Mandiri Investasi : Bidik Dana Kelolaan Rp60 Triliun dengan Beragam Strategi Ini

Bareksa • 18 Feb 2019

an image
Endang Astharanti, Direktur PT Mandiri Manajemen Investasi, di Jakarta 2 Desember 2016.

Reksadana terproteksi masih mendominasi dana kelolaan Mandiri Investasi, atau sekitar 34 persen

Bareksa.com - PT. Mandiri Manajemen Investasi membukukan dana kelolaan (asset under management/AUM) Rp48,2 triliun pada 2018. Perusahaan berusaha mengejar AUM Rp60 triliun pada tahun ini. Hal ini didukung oleh sejumlah strategi dan rencana peluncuran produk baru.

Anak usaha PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) tersebut mengaku optimistis bisa mencapai target tersebut, ditopang oleh proyeksi pertumbuhan ekonomi yang positif dilihat dari sisi nilai tukar rupiah, pergerakan suku bunga acuan Bank Indonesia dan indikator makro lainnya.

Kurang lebih 12 tahun usia Mandiri Manajemen Investasi setelah sempat memisahkan diri dari PT Mandiri Sekuritas yang merupakan bagian dari grup Bank Mandiri.

Sejak saat itu, Mandiri Manajemen Investasi telah menjadi manajer investasi nasional terbesar yang berpengalaman di bidang pengelolaan portofolio investasi.

AUM Mandiri Manajemen Investasi


Sumber : Bareksa

Berdasarkan data Bareksa, Mandiri Manajemen Investasi memiliki 184 jenis produk dengan produk paling banyak atau 134 produk merupakan reksadana terproteksi. Produk lainnya, yakni 15 reksadana pendapatan tetap, 12 reksadana saham, 4 reksadana campuran, 10 reksadana pasar uang dan 1 produk indeks dan ETF.

Salah satu produk Mandiri Manajemen Investasi yang membukukan AUM terbesar adalah Mandiri Investa Pasar Uang dengan dana kelolaan Rp5,59 triliun pada Desember 2018. Reksadana ini bisa membukukan return 4,48 persen dalam 1 tahun dan 16,43 persen dalam 3 tahun terakhir.

NAB per Unit Mandiri Investa Pasar Uang

Sumber : Bareksa

Bagaimana strategi Mandiri Manajemen Investasi mengejar target dana kelolaan dan proyeksinya terhadap kondisi perekonomian hingga prospek kinerja pasar modal tahun ini? Berikut kutipan wawancara jurnalis Bareksa, Gita Rossiana, dengan Portofolio Manager Mandiri Manajemen Investasi, Aldo Perkasa dan Direktur Pemasaran dan Produk Mandiri Manajemen Investasi Endang Astharanti di Jakarta, pekan lalu :

Bagaimana Anda memandang kondisi ekonomi global dan dampaknya ke Indonesia?

Aldo : Kondisi ekonomi global saat ini memang menunjukkan perlambatan, ditandai oleh data perekonomian yang melambat di China dan Eropa. Namun itu sudah masuk benak investor dalam pengambilan keputusan.

Terlebih lagi, peristiwa yang terjadi di 2018, saat banyak arus modal mengalir ke Amerika Serikat akibat tax cut policy, dampaknya tidak akan terjadi lagi tahun ini. Growth ekonomi Amerika Serikat akan kembali normal di kisaran 2-2,5 persen.

Kemudian, kebijakan The Fed yang akan lebih dovish dengan tidak menaikkan suku bunga acuan sekencang tahun lalu. Hal ini tentunya akan berdampak positif ke pasar emerging yang tahun lalu sudah dihajar habis-habisan.

Sedangkan untuk Indonesia, meski tidak menjadi spot light investor asing, namun adanya potensi shift of expectation bisa membuat Indonesia mendapatkan manfaat dari hal tersebut. Hal ini dikarenakan imbal hasil obligasi di Indonesia cukup tinggi, sehingga dinilai tetap menarik bagi investor.

Namun memang dalam menangkap peluang tersebut, Indonesia masih harus menghadapi sejumlah tantangan global, antara lain pertumbuhan ekonomi dunia yang diprediksi melandai.

IMF memangkas proyeksi pertumbuhan PDB dua kali, dari dari 3,9 persen menjadi 3,7 persen dan akhirnya 3,5 persen di 2019.  Ditambah lagi belum meredanya ketegangan perang dagang AS-China yang akan berdampak bagi pasar keuangan global.

Bagaimana Anda memandang kondisi perekonomian Indonesia pada tahun 2019 ini?

Aldo : Di tahun 2019, Mandiri Investasi melihat tahun ini merupakan tahun yang penuh optimisme. Rilis data pertumbuhan PDB Indonesia menunjukkan perekonomian domestik mengalami akselerasi dari tingkat 5,07 persen yoy pada 2017 menjadi 5,17 persen yoy pada 2018.

Terjaganya daya beli konsumen di tengah meredanya tekanan eksternal akan menjadi faktor pendukung bagi pertumbuhan ekonomi domestik, khususnya pada kuartal pertama tahun ini. Di sisi lain, stabilnya perekonomian negara berkembang dan kebijakan Bank Sentral AS diharapkan lebih akomodatif tahun ini, sehingga akan memberikan sentimen positif bagi kelas aset negara berkembang.

Bagaimana realisasi kinerja Mandiri Manajemen Investasi pada 2018?

Endang : Hingga akhir 2018, Mandiri Investasi berhasil mencapai AUM Rp48,2 triliun. Sementara untuk total dana kelolaan, termasuk Reksa Dana Penyertaan Terbatas dan Pengelolaan Dana Nasabah Individu di akhir tahun 2018, Mandiri Investasi mencatatkan total dana kelolaan Rp53,4 triliun.

