Berita Hari Ini : Beban Utang Pemerintah Bertambah, WIKA Akuisisi Entitas Energi

Bareksa • 12 Sep 2018

an image
Pengunjung mengamati maket konstruksi BUMN WIKA saat Indonesia Bussiness and Development Expo 2016 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

WSKT kejar kontrak baru Rp5 triliun, ANTM fokus hilirisasi nikel, OJK beri izin Dinfra Rp1,36 triliun

Bareksa.com - Berikut ini adalah intisari perkembangan penting di isu ekonomi, pasar modal, dan aksi korporasi, yang disarikan dari media dan laporan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Rabu, 12 September 2018 :

Beban Utang

Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menembus level Rp15.000 per dolar Amerika Serikat di pasar spot, membuat was-was pemerintah. Sebab, pelemahan kurs rupiah berpotensi meningkatkan beban pemerintah, karena sebagian utang berdenominasi valuta asing.

Data Kementerian Keuangan (Kemkeu) menunjukkan, utang pemerintah hingga akhir Juli 2018 mencapai Rp4.253,02 triliun, tumbuh 12,51 persen dibanding setahun sebelumnya.

Dari jumlah itu, sebanyak Rp1.804,42 triliun atau 42,42 persen merupakan utang valas yang sebagian besar berdenominasi dolar AS. Dari jumlah utang itu, yang jatuh tempo pada tahun ini mencapai Rp395,97 triliun. Rinciannya sebanyak Rp113,06 triliun berdenominasi valas. Utang valas jatuh tempo itu masih menggunakan kurs Rp13.400 per dolar AS.

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA)

Sayap bisnis WIKA berkembang semakin lebar. Emiten pelat merah ini menjelma menjadi perusahaan investasi, salah satunya di sektor ketenagalistrikan.

WIKA bakal mengakuisisi PT Ingako Energy, perusahaan yang mendapatkan izin prinsip dan lokasi untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Peusangan-4 di Provinsi Aceh. Pembangkit ini memiliki kapasitas produksi 120 megawatt (MW).

WIKA tidak sendirian. Hyundai Engineering & Construction Co Ltd, Korea South-East Power Corporation, serta Igis Asset Management juga bakal terlibat. WIKA akan mengakuisisi maksimal 25 persen saham Ingako. Sementara, Hyundai dan Korea Power masing-masing bakal mengakuisisi 30 persen dan 25 persen.

Saham selebihnya, 20 persen, akan dikuasai oleh Igis. Sayang, manajemen belum mengungkapkan nilai akuisisi tersebut. Yang jelas, WIKA bukan hanya sebagai investor, melainkan juga kontraktor, dengan nilai kontrak US$361 juta. Lingkup pengerjaannya berupa pengerjaan engineering, procurement & construction (EPC), dengan tenggat waktu pengerjaan sekitar 60 bulan.

"Akumulasi hingga Agustus 2018, kami sudah mengumpulkan kontrak baru Rp25,5 triliun," ujar Direktur Utama WIKA Tumiyana seperti dikutip Kontan.

PT Waskita Karya (Persero) Tbk

Perseroan masih mengejar kontrak baru untuk proyek lini bisnis gedung dan bangunan sekitar Rp5 triliun hingga akhir tahun ini. Seperti dikutip Bisnis Indonesia, Direktur Operasi I Waskita Didit Oemar Prihadi mengatakan target nilai kontrak baru untuk lini bisnis gedung Rp6 triliun sampai akhir 2018.

Per awal September perseroan baru memperoleh kontrak Rp1 triliun. Kendati masih jauh dari target, Didit optimistis BUMN itu tetap dapat merealisasikan target mengingat banyak tender proyek yang diikuti yang menumpuk pada akhir tahun.

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)

Perseroan fokus ekspansi ke hilirisasi nikel. Fokus ANTM ini mengacu pada produksi feronikel perusahaan yang meningkat. Seperti dikutip Kontan, Direktur Utama ANTM Arie Prabowo Ariotedjo mengungkapkan selain mengembangkan pabrik Pomalaa, ANTM saat ini sedang membangun smelter di Halmahera timur berkapasitas 13.500 ton per tahun.

"Di Halmahera timur setelah fase pertama, akan dilanjutkan dengan fase kedua yang kapasitasnya sama. Jadi nanti tahun 2022, ANTM punya kapasitas produksi nikel totalnya 27.000 ton," kata Arie.

Selain itu, ada pula rencana pembangunan smelter nikel dengan kapasitas 40.000 ton dan 50.000 ton di Pulau Gag. Saat ini rencana pembangunan smelter dalam tahap due diligence oleh tiga calon strategic partner.

Dinfra

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah memberikan izin penerbitan tiga instrumen pendanaan berbentuk dana investasi infrastruktur (Dinfra) dengan total nilai Rp1,36 triliun.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hoesen, mengatakan ada tiga produk Dinfra yang telah diterbitkan. Ketiganya diterbitkan oleh perusahaan manajer investasi yang sama, yakni PT Bowsprit Asset Management.

“Dinfra sudah ada tiga, itu dari Bowsprit semuanya. Yang jelas ini sudah terbit,” kata Hoesen seperti dikutip Bisnis Indonesia.

Berdasarkan informasi yang tercantum dalam situs resmi Bowsprit Asset Management, perusahaan manajer investasi Grup Lippo itu meracik tiga produk Dinfra dengan nilai dan jenis aset yang berbeda-beda.

Pertama, Dinfra Pengembangan Kota Mandiri yang menyediakan pendanaan senilai Rp750 miliar untuk proyek-proyek infrastruktur yang berlokasi di kawasan Jawa Barat.

Kedua, Dinfra Bowsprit Aoyama Commercial Fund yang menyediakan pendanaan senilai Rp330 miliar untuk proyek-proyek infrastruktur yang berlokasi di dua kawasan, yakni Jawa Barat dan Jawa Timur.

Ketiga, Dinfra Bowsprit Infrastruktur Terpadu 1 yang menyediakan pembiayaan senilai Rp280 miliar. Pendanaan ini ditujukan untuk proyek-proyek infrastruktur yang berlokasi di kawasan Jawa Barat.

PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS)

Pengembang kawasan industri terpadu Kota Deltamas ini mencatatkan marketing sales lahan industri seluas 21,7 hektare sepanjang Januari—Juni 2018, capaian tertinggi di pangsa pasar penjualan lahan industri.

Emiten dengan kode saham DMAS itu memiliki keunggulan kompetitif sebagai kawasan terpadu modern berbasis industri dengan fasilitas dan infrastruktur yang komprehensif.

“Hal ini mengukuhkan kembali posisi DMAS sebagai pemimpin di sektor pengembang kawasan industri dalam beberapa tahun terakhir,” kata Direktur Puradelta Les tari Ton dy Suwanto dalam keterangan resmi.

Pada semester I 2018, DMAS meraih total marketing sales Rp561 miliar dari penjualan lahan industri, lahan komersial, maupun produk hunian. Pencapaian itu sekitar 45 persen dari target marketing sales DMAS pada tahun ini Rp1,25 triliun.

(AM)