Morgan Stanley Sebut Tiga Faktor Ini Dukung Pemulihan Ekonomi Indonesia

Bareksa • 07 Aug 2018

an image
Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek konstruksi gedung properti bertingkat di Jakarta. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Morgan Stanley memprediksi pertumbuhan PDB Indonesia 5,3 persen pada 2018 dan 5,4 persen pada 2019

Bareksa.com - Morgan Stanley memproyeksikan pemulihan ekonomi Indonesia akan terjadi secara bertahap dan proyeksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) untuk 2018 dan 2019 masing-masing ada di 5,3 persen dan 5,4 persen berkat dukungan beberapa faktor. Meski demikian, tetap perlu diwaspadai sejumlah risiko yang bisa menekan pencapaian tersebut.

Ekonom Morgan Stanley Deyi Tan menjelaskan beberapa faktor tersebut yakni pertama, momentum ekspor berkelanjutan untuk mendukung pemanfaatan kapasitas yang dapat meningkatkan belanja modal dan memperluas peluang kerja. Selain itu, peningkatan daya saing Indonesia di segmen nonkomoditas juga membantu meletakkan dasar untuk momentum dalam belanja modal non-komoditas. 

"Dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya, prospek pertumbuhan Indonesia tidak terlalu terkena dampak dari ketegangan perdagangan yang meningkat karena basis ekspor yang lebih rendah dan risiko konsentrasi pasar ekspor yang lebih rendah," kata Deyi Tan, Selasa, 7 Agustus 2018.

Kedua, Indonesia sedang menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) pada April 2019. Secara historis, kebijakan fiskal cenderung lebih mudah ketika petahana mencalonkan kembali, seiring dengan meningkatnya konsumsi pribadi.

Ketiga, Makrostabilitas membaik. Ekonomi Indonesia lebih mampu menangani peningkatan yield US Treasury untuk tenor 10 tahun dibandingkan sebelumnya.

Saat ini, PDB Indonesia pada semester I-2018 berada di angka 5,2 persen dibandingkan periode sama tahun lalu (secara year on year/yoy) dan Morgan Stanley memperkirakan ekonomi Indonesia akan mengalami pemulihan pertumbuhan secara bertahap hingga 5,3 persen secara yoy untuk 2018 dan 5,4 persen secara yoy untuk 2019.

"Adapun nilai PDB di kuartal II-2018 berada di posisi 5,3 persen secara yoy dan ini melebihi ekspektasi Morgan Stanley yaitu di 5,2 persen secara yoy dan 5,1 persen secara yoy," ungkap Deyi Tan.

Sementara itu, Ekonom Morgan Stanley Zac Su menambahkan, Morgan Stanley menilai akselerasi ini didorong oleh permintaan domestik dan eksternal. Secara khusus, permintaan domestik naik 6,4 persen yoy di kuartal II-2018 atau jauh di bawah konsumsi pribadi dan konsumsi publik.

"Sedangkan momentum belanja modal bruto tetap stabil di 8,4 persen yoy di kuartal II-2018. Sementara itu, permintaan eksternal juga meningkat menjadi 7,7 persen yoy tetapi lonjakan impor yang lebih kuat membuat net external balance berkontribusi negatif terhadap PDB daripada sebelumnya," ungkap Zac Su.

Capaian Tertinggi

Di sisi lain, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Agusman mengatakan, perekonomian Indonesia meningkat cukup tinggi dan tercermin pada PDB triwulan II-2018 yang tercatat tumbuh 5,27 persen (yoy) atau merupakan capaian tertinggi sejak 2013. 

"Kenaikan pertumbuhan ekonomi tersebut terutama didorong oleh permintaan domestik dari konsumsi swasta dan pemerintah," kata Agusman.

Sementara itu, investasi tetap tumbuh tinggi, meskipun melambat sejalan dengan berkurangnya hari kerja di Juni 2018. Meningkatnya pertumbuhan permintaan domestik kemudian berdampak pada tingginya pertumbuhan impor, di tengah kinerja ekspor yang relatif terbatas.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi swasta baik dari rumah tangga maupun Lembaga Nonprofit melayani Rumah Tangga (LNPRT) mencatatkan pertumbuhan tinggi. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga tercatat 5,14 persen (yoy) atau tertinggi sejak 2014, didukung oleh perbaikan pendapatan dan keyakinan konsumen serta terjaganya inflasi. 

Konsumsi LNPRT tumbuh 8,71 persen (yoy) ditopang oleh penyelenggaraan Pilkada serentak yang meliputi sebagian besar wilayah Jawa. Belanja pemerintah juga membaik dengan tumbuh 5,26 persen (yoy) pada triwulan II-2018 atau lebih tinggi dari triwulan sebelumnya, sehingga memberikan dorongan terhadap kuatnya permintaan domestik. 

Investasi Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tetap tumbuh tinggi sebesar 5,87 persen (yoy), meskipun melambat dari triwulan sebelumnya. Kuatnya permintaan domestik berdampak pada tingginya pertumbuhan impor pada triwulan II-2018 khususnya di komponen barang modal dan bahan baku. 

"Impor tumbuh 15,17 persen (yoy) sedangkan ekspor tumbuh sebesar 7,70 persen (yoy)," ungkapnya.

Adapun Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2018 tetap kuat didorong permintaan domestik. Investasi tetap baik seiring dengan berlanjutnya pembangunan infrastruktur sehingga mendorong perbaikan konsumsi swasta. Selain itu, belanja pemerintah yang tetap kuat dan stabilitas makroekonomi yang terjaga akan mendukung momentum perbaikan ekonomi. 

"Penguatan struktur lapangan usaha yang terus dilakukan melalui kebijakan reformasi struktural akan semakin memantapkan akselerasi perbaikan ekonomi ke depan," pungkasnya. (K03/hm)