Sentimen Penggerak Pasar Pekan Ini, Damai Perdagangan sampai Rilis PDB China

Bareksa • 21 Jan 2019

an image
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (kanan tengah) dan Presiden China Xi Jinping (paling kiri) saat makan malam bersama usai pertemuan pemimpin-pemimpin negara G-20 di Buenos Aires, Argentina (01/12/2018). (akun Twitter @WhiteHouse)

Bank Sentral Eropa dan Jepang diproyeksi akan pertahankan suku bunga

Bareksa.com - Pembicaraan perdagangan masih menjadi topik utama di pasar keuangan dalam sepekan mendatang, karena investor melihat perkembangan lebih lanjut seputar perang dagang yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat (AS) dengan China.

Berita utama terkait damai perdagangan antara keduanya cukup positif pekan lalu, termasuk AS yang mempertimbangkan untuk mengembalikan tarif dan tawaran lain dari China untuk meningkatkan impor produk AS.

Kemudian dalam waktu dekat, laporan ekonomi akan cenderung terbatas mengingat adanya penutupan pemerintah (government shutdown). Rilis data barang tahan lama yang biasanya dijadwalkan secara rutin tidak akan tersedia, tetapi akan ada data penjualan rumah pada hari Selasa. Selain itu, Pasar keuangan AS akan tetap ditutup pada hari Senin untuk peringatan Hari Martin Luther King Jr.

Sementara dari kawasan Asia, China akan menjadi negara pertama yang melaporkan data pertumbuhan ekonomi kuartal keempat dengan menerbitkan angka Produk Domestik Bruto (PDB) pekan ini, di tengah peringatan dari analis bahwa perang dagang yang sedang berlangsung dengan AS kemungkinan akan menekan kegiatan ekonomi.

Berikutnya terkait dengan berita bank sentral, pengumuman kebijakan moneter dari Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) dan Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ) akan menjadi agenda, meskipun sangat tidak mungkin ada hal yang signifikan di dalamnya.

Selain itu, berita utama politik juga akan menjadi fokus ketika investor menyaksikan perkembangan seputar penutupan pemerintah AS, yang sudah memasuki hari ke-29, dan rencana Brexit Perdana Menteri Inggris Theresa May.

Untuk lebih rinci, berikut beberapa peristiwa penting yang berpotensi memengaruhi pasar pada pekan ini yang dilansir dari Investing.

1. Optimisme Perdagangan AS-China

Pasar akan terus mengikuti perkembangan perang dagang yang sedang berlangsung antara AS dengan China untuk melihat apakah ada berita lagi yang terwujud di tengah tanda-tanda terbaru bahwa dua negara dengan ekonomi terbesar dunia tersebut sedang bekerja untuk menyelesaikan perselisihan mereka.

Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Sabtu bahwa ada kemajuan menuju kesepakatan perdagangan dengan China, tetapi sang Presiden membantah bahwa ia sedang mempertimbangkan untuk menaikkan tarif impor China.

Sementara di sisi lain, Wakil Perdana Menteri China Liu He akan mengunjungi AS pada 30 dan 31 Januari mendatang untuk putaran negosiasi perdagangan berikutnya dengan Washington.

Hal tersebut menyusul negosiasi tingkat wakil menteri yang diadakan di Beijing pekan lalu untuk menyelesaikan perselisihan dagang antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia, di mana pemerintahan Trump dijadwalkan akan meningkatkan tarif barang-barang China senilai US$200 miliar pada 2 Maret mendatang.

2. PDB Kuartal Keempat China

Dari Asia, China dijadwalkan akan merilis angka PDB kuartal keempat pada Senin pagi waktu setempat.

Laporan tersebut diperkirakan menunjukkan bahwa negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut tumbuh 6,4 persen secara tahunan (year on year/YoY), melambat dari laju kuartal sebelumnya yang 6,5 persen YoY.

Data terbaru telah mulai menunjukkan bahwa ekonomi Negeri Panda mungkin mulai kehilangan kekuatan, yang semakin meningkatkan kekhawatiran tentang potensi kejatuhan dari perang dagang AS-China yang sedang berlangsung.

Sekadar mengingatkan, sejauh ini AS telah mengenakan tarif lebih dari US$500 miliar terhadap impor produk China, yang juga telah dibalas oleh China, setelah beberapa putaran negosiasi gagal menyelesaikan keluhan AS atas kebijakan industri China dan kurangnya akses pasar di China.

3. Pertemuan Bank Sentral Eropa

Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) hampir pasti akan mempertahankan suku bunga pada rekor terendah saat ini, saat pertemuan kebijakan moneter pada pukul 12:45 pada hari Kamis waktu setempat.

Presiden ECB Mario Draghi akan mengadakan konferensi pers yang dicermati secara cermat sekitar 45 menit setelah pengumuman suku bunga, karena investor mencari petunjuk lebih lanjut ketika bank sentral berencana untuk mulai menaikkan suku bunganya.

Setelah mengakhiri program pembelian aset pada pertemuan sebelumnya di bulan Desember, pasar mengharapkan ECB akan mulai mengikuti kenaikan suku bunga pada kuartal ketiga 2019.

Serangkaian data ekonomi yang lemah menunjukkan pertumbuhan telah melambat, sehingga menyebabkan para pelaku pasar untuk menunda kembali harapan mereka terkait kenaikan suku bunga menjadi ke kuartal keempat tahun ini.

Pertemuan Bank Sentral Jepang

Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ) secara luas juga diperkirakan akan mempertahankan kebijakan moneter dengan tidak berubah pada tinjauan suku bunga selama dua hari yang berakhir pada hari Rabu, mempertahankan janji untuk memantau suku bunga jangka pendek pada level -0,1 persen dan imbal hasil obligasi jangka panjang sekitar 0 persen.

Pertemuan tersebut juga akan menghasilkan laporan triwulanan yang menganalisis ekonomi Negeri Matahari Terbit yang akan mencakup pertumbuhan baru dan perkiraan inflasi hingga tahun fiskal yang berakhir pada Maret 2021.

Gubernur BoJ Haruhiko Kuroda akan mengadakan konferensi pers sesudahnya untuk membahas keputusan tersebut.

Menurut sumber yang akrab dengan pemikiran bank sentral, BoJ diperkirakan akan memangkas perkiraan inflasi untuk mencerminkan penurunan harga minyak baru-baru ini, tetapi mempertahankan penilaian optimisnya bahwa ekonomi Jepang akan terus berkembang secara moderat.

(KA01/hm)