Berita Hari Ini : Cina - AS Sepakat Damai, Ekonomi 2019 Ditarget 5,4-5,9 Persen

Bareksa • 21 May 2018

an image
Presiden Amerika Serikat Donald J Trump (www.whitehouse.gov)

Aryaputra Teguharta somasi BFIN, MYOR perbesar ekspor, Divestasi Freeport rampung Juni 2018

Bareksa.com - Berikut ini adalah intisari perkembangan penting di isu ekonomi, pasar modal dan aksi korporasi, yang disarikan dari media dan laporan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Senin, 21 Mei 2018 :

Cina – AS Berdamai

Cina memutuskan untuk meningkatkan pembelian barang dan jasa dari Amerika Serikat. Hal itu disampaikan Gedung Putih seiring pengumuman dari utusan Beijing di Washington, bahwa perang dagang antara dua ekonomi terbesar di dunia berhasil dihindari.

Berdasarkan laporan Xinhua News Agency yang dikutip Bloomberg, Ahad, 20 Mei 2018, Wakil PM Cina Liu He sebagai utusan khusus Presiden China Xi Jinping ke Washington menyatakan, pembicaraan dengan pejabat AS termasuk Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin, Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross, dan Kepala Perwakilan Perdagangan AS (USTR) Robert Lighthizer.

Pembicaraan itu berakhir dengan keputusan untuk tidak akan memicu terjadinya perang dagang. “Kedua belah pihak setuju untuk menghentikan ‘pengenaan tarif’ terhadap satu sama lain,” tulis Xinhua mengutip pernyatan Liu.

Pertumbuhan Ekonomi 2019

Pemerintah yakin tekanan terhadap perekonomian yang terjadi tahun ini akan berakhir pada tahun depan. Dengan perkiraan tersebut, pemerintah berani mematok pertumbuhan ekonomi tahun 2019 sebesar 5,4 - 5,8 persen.

Angka itu lebih tinggi dari target APBN 2018. Kisaran target pertumbuhan ekonomi tersebut termuat dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2019 yang disampaikan pemerintah ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Jumat 18 Mei 2018.

Mengutip Kontan, Dalam dokumen KEM dan PPKF 2019, pemerintah juga menargetkan kurs rupiah Rp13.700 - 14.000 per dolar Amerika Serikat (AS), harga minyak mentah Indonesia (ICP) US$60 - US$ 70 per barel.

Target kurs 2019 tersebut memperhatikan kurs rupiah yang menurut data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Jumat sebesar Rp14.107 per dolar AS.

PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN)

Sengketa kepemilikan saham PT Aryaputra Teguharta pada PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) semakin pelik. PT Aryaputra Teguharta mengklaim masih memiliki hak atas saham 32,32 persen di perusahaan pembiayaan tersebut.

Untuk mempertahankannya, PT Aryaputra Teguharta akhirnya melayangkan somasi terhadap perusahaan pembiayaan itu, setelah emiten pembiayaan dengan kode saham BFIN menolak bertemu dan berdiskusi terkait dengan pengalihan saham 32,32 persen.

Mengutip Bisnis Indonesia, kuasa hukum PT Aryaputra Teguharta (APT) Pheo M. Hutabarat mengatakan kliennya mempunyai iktikad baik untuk bertemu dengan direksi BFIN karena menganggap masih memiliki hak atas saham 32,32 persen di perusahaan tersebut.

“Karena ditolak dan PT BFI membuat pernyataan tidak benar, maka kami meminta PT BFI memasang pengumuman ke harian surat kabar bahwa PT APT adalah pemilik dan pemegang saham sebesar 32,32 persen di PT BFI sesuai dengan putusan PK [Peninjauan Kembali] No. 240/2006,” kata Pheo.

PT Mayora Indah Tbk (MYOR)

Emiten dengan kode saham MYOR ini senantiasa mencari cara untuk memperbesar penjualan ekspor. Kali ini, target produsen Beng Beng dan Kopiko tersebut adalah memperdalam pasar di India dan negara - negara kawasan Afrika. Khusus India, Mayora Indah mengandalkan produk mi instan, permen dan biskuit. Namun mengutip Kontan, perseroan tak membeberkan nilai atau porsi penjualan dari India.

Yang pasti, produk Mayora Indah yang di pasar India merupakan gabungan hasil ekspor dari Indonesia dan produksi negeri tersebut. "Kami mempunyai fasilitas manufaktur di sana, jadi ada yang sebagian ekspor tetapi kebanyakan sudah diproduksi di sana," ujar Johan Muliawan, Direktur PT Mayora Indah Tbk.

Divestasi Freeport

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berjanji menyelesaikan seluruh proses pembelian 40 persen hak partisipasi atau participating interest (PI) Rio Tinto dan 5,6 persen saham Freeport McMoran di Freeport Indonesia pada Juni 2018. Padahal, sebelumnya, Presiden Jokowi ingin divestasi 51 persen itu rampung pada April 2018.

Mengutip Kontan, negosiasi antara PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) dan Rio Tinto sendiri sangat alot. Terutama soal permintaan Inalum untuk mendapat diskon 20 persen dari harga US$3,3 miliar hak partisipasi 40 persen Rio Tinto.

Namun belakangan kabarnya Rio Tinto menolak permintaan diskon Inalum itu. Menteri BUMN Rini Soemarno menargetkan Inalum sebagai kepala holding industri pertambangan bisa menyelesaikan proses divestasi saham Freeport Indonesia.

"Kami ngomongnya bukan April 2018. Kami bicarakan pokoknya kalau bisa finalnya itu sebelum akhir Juni," tegas Rini.

Investasi Asuransi Umum

Kondisi pasar modal yang fluktuatif sepanjang kuartal I 2018 tidak berpengaruh pada hasil investasi asuransi umum. Industri ini tetap mencatatkan pertumbuhan hasil investasi dua digit.

Hingga akhir Maret 2018, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat sektor industri ini membukukan hasil investasi Rp1,04 triliun. Angka ini naik 18,8 persen dibanding periode sama tahun lalu Rp876,1 miliar.

Mengutip Kontan, Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dody AS Dalimunthe mengatakan, penyebabnya karena porsi investasi asuransi umum di instrumen berbasis ekuitas seperti saham terbilang kecil. Sehingga, eksposur dari volatilitas pasar modal tidaklah besar.

Pelaku usaha memilih menempatkan dana di surat berharga negara (SBN) yang memberikan imbal hasil lebih besar ketimbang deposito. Apalagi, tren bunga deposito dalam tren menurun pada kuartal I 2018. (AM)