Dengan pencapaian AUM Reksa Dana, termasuk KIK EBA dan RDPT tersebut, market share Mandiri Investasi di industri reksa dana mencapai 9,1 persen dan berhasil menjaga posisi nomor satu di peringkat AUM industri reksadana nasional.

Dari sisi komposisi AUM reksadana per asset class, komposisi AUM reksadana Mandiri Investasi per Desember 2018 masih di dominasi oleh reksadana terproteksi dengan kontribusi AUM mencapai 34 persen. Diikuti oleh reksadana saham dan reksadana pendapatan tetap yang masing-masing berkontribusi 18 persen dan 14 persen.

Di tahun 2018 Mandiri Investasi juga telah meluncurkan beragam Investasi Alternatif yaitu Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK-EBA) Mandiri GIAA01 dengan nilai total Rp2 triliun, yang merupakan instrumen sekuritisasi aset keuangan pertama di Indonesia yang menjadikan hak pendapatan atas penjualan tiket pesawat dengan rute Jeddah dan Madinah sebagai underlying.

Selain itu, Mandiri Investasi juga menerbitkan Reksa Dana Pendapatan Tetap Mandiri Infrastruktur Ekuitas (RDPT MIET) dengan nilai total Rp1,97 Triliun untuk pembiayaan infrastruktur jalan tol Trans Jawa.

Tidak hanya itu, Mandiri Investasi juga melakukan terobosan dengan menyediakan akses investasi ke offshore market yang dilakukan melalui kerjasama dengan Aset Manajemen dan Private Bank Global yaitu Lombard Odier.

Bagaimana dengan target dan strategi Mandiri Investasi tahun ini?

Endang : AUM tahun lalu ditutup di kisaran Rp53 triliun. Sampai saat ini, sudah Rp54 triliun. Mudah-mudahan kami bisa tembus ke Rp60 triliun.

Sekarang, kontributor utama kami masih dari reksadana terproteksi dan reksadana saham. Konstribusinya dari reksadana saham 28 persen, pasar uang 19 persen dan pendapatan tetap 14 persen.

Untuk ke depan, kami akan lebih banyak ke reksadana open end. Reksadana terproteksi tetap kami luncurkan, namun tidak akan semasif tahun lalu. Kami akan lebih banyak mendorong reksadana saham dan pendapatan tetap.

Kemudian, kami juga akan menambah produk alternatif investasi untuk diversifikasi dan juga karena permintaan masih ada. Sehingga akan kami tawarkan KIK EBA dan RDPT. Kira-kira kuartal II 2019 akan kami keluarkan, sekarang masih tahap pengembangan.

Bisa dijelaskan produk sekuritisasi yang dirilis?

Endang : Sekuritisasi yang akan kami keluarkan ada dua jenis, yakni sekuritisasi keuangan (KIK-EBA) dan infrastruktur (KIK-Infrastruktur) dan juga ada Dinfra.

Untuk KIK-EBA, aset dasarnya adalah tagihan dari KPR BTN, namun sebenarnya saat ini masih belum bisa disosialisasikan ke investor.

Sebelumnya, perusahaan juga sudah pernah melakukan sekuritisasi seperti dalam proyek jalan tol bersama Jasa Marga dan underlying pendapatan tiket bersama Garuda Indonesia.

Untuk yang KIK-EBA ini, sudah ada jadwal dan pendapatan, semuanya sudah jelas. Jadi, kami melihat hal itu sesuatu yang menarik untuk disekuritisasi. Targetnya untuk KIK-EBA ini bisa di atas Rp 1 triliun, harapannya bisa hingga Rp 2 triliun, tapi juga lihat kondisi.

Sedangkan untuk yang infrastruktur, kami berharap underlying-nya masih jalan tol. Peluang untuk Jasa Marga masih terbuka atau yang lain.

Sementara untuk RDPT tahap II Jasa Marga tahun lalu ditutup di Rp1,9 triliun, tapi sebenarnya masih dibuka peluang kalau ada yang mau investasi lagi untuk tahap III karena kapasitasnya bisa sampai Rp 3 triliun.

Sedangkan untuk yang Dinfra, masih melihat kondisi karena agak beda dengan rencana sebelumnya. Tadinya mau mixed, ekuitas dan surat utang, tapi sekarang masih dikaji lagi, mungkin masuk dengan ekuitas saja. Untuk peluangnya bisa sekitar Rp700 miliar.

Bagaimana dengan target MMI di industri reksadana?

Endang : Kami ingin mempertahankan posisi pertama di industri reksadana dengan meluncurkan produk baru sama dan mengoptimalkan nasabah existing. Kami juga akan ekstensifikasi produk yang ada dan secara kontinu mengeluarkan alternatif investment.

Bagaimana dengan tren rata-rata yield di MMI?

Endang: Kalau yang equity fund rata-rata performanya cukup bagus, ada yang 2-4 persen. Untuk yang fund agak agresif bisa sampai 11 persen-an.

Tahun ini, untuk IHSG kami optimis di level 7.200, harapannya akhir tahun yield untuk equity bisa sampai 10-12 persen. Untuk bond 10 years, kami proyeksi 7,6 persen, namun ada potensi upsize karena sebelumnya bisa di 8 persen.

Untuk produk syariah apakah ada strategi khusus?

Endang : Yang syariah kami sebenarnya lebih fokus kepada digital market. Kami kerja sama dengan para agen penjual reksadana untuk masukkan produk syariah. Kami lebih menyasar segmen ritel seperti anak-anak muda.

(AM)

***

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.