Selamat! Astra Bagi Dividen Rp214 per Saham, Terbesar Sejak Tahun 2014

Bareksa • 25 Apr 2019

an image
Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Astra International Tbk yang berlangsung Kamis, 25 April 2019 menghasilkan beberapa keputusan. Salah satunya mengenai pembagian dividen tunai Rp8,67 triliun yang didalamnya termasuk dividen interim Rp2,43 triliun. (Issa Almawadi/Bareksa)

Astra juga menaikkan anggaran capex hingga Rp30 triliun

Bareksa.com – PT Astra International Tbk (ASII) resmi mendapatkan keputusan untuk membagikan dividen tunai tahun buku 2018 sebesar Rp214 per saham atau berjumlah Rp8,67 triliun. Dividen yang sesuai keputusan rapat umum pemegang saham tahunan (RUSPT) Astra tersebut termasuk didalamnya dividen interim Rp60 per saham yang telah dibayarkan pada 31 Oktober 2018.

Mengacu pada laporan keuangan akhir 2018, maka dividen tunai tersebut setara dengan 40 persen dari laba bersih Astra yang mencapai Rp21,67 triliun. Pada 2018 lalu, laba bersih Astra naik 14,96 persen dari periode akhir 2017 yang sebesar Rp18,85 triliun.

“Sisa dividen final Rp6,24 triliun akan dibayarkan pada 24 Mei 2019 kepada para pemegang saham yang tercatat per 8 Mei 2019,” tulis manajemen Astra, Kamis, 25 April 2019.

Pembagian dividen akan dilakukan dengan memerhatikan ketentuan-ketentuan pajak, Bursa Efek Indonesia, dan ketentuan pasar modal lain yang berlaku. Adapun sisa laba perseroan atau Rp13 triliun dibukukan sebagai laba ditahan.

Dividen Astra tahun buku 2018 tersebut ternyata menjadi yang tertinggi sejak tahun 2014. Saat itu, Astra membagikan total dividen Rp216 per saham yang terdiri dari dividen final Rp152 per saham dan dividen interim Rp64 per saham.

Dividen per Saham Astra sejak Tahun 2014

Sumber: Laporan tahunan perseroan

Setelah tahun 2014, dividen Astra terus mengalami penurunan menjadi Rp177 per saham pada 2015 dan Rp168 pada 2016. Adapun Astra mulai menaikkan dividen pada 2017 menjadi Rp185 seiring dengan laporan keuangannya yang semakin membaik.

Hal itu pun sesuai dengan kebijakan dividen Astra yakni tidak menerapkan kebijakan pembayaran dividen tertentu, dan dividen yang dibagikan mempertimbangkan kondisi keuangan, profitabilitas dan kebutuhan kas untuk menunjang kegiatan operasional dan investasi, serta keputusan RUPS Tahunan.

Lanjutkan Ekspansi

Di sisi lain, Presiden Direktur Astra Prijono Sugiarto menerangkan, pihaknya akan menyiapkan anggaran belanja modal alias capital expenditure (capex) hingga Rp30 triliun. Namun angka itu masih bisa berubah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan yang ada.

“Kalau ada peluang, kami akan tambah capex dan investasi,” imbuh Prijono.

Pada tahun 2018, aktivitas investasi Astra mencapai Rp29,7 triliun atau meningkat 99,33 persen dari aktivitas tahun 2017 Rp14,9 triliun. Peningkatan itu, terutama diakibatkan oleh akuisisi Agincourt Resources dan investasi di GOJEK serta belanja modal.

Dengan realisasi itu, pada akhir tahun 2018, saldo kas, setara kas dan cerukan Grup Astra sebesar Rp24,9 triliun, atau turun Rp6,6 triliun.

Prijono menambahkan, capex tahun ini akan mengalir ke beberapa lini bisnis perseroan. Di antaranya kebutuhan Agribisnis Rp1,7 triliun, untuk PT United Tractors Tbk (UNTR) berkisar Rp14 triliun hingga Rp15 triliun. “Sisanya untuk otomotif, pembangunan outlet, lalu ekspansi jalan tol, capex IT anak perusahaan serta tercakup kebutuhan investasi yang belum bisa kami sampaikan,” jelas Prijono.

(AM)