Suku Bunga Naik Lagi, Mengapa Saham Bank Besar Tetap Tahan Banting?

Bareksa • 09 Jul 2018

an image
Sejumlah masyarakat menarik uang tunai di mesin ATM bank, Jakarta. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Sektor keuangan menjadi leading IHSG dalam beberapa hari terakhir, khususnya saham empat bank berkapitalisasi besar

Bareksa.com - Indeks Harga Saham Gabungan mengakhiri perdagangan sesi I hari ini di area positif. Senin (9/7) pukul 12.00 WIB, IHSG menguat 64,61 poin atau 1,13 persen menjadi 5.759.

Sembilan sektor menguat dan hanya sektor perdagangan yang masih turun 0,04 persen. Sektor keuangan mencatat kenaikan tertinggi, yakni 1,9 persen.

Mengapa Saham-saham Bank Besar Tahan Banting?

Sektor keuangan selalu menjadi sektor leading IHSG dalam beberapa hari terakhir, khususnya empat saham bank dengan kapitalisasi besar yakni BBCA, BBNI, BBRI, dan BMRI.

Leading di sini maksudnya adalah, sektor ini menjadi pemberat atau penopang IHSG dalam beberapa hari terakhir. Padahal suku bunga acuan Bank Indonesia naik 100bps dalam dua bulan menjadi 5,25 persen.

Meski Suku Bunga Naik, Rasio CASA Bank Besar Tinggi

Rasio CASA merupakan kepanjangan dari Current Account and Saving Account (CASA) atau kemampuan bank menghimpun dana simpanan yang murah.

Ini adalah rasio yang membandingkan total giro dan tabungan terhadap total dana pihak ketiga (DPK). Semakin tinggi proporsi dana murah (CASA), semakin baik untuk efisiensi bank tersebut.

Perlu diketahui, ada tiga komponen dalam komposisi DPK, yakni : tabungan, giro, dan deposito. Bank mempunyai kewajiban untuk membayar bunga pada pemegang deposito dalam kurun waktu tertentu.

Pada saat suku bunga naik, maka bank berpotensi menaikkan pembayaran bunga kepada pihak pemilik deposito, yang dikenal sebagai istilah cost of fund.

Nah, semakin tinggi cost of fund (COF) tentu akan semakin membebani kinerja keuangan perusahaan.

Rasio CASA per Mei 2018

Sumber : Perusahaan, diolah Bareksa

BBCA menjadi bank dengan tingkat rasio CASA paling tinggi dibanding yang lain. Per Mei 2018, rasio CASA BBCA lebih dari 75 persen, di saat rata-rata industri hanya berada di kisaran 55 -65 persen.

Dengan kata lain, kenaikan suku bunga kemarin, tidak terlalu mempengaruhi bank-bank besar, sebab cost of fund mereka di atas 50 persen dan relatif tinggi dibanding bank kecil lain yang mempunyai rasio CASA lebih rendah.

Tabungan dan giro di empat bank besar mempunyai rasio lebih dari 50 persen. Artinya, mayoritas DPK di bank-bank besar tersebut berasal dari tabungan dan giro.

Bank-bank itu tidak mempunyai kewajiban untuk membayar bunga seperti deposito, sehingga tidak membuat beban keuangan perusahaan membengkak di tengah adanya kenaikan suku bunga acuan baru-baru ini.

(AM)