh.

BBN Kendaraan

Pemprov DKI Jakarta resmi menaikkan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) menjadi 12,5 persen dari sebelumnya 10 persen. Ketentuan efektif berlaku 11 Desember 2019. Pertimbangannya, tarif lama belum dapat mengendalikan laju pertumbuhan kendaraan bermotor yang berujung pada kemacetan lalu lintas di Jakarta.

Ketentuan baru BBNKB ini diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) 6/2019 tentang Perubahan Perda Nomor 9 Tahun 2010 tentang BBNKB. Dengan aturan baru ini, secara tak langsung pembeli kendaraan baru ber-KTP DKI Jakarta akan mengeluarkan biaya lebih, karena harga kendaraan seperti motor atau mobil menjadi lebih mahal dari sebelumnya.

Dirut PLN

Mantan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara dianggap sebagai sosok yang paling pas untuk memimpin PT Perusahaan Listrik Negara (Persero). Selain itu, posisi direktur utama PLN akan diperkuat oleh wakil direktur utama karena ke depan akan banyak tugas untuk perusahaan ini.

Staf Khusus Kementerian BUMN Arya Sinulingga mengatakan terdapat 3 nama yang diusulkan untuk memimpin PLN, dua di antaranya adalah Rudiantara dan Sripeni Inten Cahyani, yang kini menjabat sebagai Plt Dirut PLN. Mengenai satu nama lainnya, Arya hanya menyebutkan bukan berasal dari internal PLN.

"Dari tiga nama itu, dengan kondisi saat ini, yang paling dibutuhkan PLN itu Pak Rudiantara," ujarnya di Kementerian BUMN, Senin (9/12/2019).

Beberapa tugas yang diberikan ke PLN antara lain mengejar proyek pembangkit listrik 35.000 megawatt dan mengurangi impor solar serta mengembangkan energi baru terbarukan. Menurut Arya, sosok Rudiantara dinilai paling tepat oleh tim penilai akhir (TPA), yang terdiri dari menteri teknis, menteri BUMN, dan Presiden Joko Widodo.

Data Pasar Modal

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan kondisi pasar modal Indonesia pada 2019 masih terjaga baik meskipun tensi politik sempat naik saat Pilpres 2019 dan ketegangan geopolitik terkait perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China.

"Performa pasar modal sangat terkait dengan laju perumbuhan ekonomi global dan domestik. Selama 2019, kita patut bersyukur, indikator kita masih menunjukan perkembangan terjaga, meskipun IHSG masih fluktuatif," kata Kepala Eksekutif Pasar Modal OJK Hoesen, di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (10/12/2019).

Hoesen menampilkan data-data, bahwa selama tahun berjalan 2019 nilai beli bersih (net buy) investor asing mencapai Rp 41,73 triliun. Selain itu, laporan kinerja emiten hingga kuartal III-2019 masih membukukan laba, tetapi secara tahunan pendapatan dan keuntungan masih menunjukan adanya perlambatan.

Selain itu, dalam kesempatan yang sama Hoesen menyampaikan pasar obligasi lebih baik 2019 dibandingkan 2018. Rata-rata yield obligasi pemerintah turun 97 bps.

Jumlah emiten baru tahun ini sudah tercatat sebanyak 52 perusahaan. Lalu 50 emiten baru saham dan sisanya emiten obligasi. Jumlah emisi saham dan obligasi sudah menddekati Rp 160 triliun naik 0,07 persen secara tahunan.

Sementara itu dari industri reksa dana, lanjut Hoesen, sempat diwarnai gejolak, tapi kinerja reksa dana masih tumbuh menggembirakan. Nilai Aset Bersih (NAB) hingga 5 Desember naik hampir 9 persen menjadi Rp 550 triliun.